Dua Tahun Langganan Endemis DBD

dua tahun langganan endemis dbd

ilustrasi
Ilustrasi

Di 17 Desa/Kelurahan

PURWOKERTO – Sebanyak 17 desa atau kelurahan di Kabupaten Banyumas menjadi langganan wilayah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD). Tujuh belas desa/kelurahan tersebut dua tahun berturut-turut tercatat masuk menjadi endemis DBD.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Banyumas, Dwi Mulyanto SKM MSi mengatakan bahwa 17 desa tersebut telah menjadi wilayah endemis DBD sejak tahun 2014.

Desa tersebut yakni Desa Kedungwringin Kecamatan Patikraja, Desa Ajibarang Kecamatan Ajibarang, Desa Pangebatan Kecamatan Karanglewas, Kelurahan Rejasari Kecamatan Purwokerto Barat, Kelurahan Mersi, Kelurahan Arcawinangun, Kelurahan Kranji.

Kemudian Kelurahan Purwokerto Lor Kecamatan Purwokerto Timur, Kelurahan Teluk, Kelurahan Berkoh, Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan, Kelurahan Purwonegoro, Kelurahan Bobosan, Kelurahan Sumampir Kecamatan Purwokerto Timur, Desa Karangrau Kecamatan Sokaraja, Desa Dukuhwaluh Kecamatan Kembaran dan Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang.

“Penetapan kawasan endemis DB ditentukan Tim P2PL setelah DKK melakukan pemantauan selama kurang lebih satu tahun,” ujarnya. Hasilnya diketahui bahwa desa-desa tersebut selalu menjadi langganan munculnya penderita DBD dan sampai saat ini di setiap desa tersebut masih terus diselidiki apa penyebabnya.

Menurut Dwi, kader pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dibantu dengan tenaga Puskesmas dan tenaga kelurahan terus bergerak untuk menganalisa penyebabnya. “Penyebabnya bisa macam-macam. Ada di suatu desa yang banyak kolam guramehnya, ada yang di desa tersebut terdapat tempat pengepul rongsok yang tidak dikelola dengan baik semunya dapat menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk,” terangnya.

Dwi menjelaskan, kasus DBD di Banyumas enam tahun terakhir cenderung fluktuatif. “Dari 2010 mencapai 696 kasus, 2011 turun menjadi 201 kasus, 2012 turun lagi menjadi 200 kasus, 2013 melonjak lagi ke angka 543 kasus, 2014 turun menjadi 209 kasus dan di 2015 bertambah 55 kasus menjadi 264 kasus,” jelasnya.

Mengantisipasi terus meningkatnya kasus DBD di 2016, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk terus menggiatkan gerakan PSN seminggu sekali dan dilakukan secara terus menerus.     “Selain aktif melakukan tindakan pengasapan untuk memberantas nyamuk aedes aegypti sebagai nyamuk pembawa virus DBD, DKK juga mendistribusikan bubuk abate ke seluruh desa. Abate dibagikan secara gratis,” kata Dwi. (yda/sus)

Sumber: