Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Kultur Kerja Bantu Perkuat Layanan JKN

Jakarta

Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menjelaskan kunci sukses BPJS Kesehatan dalam mengelola program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang andal selama 8 tahun sejak diluncurkan. Menurutnya, hal tersebut tidak lepas dari faktor budaya kerja BPJS Kesehatan yang ikut dibentuk oleh tata nilai organisasi.

Ghufron mengatakan budaya kerja tersebut menjadi tuntunan perilaku bagi seluruh Duta BPJS Kesehatan dalam menjalankan strategi organisasi yang telah ditetapkan.

“Pencapaian tujuan organisasi di tengah situasi dunia yang dinamis tidak terlepas dari peran budaya organisasi. Sepanjang saya berkarier di berbagai institusi, budaya organisasi BPJS Kesehatan yang saya rasakan paling baik. Mulai dari hal sederhana disiplin waktu memulai rapat, inovasi yang terus bertumbuh di masa pandemi, hingga budaya kolaborasi yang terus dibangun,” ujar Ghufron dalam keterangan tertulis, Kamis (21/7/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Bedah Buku ‘Beranda Budaya Kolase Pengukuhan Kultur Organisasi BPJS Kesehatan’ yang ditulis oleh Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan, Andi Afdal, Rabu (20/7) kemarin.

Sementara itu, Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan Andi Afdal mengungkapkan BPJS Kesehatan menerapkan empat nilai utama bagi Duta BPJS Kesehatan. Yakni Integritas, Kolaborasi, Pelayanan Prima dan Inovatif, atau yang disingkat menjadi INISIATIF. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat mendorong seluruh jajaran BPJS Kesehatan dalam memberikan layanan yang terbaik bagi peserta JKN.

“BPJS Kesehatan menempatkan SDM sebagai salah satu aspek paling strategis yang mendukung pencapaian target dan keberhasilan organisasi serta menjaga keberlangsungan organisasi hingga masa yang akan datang. Tentu penguatan budaya organisasi yang ditanamkan kepada pegawai bukan hanya menjadi jargon atau simbol semata. Namun, juga harus menjadi dasar bagi setiap Duta BPJS Kesehatan dalam berpikir, bersikap dan berperilaku yang pada akhirnya dapat dilihat bahkan dirasakan oleh orang lain yang ada di luar BPJS Kesehatan,” ujar Afdal.

Afdal berharap, melalui buku yang diterbitkannya, seluruh pegawai dapat memahami makna dari budaya INISIATIF, sehingga dapat diimplementasikan dalam memberikan layanan bagi peserta maupun mitra kerja BPJS Kesehatan. Sementara bagi masyarakat yang membaca, diharapkan buku ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pelajaran dari budaya organisasi yang dibentuk sejak 54 tahun lalu.

Di sisi lain, Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional Muttaqien menilai pegawai BPJS Kesehatan sebagai mata tombak dalam layanan JKN. Dia pun menceritakan salah satu pengalamannya menyaksikan pegawai BPJS Kesehatan dalam membantu peserta JKN.

“Saya pernah mendapat cerita, ada peserta yang dibantu oleh pegawai BPJS Kesehatan secara tidak sengaja bertemu di jalan, mengenali dari seragam yang dipakai dan pegawai tersebut membantu mengecek status kepesertaan. Hal sederhana tersebut mungkin bagi pegawai BPJS Kesehatan merupakan hal yang biasa saja, namun bagi peserta merupakan hal yang luar biasa,” kata Muttaqien.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu penanggap Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Hubungan dan Kemitraan Luar Negeri Kementerian Sosial Faozan Amar mengungkapkan budaya organisasi yang dapat nyata diaplikasikan di antaranya yaitu budaya kolaborasi, khususnya dengan pemangku kepentingan seperti Kementerian Sosial.

“Misalnya kolaborasi dalam hal sosialisasi program JKN. Pengalaman Kemensos dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi oleh penduduk kurang mampu di Indonesia adalah sikap proaktif dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Ini dapat diimplementasikan dengan baik untuk pengelolaan Program JKN khususnya untuk menyelesaikan permasalahan kepesertaan PBI,” ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Iu Rusliana, yang menjadi hadir sebagai pembahas buku, menjelaskan budaya organisasi terdiri dari artefak (seperti simbol, tampilan fisik, seragam, gedung dll), expose value atau nilai-nilai yang disampaikan (semangat fun and meaningful, tagline Melayani dengan Hati, Mengabdi untuk Negeri), dan underline assumption (budaya bawaan individu yang ada di dalam organisasi). Untuk itu, Ia mendorong agar manajemen BPJS Kesehatan mampu menyelaraskan dimensi-dimensi tersebut demi mencapai tujuan organisasi.

“Upaya pembudayaan yang secara sistematis sudah dilakukan BPJS Kesehatan saya kira harus terus dilakukan. Apalagi INISIATIF merupakan expose value yang sudah sangat baik,” katanya.

Lihat juga video ‘Dirut BPJS TK Kena Tindakan Korektif Ombudsman Terkait Maladministrasi’:

[Gambas:Video 20detik]

(akn/ega)