Awalnya Dicibir, Kini Jadi Panutan

awalnya dicibir, kini jadi panutan

Kegigihan Sri Aningsih Manfaatkan Pekarangan Rumah

Sayuran ternyata tidak hanya bisa ditanam di daerah dingin. Melalui tangan dingin Sri Aningsih, kubis bisa tumbuh di pekarangan rumahnya yang berada di Purwojati.

BAYU INDRA KUSUMA, Purwokerto

Sayuran segar saat ini sudah semakin sulit didapat. Selain harganya yang terus melambung, kondisi sayur juga mudah layu. Berawal dari situ, Sri mencoba memenuhi kebutuhan sayur keluarga dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan mulai menanam sayuran.

Tidak hanya itu, serbuan impor bahan-bahan kebutuhan pokok juga cukup disayangkan Sri. Padahal produk yang diimpor kebanyakan berupa sayur-sayuran dan bumbu dapur. Ia mengaku tak habis pikir, barang-barang yang seharusnya juga dapat tumbuh di pekarangan rumah bahkan sampai harus didatangkan dari luar negeri.

“Saat ini harga-harga sudah sangat memprihatinkan, sehingga memang perlu terobosan untuk menyiasatinya. Lalu kita coba menanam sayur-sayuran di pekarangan rumah,” ujarnya.

Bersama anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri Kecamatan Purwojati, Sri akhirnya berupaya mengajak warga untuk mengoptimalkan pekarangan rumah masing-masing. Salah satunya dengan menanami pekarangan rumah dengan berbagai jenis sayur.

“Salah satu jenis sayur yang saya budidayakan di pekarangan rumah adalah kubis,” tutur ibu dua anak itu.

Saat pertama kali mencoba membudidayakan kubis di pekarangan rumahnya, bukan dukungan yang didapat dari masyarakat, namun justru cibiran dan sebagainya. Mengingat tanaman kubis umumnya hanya dapat tumbuh subur di dataran tinggi.

Meski demikian, seperti tidak peduli dengan hal itu, dia terus melanjutkan sampai akhirnya waktu panen datang dan mendapat hasil yang memuaskan.

“Selama kita punya keinginan dan kita mau berusaha tanpa menyerah, pasti ada jalan. Awalnya banyak yang bilang mustahil menanam kubis di sini, tapi ternyata saya bisa panen juga,” kata Sekretaris Persatuan Wanita Tani Banyumas itu.

Panen kubis pertama Sri dinilai sukses, karena mampu menghasilkan beberapa kubis dengan berat masing-masing sekitar 2 kilogram.

Keberhasilan yang diraihnya tidak dinikmati sendiri. Sri yang saat ini menjadi Ketua KWT Dewi Sri juga menyalurkan ilmunya kepada masyarakat. Saat ini, hampir seluruh rumah yang ada di wilayahnya sudah memanfaatkan pekarangan rumahnya.

Dijelaskan Sri, untuk memanfaatkan pekarangan rumah diperlukan pengolahan tanah yang baik terlebih dahulu. Menurutnya, jika pengolahan tanah sudah baik maka hasilnya juga akan lebih baik lagi.

“Tidak hanya menanam, masyarakat khususnya ibu-ibu di KWT saat ini juga sudah bisa membuat pupuk sendiri dengan bahan-bahan organik dari limbah rumah tangga, dan lainnya,” katanya.

Perempuan kelahiran Karangpucung Cilacap 16 Agustus 1970 itu mengatakan, bila setiap pekarangan rumah dioptimalkan dengan menanam sayur, seharusnya impor sayur tidak perlu terjadi. Bahkan keluarga akan lebih berdaulat dalam bidang pangan, karena meski harga bahan pangan naik, mereka yang memiliki tanaman pangan, tidak akan terpengaruh.

“Jangan hanya menanam tanaman yang biasa dikonsumsi saja, kalau bisa bahkan menanam tanaman pangan alternatif agar asupan pangan kita semakin beragam. Sehingga asupan gizi yang didapat tubuh juga semakin beragam,” imbuhnya. (*/sus)

Sumber: