Diplomasi Puisi Indonesia-Tunisia

Jakarta

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis menggelar “Diplomasi Puisi Indonesia-Tunisia” di Wisma Dubes RI. Kegiatan ini menghadirkan Jamal D. Rahman, penyair asal Indonesia dan beberapa penyair asal Tunisia, di antaranya Anis Syusyan, Muhammad Ghazi, Izzuddin Syabi, Hindun Trabelsi, Rasyid Arfawi, dan Mukhtar Amrawi. Tak disangka, diplomasi puisi mendapatkan respons luar biasa dari publik, baik di seantero Tunisia maupun Indonesia.

Pada malam itu, saya memberikan kejutan, membaca salah satu puisi Jamal D. Rahman, Huruf-Huruf Cahaya: Indonesia-Tunisia, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Puisi ini mengisahkan perihal persahabatan Sukarno dan Habib Bourgaiba, yang kemudian menjadi persahabatan Indonesia-Tunisia, dari dulu hingga sekarang.

Pada bulan pertama di Tunisia, saya diundang oleh ketua kebudayaan Bizerte untuk menghadiri kegiatan para penyair di jantung kota Tunis, Jalan Habib Bourgaiba. Salah satu ciri jantung kota Tunis adalah ruang publik terbuka, yang tidak pernah sepi dari kegiatan-kegiatan kebudayaan. Salah satunya pembacaan puisi yang ramai dihadiri oleh para pengunjung. Saat itu, saya diminta memberikan sambutan perihal kebudayaan di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejak saat itu, saya mulai memahami Tunisia sebagai salah satu negara di kawasan Timur-Tengah yang mempunyai perhatian pada kebudayaan. Tunisia mempunyai Kementerian Kebudayaan, yang secara khusus memayungi seluruh kegiatan kebudayaan. Bahkan, salah satu gedung yang paling megah di Tunisia, yaitu gedung kebudayaan, termasuk teater dan pusat-pusat kebudayaan, yang tersedia di seantero kota para kekasih Tuhan.

Saya juga sudah melakukan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Tunisia, Hayah Qattat Qarmazi untuk menjajaki kerjasama dalam bidang kebudayaan. Pada intinya, kebudayaan mendapatkan perhatian besar dari pemerintah untuk memperkokoh solidaritas kebangsaan dan kemanusiaan. Dan istimewanya, seluruh kegiatan kebudayaan yang saya ikuti selalu ramai diikuti oleh warga Tunisia. Mereka terlihat bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Saya jadi memahami bahwa moderasi yang menjadi wajah Tunisia tidak lain karena peran kebudayaan. Saya menyampaikan kepada Menteri Kebudayaan Tunisia bahwa salah satu yang mampu menopang persatuan dan persaudaraan Indonesia juga dari kebudayaan. Saya mengutip pidato Bung Karno, Pancasila 1 Juni 1945, perihal ketuhanan yang berkebudayaan.

Hubungan antaragama di Indonesia berjalan sangat baik, toleran, serta saling menghargai dan menghormati, tidak egois dan tidak fanatik, karena beragama dalam konteks kebudayaan. Bahkan, Bung Karno juga mempunyai gagasan besar tentang Trisakti, yaitu kedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Atas dasar itu, saya menjadikan diplomasi kebudayaan sebagai salah satu instrumen untuk memperkokoh persahabatan Indonesia-Tunisia. Saya mengenalkan tari-tarian, musik, film, pemikiran, kuliner, dan puisi. Diplomasi puisi yang digelar KBRI Tunis merupakan instrumen untuk mendekatkan para penyair, sehingga persahabatan Indonesia-Tunisia juga terjalin di antara penyair.

Sebenarnya ada penyair Tunisia yang sudah populer di Indonesia, yaitu Anis Syusyan. Konon, Gus Dur dan Gus Mus yang mengenalkan puisi-puisi Anis Syusyan ke Tanah Air. Yang istimewa dari penyair ini, saat membacakan puisi-puisinya, ia tidak pernah membawa catatan, dan dapat menghafal seluruh puisinya yang indah dan menggugah.

Salah satu judul puisi yang populer di Tanah Air, yaitu Salamun ‘Alaikum. Ia menggugah kita semua untuk benar-benar menjaga kebhinekaan dengan membumikan perdamaian. Berikut petikan puisinya:

Kita masyarakat bodoh/ kita menerima kebodohan/ kita masyarakat bodoh/ kebodohan menjadikan kita berada dalam kubangan perselisihan/ Kita selalu menolak untuk menyelami kedalaman/ Hendaklah kita, mulai hari ini mencoba menyelami untuk memeluk jiwa-jiwa kita/ untuk menyelami indahnya perbedaan.

Saat berbincang-bincang santai dengan Anis Syusyan, ia bertutur, “Puisi-puisi saya dikenal di Indonesia, bahkan sejumlah mahasiswa menghubungi saya untuk menulis skripsi, tesis, dan disertasi, tentu saya sangat senang. Buku puisi saya terbaru akan terbit akhir bulan ini. Saya ingin puisi-puisi saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.”

Saya memandang, sebenarnya puisi-puisi dari Tunisia sudah mulai dikenal di Tanah Air. Namun, masalahnya puisi-puisi dari Indonesia belum dikenal di Tunisia. Sebab itu, mengenalkan puisi-puisi Jamal D. Rahman, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab merupakan langkah awal untuk memperkuat diplomasi Indonesia-Tunisia melalui puisi. Walhasil, puisi Huruf-Huruf Cahaya mampu menggugah kesadaran para penyair dan publik di Tunisia.

Berikut bait-baik puisi Jamal D. Rahman: Aku datang, duhai Tunisia/ Aku datang/ Membawa wangi kedua tangan/ Habib Bourgaiba/ Yang tercium kekal dalam pelukan Bung Karno.

Salah satu stasiun TV terbesar di Tunisia, al-Wathaniyyah, mengundang saya dan Jamal D. Rahman dalam sebuah dialog tentang “Diplomasi Puisi Indonesia-Tunisia”. Kami berdua membacakan puisi Huruf-Huruf Cahaya dalam dua bahasa, Indonesia dan Arab. Alhamdulillah respons dari warga Tunisia sangat positif. Bahkan di antara mereka menyatakan bahwa jika kebudayaan digunakan sebagai instrumen diplomasi, maka akan memberikan dampak yang sangat luas bagi hubungan bilateral bagi kedua negara.

Diplomasi puisi telah menjelma sebagai sabda persahabatan di antara kedua negara. Ada jejak historis yang sangat kuat dalam hubungan Indonesia-Tunisia. Saya menggunakan kebudayaan sebagai instrumen untuk mengakarkan kesadaran kolektif di antara kedua warga-bangsa. Saya memulai dari puisi, dan selanjutnya akan disusul melalui penerjemahan novel, film, dan karya-karya besar para pemikir dan ulama Tunisia.

Diplomasi puisi telah membentangkan jalan untuk mempererat dan memperkokoh hubungan bilateral di antara kedua negara. Kuncinya adalah sikap saling menghormati (mutual respect) dan saling membawa kemaslahatan bagi kedua belah pihak (mutual interest). Pelan tapi pasti, jejak yang sudah dipancangkan Sukarno dan Habib Bourgaiba terus membahana di Tunisia. Saya hanya merajut dan menyegarkannya kembali agar Indonesia berperan dalam taman sarinya kemanusiaan.

Zuhairi Misrawi Duta Besar RI untuk Tunisia

(mmu/mmu)