Embun Upas di Dataran Tinggi Dieng, BMKG: Bisa Berlangsung 10 Hari

sibnews.info, Banjarnegara – Fenomena embun es atau yang dikenal dengan sebutan embun upas mulai muncul di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Peristiwa embun upas cukup normal terjadi setiap tahun.

Melansir Instagram @banjarnegaraterkini, kemunculan embun upas atau embun es sudah terprediksi dari kemarin sore. Dengan tanda-tanda cuaca dari pagi sampai sore cerah, awan yang terbentuk sedikit.

“Suhu permukaan tanah tercatat minus 1,93’C. Suhu udara berarti sekitar 2’C. Dingin banget.
Kemunculan embun es sudah terprediksi dari kemarin sore. Dengan tanda-tanda cuaca dari pagi sampai sore cerah, awan yang terbentuk sedikit,” tulis akun tersebut, Kamis (30/6/2022)

“Suhu pun turun terus dari sore… sekitar 2 derajat per jam. Hingga pagi tadi sekitar pukul 06.00 suhu terdingin yang tercatat minus 1,93’C,” imbuhnya.

Mengutip laman BMKG, embun es atau embun upas menurut penduduk Dieng, adalah fenomena embun racun, terjadi ketika suhu menjadi sejuk, lalu turunlah embun-embun dingin yang membeku.

Embun ini akan menyelimuti seluruh tanaman kentang masyarakat di Dieng. Disebut “upas” karena efeknya bisa membuat tanaman kentang mati.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedie memprakirakan fenomena embun upas atau embun es yang mulai muncul di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis, 30 Juni, dini hari, akan berlangsung selama satu dasarian (sepuluh hari).

“Terkait fenomena embun es, masih berkaitan dengan adanya dua pusat tekanan rendah (LPA) di belahan bumi utara (BBU), yaitu pusat tekanan rendah 04W berada di Laut China Selatan sebelah barat Filipina dan pusat tekanan rendah 98W di timur laut Filipina,” kata Setyoajie, dikutip Antara, Kamis (30/6/2022)

Menurutnya, kondisi tersebut ditambah dengan kuatnya Monsoon Australia (angin timuran) yang membawa udara kering yang berpengaruh pada pengurangan curah hujan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, sehingga dalam beberapa hari kondisi cuaca di Jateng cenderung cerah hingga berawan.

Akan tetapi kondisi tersebut akan bertahan hingga satu dasarian di bulan Juli 2022 (1-10 Juli) dan setelah itu akan kembali cenderung basah (musim kemarau) dikarenakan pengaruh suhu muka air laut sekitar Jawa yang hangat dan anomali iklim La Nina dengan intensitas lemah dengan probabilitas sekitar 66 persen hingga periode Juli-Agustus 2022.

“Jadi, fenomena tersebut masih dimungkinkan terjadi pada periode dasarian pertama bulan Juli 2022,” kata Setyoajie. (F13)*