Brigadir J dan Dunia Kecil vs Dunia Besar

Jakarta

Cerita kurcaci melawan raksasa senantiasa menarik untuk diceritakan berulangkali dan menjadi legenda. Misalnya saja, Gulliver's Travels, Daud vs Goliat, semut lawan gajah, dan sebagainya, dan seterusnya. Secara umum, kita berpihak kepada yang lemah. Mengapa? Karena diri kita sendiri merasa lemah dibandingkan para raksasa di sekeliling kita.

Kehidupan binatang selalu menarik untuk diamati. Film dokumenter tentang binatang, terutama di YouTube, mendulang jutaan sampai puluhan juta penonton. Saya pernah menyaksikan dua episode kisah pertarungan dua ekor binatang yang tidak seimbang.

Pertama, belalang sembah melawan kadal. Seekor kadal kelaparan memburu seekor belalang sembah sampai ke atas pohon. Saat hendak dicaplok, tanpa diduga, secara refleks belalang sembah mencengkeram mulut kadal dengan kakinya yang berduri. Sang predator kaget dan tidak mampu mengatupkan mulutnya. Secara perlahan tapi pasti, belalang lembah justru menggigit sudut bibir kadal itu sampai berdarah. Akhir kisahnya mengagetkan. Sang pemangsa justru menjadi mangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, seekor belalang lebah bertemu seekor semut merah. Dengan kaki belakangnya yang kuat, semut itu didepaknya. Ternyata tindakan itu justru menggali lubang kuburnya sendiri. Dalam waktu singkat puluhan semut merah merangsek dan menggigiti belalang lembah di semua anggota tubuhnya. Tidak lama kemudian, ratusan semut datang mengerubutinya. “Sang Raksasa” pun mati dimutilasi.

Kegilaan Netizen +62

Warganet +62 dikenal gila dalam membela yang dianggap lemah tapi benar. Mereka akan ramai-ramai menghujat lawannya, mendukung si kecil sampai membuat tagar perlawanan yang dalam tempo singkat diikuti ribuan bahkan puluhan ribu ‘semut-semut' kecil bernyali raksasa.

Berapa banyak kasus yang coba dipetieskan atau dikubur dengan peristiwa besar lainnya sebagai pengalihan kasus yang akhirnya masuk ke ranah hukum karena serbuan semut-semut merah yang penuh amarah. Jika kasusnya sudah begitu besar dan viral, bahkan membongkar jejak digital, apalagi kepala negara meresponsnya, penegak hukum mau tidak mau, suka tidak suka, menggeber kasusnya.

Garis Tabu Bernama Police Line

Pada malam sebelum menulis kolom ini, seorang mahasiswi yang kuliah di UK bertanya –lebih tepatnya meneruskan pertanyaan temannya dari Belfast– mengapa di Taman Eden ada Pohon Pengetahuan Baik dan Buruk kalau akhirnya justru membuat manusia pertama jatuh dalam dosa karena memakan buahnya. Bukankah Tuhan Mahatahu kalau manusia bisa jatuh dalam dosa? Bukankah seharusnya tidak usah ada pohon yang buahnya mencobai Hawa?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan sederhana. Namun, karena sudah larut malam, saya mencoba menanggapinya dengan jawaban yang sederhana, yang tentu saja tidak apple to apple dengan rumitnya permasalahannya. Pohon yang dimakan buahnya oleh Hawa itu sederhananya seperti garis polisi. Siapa pun selain yang berwenang tidak boleh menerobos garis itu.

Lebih sederhana lagi, jika saya bertamu di rumah seseorang, meskipun orang itu baik dan ramah, saya tentu menjaga diri agar tidak masuk ke kamarnya, tidur di sana atau membuka kulkas, mengaduk-aduk isinya dan memakan apa saja yang ada di dalamnya. Pohon itu menjadi pemisah antara Pencipta dan ciptaan. Tanah liat tidak bisa menyuruh penjunan untuk membentuknya menjadi barang-barang tembikar sesuai keinginannya. Penjunan memiliki hak prerogatif terhadap tanah liat itu.

Mungkin karena sudah larut malam, mahasiswi itu puas dengan jawaban saya dan berjanji akan menindaklanjuti jika ada pertanyaan lain yang masih menggantung. Tentu saja, jawaban paling benar dan akurat berasal dari Sang Pencipta itu sendiri.

Nah, jika seseorang meneboros batas itu, masalah akan muncul.

Pelosi yang Bikin Keki

Kedatangan Nancy Pelosi, Ketua Dewan Perwakilan AS ke Taiwan seperti membangunkan naga yang sedang tidur. Sebenarnya, naga itu tidak pernah tidur. Meskipun dalam posisi berbaring matanya tetap awas mengamati siapa saja yang berpotensi mencuri atau merusak propertinya. Meskipun saya percaya Pelosi tahu hal ini, tetapi niatnya yang sudah bulat untuk menyambangi sekutunya ini membuatnya abai terhadap ancaman sang naga.

Terbukti sang naga bukan hanya bangun tetapi menyemburkan api kemarahannya di enam titik wilayah yang berdekatan dengan Taiwan. Simulasi perang itu menjadi semacam kode keras bahwa jika Taiwan berani memproklamasikan kemerdekaan, latihan perang itu menjadi perang sesungguhnya. Semburan api sang naga tidak lagi diarahkan ke laut atau padang pasir melainkan ke objek-objek vital Taiwan dan kepulauan Formosa pun membara. Bukankah hal yang sama masih terjadi di Ukraina karena Beruang Merah mengamuk?

Omnivore's Paradox

Pertanyaan, “Mau ke mana?” hari-hari ini sering dijawab, “Wisata kuliner.” Jawaban yang dulu tidak pernah saya dengar ketika masih kecil bahkan remaja. Keingintahuan orang untuk melakukan food exploration sebenarnya merupakan kebutuhan mendasar manusia akan makanan. Manusia pertama yang hanya makan buah dan sayur semakin lama semakin lapar untuk mencoba hal-hal baru. Seorang sahabat dari Filipina menyuruh saya mencoba balut, yaitu telur yang hampir menjadi seekor anak ayam atau bebek. Menjijikkan bagi saya bisa menjadi makanan yang sangat lezat bagi teman saya.

Gairah manusia untuk bereksperimen dan mengeksplorasi makanan menimbulkan apa yang oleh Rozin (1976) dan Fischler (1980) disebut Omnivore's Paradox yaitu tarik ulur antara keinginan untuk mencoba makanan-minuman baru dan kengeriannya kalau rasanya tidak cocok di lidahnya. Ternyata keinginan untuk mencoba dan kalau enak menguasai, akhirnya merembet ke hubungan antarpribadi sampai antarnegara, sehingga melanggar teritorial baik dalam ranah privat maupun publik.

Kasus Brigadir Joshua dan provokasi Pelosi pada akhirnya bergantung kepada seberapa serius orang-orang di atas sana mengambil keputusan. Dalam kasus Brigadir Joshua, apakah warga +62 sebagai whistleblower, Bharada E yang berminat menjadi justice collaborator sampai sang eksekutor pengadilan bisa terus menabuh genderangnya dan hakim menjatuhkan palu pengadilan?

Dalam kasus Taiwan, apakah polisi dunia masih mengakui One China Policy dan menjadikan rules-based international order sebagai panglima atau malah merasa sok jago dan mengompori Taiwan untuk merdeka? Apakah Negeri Tirai Bambu merasa tindakan Amerika sudah menerobos pagar rumah tetangga dan Taiwan berani mendirikan rumah di halaman istana leluhur? Jawaban itulah yang menentukan apakah dunia kecil dan dunia besar menjadi damai atau makin terpuruk dalam perang berkepanjangan.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

(mmu/mmu)