Bamsoet Puji Disertasi Romo Benny Susetyo soal Politik dan Toleransi

Jakarta

Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mengapresiasi keberhasilan Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo yang meraih gelar Doktor bidang Ilmu Komunikasi dengan yudisium ‘sangat memuaskan’ dari Universitas Sahid Jakarta. Dalam meraih gelarnya, Romo Benny Susetyo mengangkat tema dengan kasus Meliana di tahun 2016 disertasinya.

“Mengangkat tema penelitian tentang ‘Konstelasi Kekuasaan Dibalik Komunikasi Presidensial Dalam Isu Intoleransi (Analisis Wacana Kritis Pernyataan Presiden Joko Widodo dalam Kasus Meliana Tahun 2016)’, Romo Benny menangkap bahwa Presiden Joko Widodo menggunakan strategi politic of exception untuk mengangkat masalah Meliana di Tanjungbalai pada tahun 2016 lalu pada kondisi yang disebut sebagai state of emergency (keadaan darurat),” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (24/8/2022).

Usai menghadiri sidang Terbuka Promosi Doktor Benny Susetyo, Bamsoet menjelaskan dalam penelitian disertasinya, Romo Benny juga mengungkapkan bahwa dalam kasus Meliana telah terjadi pertarungan wacana dan juga ideologi yang menghadapkan isu toleransi dan keberagaman. Hal ini bertolak belakang dengan mayoritas yang dominan mendesak wacana penegakan hukum terhadap orang atau kelompok yang dianggap menistakan simbol-simbol yang disakralkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dalam penelitiannya tersebut, Romo Benny menyimpulkan, bahwa dalam melakukan komunikasi politik menghadapi kasus Meliana yang dituduh menistakan islam karena mengeluhkan volume suara azan yang dianggapnya terlalu keras, Presiden Joko Widodo selalu berusaha merangkul berbagai kelompok yang saling bertentangan,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menekankan, dengan disertasi Romo Benny dapat dilihat bahwa penggunaan politik identitas dalam konteks apapun tidak akan membawa manfaat yang besar bagi bangsa. Hal tersebut justru sebaliknya, malah akan mendatangkan perpecahan.

“Besarnya jumlah suku dan agama, menjadi kekuatan sekaligus titik rentan bagi bangsa Indonesia. Karena itu, sangat penting bagi setiap orang untuk mengedepankan sikap tenggang rasa dan saling menghargai satu sama lain. Jika Pun terjadi kesalahpahaman, tidak selamanya harus diselesaikan melalui jalur hukum yang kadang kala justru malah melahirkan masalah baru. Namun ada kalanya setiap permasalahan bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan mengedepankan musyawarah dan saling pengertian,” tutup Bamsoet.

Sebagai informasi, Sidang Terbuka Promosi Doktor Benny Susetyo turut dihadiri oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Irjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Staf Khusus Presiden RI Bidang Kebudayaan Sukardi Rinakit, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia ke-13 Andrinof Chaniago, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Hendardi, serta pakar komunikasi politik Effendi Ghazali.

Simak juga ‘Buya Syafii di Mata Jokowi Hingga JK, Negarawan Penyuara Toleransi’:

[Gambas:Video 20detik]

(fhs/ega)