Anggi Nuritasari, Juara Dua Lomba Penelitian Gagasan Ilmiah Tertulis Tingkat Jateng

anggi nuritasari, juara dua lomba penelitian gagasan ilmiah tertulis tingkat jateng

Munculkan Ide Manfaatkan Feses Jadi Obat Pencernaan

Mungkin ini baru gagasan ilmiah, namun Anggi Nuritasari memiliki gagasan yang mungkin tidak pernah dipikirkan orang lain. Ya, mahasiswi Farmasi UMP ini memiliki gagasan pemanfaatan feses sebagai obat pencernaan.

HENDRIK EFRIYADI, Purwokerto

Anggi sepertinya tidak terlalu suka dengan yang mainstream, dia ingin membuat sesuatu yang beda. Keinginan tersebut diwujudkan dalam gagasan ilmiah yang diikutsertakan dalam lomba penelitian gagasan ilmiah tertulis.

ingin beda : anggi selalu memunculkan sesuatu yang beda dan jarang dipikirkan orang lain - hendrik efriyadi - radarmas

Ide yang cukup ekstrim pun muncul. Dia memiliki gagasan untuk memanfaatkan limbah manusia menjadi obat pencernaan. Menurut mahasiswi semester 6 ini, penelitian yang tergolong langka ini terinsipirasi saat dia melihat semakin banyak berbagai limbah yang tidak dimanfaatkan. Salah satunya limbah manusia.

“Selain membahayakan, jika tidak terkontrol maka limbah ini akan semakin menumpuk jika tidak dimanfaatkan,” tuturnya.

Menurutnya, feses mengandung Entero Hemoragik Escerisiacoli Sub tipe 0157. Dari kandungan tersebut, dapat menyembuhkan penyakit pencernaan seperti diare berdarah, dehidrasi, untuk transplantasi dan masih banyak penyakit pencernaan lainnya.

“Saya coba melakukan penelitian tersebut, dan ternyata gagasan ilmiah itu berhasil menjadi juara 2 di lomba penelitian gagasan ilmiah tertulis kategori mahasiswa berprestasi tingkat Jawa Tengah,” terangnya.

Meskipun gagasannya diakui dengan predikat juara 2, namun Anggi belum mengetahui kelanjutan dari penelitiannya karena belum ada kejelasan terkait pembiayaan. Pasalnya, lomba yang diadakan Dikti hanya sebatas gagasan ilmiah. “Hingga saat ini belum jelas kelanjutannya,” katanya.

Sebelumnya, Anggi juga sudah melakukan penelitian pemanfaatan bekas kulit ulat Hongkong sebagai pengawet untuk daging segar yang dibiayai oleh Dikti. Anggi menyebutkan, ulat Hongkong hampir setiap minggu berganti dan mubazir jika tidak dimanfaatkan.

Menurut Anggi, bekas kulit hewan mengandung kitosan. Kandungan tersebut bisa berfungsi untuk menekan pertumbuhan mikroba yang mengakibatkan daging segar cepat membusuk. “Jika daging segar dimasukkan ke larutan kitosan, pertumbuhan mikroba akan lebih lambat. Artinya, pembusukan yang dialami daging akan lebih lama,” ungkap wanita bergigi gingsul ini.

Selain “sibuk” di laboratorium, Anggi juga menjadi salah satu mahasiswa yang cukup mumpuni di bidang akademik. Bahkan dengan prestasi yang didapatnya di bidang akademik, Anggi berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri.

Dia pernah diundang ke Malaysia dan Singapura, serta menjadi salah satu mahasiswa asal Indonesia yang mengikuti pertukaran pelajar ke Universitas Mahidol, Thailand. “Saya sering berdiskusi dengan teman-teman di organisasi, dosen dan keluarga. Diskusi ini menurut saya, menjadi salah satu faktor saya bisa meraih beberapa prestasi,” terangnya. (*/sus)

Sumber: