Ada Laporan PMI dari Penyalur Ilegal di Inggris, KBRI Bentuk Satgasus

Jakarta

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London menerima informasi adanya pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Inggris dari perusahaan penyalur yang ilegal. KBRI London menindaklanjuti informasi tersebut untuk melindungi pekerja migran dari Indonesia.

“KBRI London mengikuti dengan seksama pemberitaan sejumlah media asing dan tanah air terkait laporan adanya pekerja migran Indonesia (PMI) musiman di beberapa perkebunan di wilayah Kent, Inggris, yang disebutkan berangkat ke Inggris dengan ‘jasa penyalur tenaga kerja tidak resmi' (unlicensed foreign brokers) di Indonesia. Laporan sebut bahwa para PMI menemui kesulitan termasuk hak-hak finansial mereka pada saat bekerja di Inggris,” tulis KBRI London dalam keterangan yang diterima detikcom, Rabu (17/8/2022).

KBRI ingin agar hak-hak PMI di Inggris terpenuhi. Mereka berkoordinasi dengan beberapa pihak, dan membentuk satuan tugas khusus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Menanggapi laporan ini dan khususnya guna memastikan terpenuhinya hak-hak para PMI di Inggris, KBRI London telah lakukan langkah terpadu bersama Pusat (Kemenlu, Kemenaker, dan BP2MI), antara lain meninjau langsung dan berdialog dengan para PMI di perkebunan, kunjungan dan berdiskusi dengan pemilik serta manajemen, membentuk satgas khusus KBRI serta mengawal pemulangan para PMI pada saat berakhirnya masa kontrak,” katanya.

KBRI menyampaikan akan terus berkomunikasi dengan pemerintah Inggris. Menurut KBRI, Inggris memang menjadi salah satu negara tujuan PMI.

“KBRI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Inggris dan pihak terkait lainnya untuk memastikan upaya perlindungan hak-hak para PMI dimaksud. KBRI juga terus memelihara komunikasi dengan para PMI dan memastikan ketersediaan Hotline Kekonsuleran seluas-luasnya apabila terdapat inquiry atau distress call yang masuk dari PMI,” katanya.

“Inggris saat ini adalah salah satu negara tujuan penempatan PMI per 31 Maret 2022. Saat ini tercatat 1.274 PMI bekerja di sektor perkebunan Inggris,” sambungnya.

(aik/aik)