31 Guru Madrasah Dijadikan Staf

31 guru madrasah dijadikan staf

ilustrasi
Ilustrasi

Belum Lulus Sarjana

PURWOKERTO – Sebanyak 31 guru madrasah harus distafkan. Pasalnya hingga akhir 2015, 31 guru tidak menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Satu (S1). Hal itu merupakan tindak lanjut dari PP Nomor 74 Tahun 2008 dan Surat Edaran Dirjen Pendis No. SE/DJ.I/TP.00/IX/2015 tentang kualifikasi akademik S1/D-IV bagi guru.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas Bambang Sucipto melalui Kasubag Tata Usaha, Akhsin Aedi mengatakan, tahun ini seluruh guru yang belum menempuh pendidikan hingga S-1 harus mengajukan surat pernyataan pengunduran diri dari jabatan guru.

“Mereka mau tidak mau harus bersedia untuk ditempatkan di unit-unit kerja Kemenag, baik di lingkungan kantor Kemenag maupun di madrasah negeri,” katanya.

Sebelum mengambil kebijakan memindahtugaskan, lanjut dia, Kemenag sudah beberapa kali melakukan rapat koordinasi. Pada awal dilakukan pendataan akhir Desember lalu, jumlah guru madrasah yang belum menempuh pendidikan S1 sebanyak 131 orang.

Namun setelah dilakukan verifikasi faktual, ternyata jumlahnya berkurang.  Ada 58 guru yang sudah mendapatkan izin belajar dan sudah selesai kuliah, tetapi belum menerima izin penyesuaian ijazah.

Selain itu, 22 guru pada saat pendataan, izin belajarnya belum turun. “Setelah didata tinggal 31 guru yang belum atau tidak mau menempuh pendidikan S-1. Mereka sebagian besar merupakan guru madrasah mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI),” tuturnya.

”Lantaran tidak memenuhi syarat menjadi guru, mereka dipindahtugaskan ke sejumlah unit kerja. Mulai di Kantor Kemenag, KUA hingga ke madrasah negeri. Sebenarnya sebagian dari mereka usianya masih terbilang produktif,” lanjutnya.

Dikatakan, banyak alasan yang diberikan guru. ”Ada yang alasannya tidak punya biaya untuk kuliah, namun ada juga yang memang tidak punya niat lagi untuk kuliah karena sudah tidak sanggup berpikir tentang materi kuliah,” terangnya. (ida/sus)

Sumber: