40 Pasangan Mesum Terjaring Razia

40 pasangan mesum terjaring razia

foto aTempat Prostitusi Sumbang Dibongkar

PURWOKERTO – Sebanyak 40 pasangan mesum terjaring razia yang dilakukan Satpol PP Banyumas selama tiga hari terakhir. Lokasi razia dilakukan di sekitar wilayah Kecamatan Rawalo, Sumpiuh dan Ajibarang. Kebanyakan pasangan terjaring di tempat umum seperti hotel, penginapan atau losmen.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Sugeng Amin mengatakan, sudah melakukan pembinaan terhadap pasangan tersebut, termasuk pendataan. Namun jika mereka mengulangi, pihaknya tidak segan untuk melakukan penindakan pro yustisia.

“Operasi dilakukan dalam rangka operasi pekat pasangan bukan pasutri. Itu didasarkan oleh laporan masyarakat yang mengaku cukup resah dengan adanya tindakan tersebut,” katanya.

Dikatakan, operasi yang dimulai sejak Rabu (10/2), mendapati 12 pasangan di wilayah Rawalo-Kalibacin. Lalu di hari berikutnya, 12 pasangan terjaring di wilayah Kecamatan Sumpiuh. Sedangkan Jumat (12/2), sebanyak 16 pasangan terjaring di wilayah Kecamatan Ajibarang.

“Usianya beragam mulai dari 16 tahun sampai 74 tahun. Ada juga yang mengaku sebagai pemandu lagu. Beberapa juga kedapatan sedang membawa minuman beralkohol,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk pasangan yang terjaring sudah dilakukan pembinaan dan membuat surat pernyataan di atas materai. Sedangkan untuk pasangan di bawah umur yang terjaring, Satpol PP sudah memanggil orang tua kedua pasangan untuk dikembalikan.

Amin menjelaskan, upaya tersebut dilakukan untuk menekan perilaku menyimpang masyarakat, khususnya prostitusi. Melihat banyaknya laporan yang masuk, Satpol PP akan terus melakukan operasi secara berkala termasuk beberapa operasi pekat lain seperti PGOT dan minuman beralkohol.

“Ini juga salah satu upaya penegakkan Perda tentang Penanggulangan Penyakit Masyarakat,” tegasnya.

Sebelumnya pada Jumat (12/2) siang, Muspika Sumbang bersama masyarakat menutup tempat prostitusi terselubung di Dusun Lembuayu, Desa Susukan. Pemilik bangunan, Natim mendeklarasikan penolakan terhadap segala bentuk prostitusi yang ada di wilayahnya dan berjanji tidak akan menyediakan tempat serupa.

Dia juga menandatangani surat pernyataan yang disaksikan masyarakat di balai desa. Surat pernyataan berisi permintaan maaf kepada masyarakat, kemudian menyatakan tidak akan mengulangi lagi dan membongkar bangunan.

Sementara itu Kades Susukan, Dwi Rintasari mengatakan, pihaknya akan memberikan bantuan modal kepada pemilik rumah. Pasalnya praktik prostitusi merupakan satu-satunya sumber penghasilan Natim dan istrinya, Nartem.

“Tadi Muspika telah memberikan bantuan modal sebanyak Rp 1,4 juta kepada Pak Natim. Pemerintah desa juga akan mengupayakan bantuan modal usaha. Selama ini pemilik tidak memiliki mata pencaharian, kecuali dari tempat prostitusi,” jelasnya. (bay/sus)

Sumber: