Empat Gejala Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Era Digital

Jakarta

Pada mulanya ada keraguan mengenai kesanggupan bahasa Indonesia untuk diandalkan sebagai medium pertukaran informasi dan pengetahuan. Namun, dalam pertumbuhannya, menurut budayawan dan dosen Universitas Pasundan, Dr Hawe Setiawan, telah terbukti bahwa bahasa ini dapat diandalkan bukan hanya sebagai bahasa jurnalistik, tapi juga sebagai bahasa kesastraan dan keilmuan.

Bahasa Belanda lambat-laun menghilang dari Indonesia, sebagaimana sebutan ‘Indiës' digantikan oleh ‘Indonesië'. Dengan tata bahasa yang disusun sejak zaman pendudukan Jepang, bahasa Indonesia makin mantap sebagai bahasa nasional orang Indonesia.

Di gelanggang persuratkabaran, pertumbuhan bahasa Indonesia jelas terlihat. Surat kabar berbahasa Belanda masih hadir di Indonesia hingga menjelang perang Indonesia merebut belahan barat Papua pada paruh kedua dasawarsa 1950-an. Surat kabar berbahasa ‘daerah' dapat bertahan hingga dasawarsa 1980-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, gelanggang persuratkabaran di Indonesia mengandalkan paling banyak dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Silang susup pengaruh di antara kedua bahasa tersebut, tak terkecuali dalam laras jurnalistik, kian hari kian leluasa.

“Ketika generasi Tabrani menggagas bahasa nasional Indonesia, gelanggang jurnalistik masih mengandalkan mesin cetak dengan produk berupa bahan bacaan tercetak yang oleh Marshall McLuhan dijuluki sebagai ‘arsitek nasionalisme',” kata Hawe dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bertajuk ‘Tabrani dan Masa Depan Bahasa Indonesia' di Aula Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Cikini, Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Turut menjadi pembicara dalam diskusi yang dipandu Rita Sri Hastuti itu mantan Ketua Umum FBMM TD Asmadi dan wartawan Republika yang juga pegiat Jejak Republik, Priyantono.

Hari ini, berpuluh tahun setelah bangsa Indonesia mengumandangkan sumpah untuk menjunjung tinggi bahasa nasional, sambung Hawe, jurnalisme mengalami pergerseran platform dari media cetak ke media digital. Di jagat digital medan komunikasi terasa kian diarahkan oleh pemanfaatan media sosial oleh orang banyak.

“Tidak berlebihan, rasanya, kalau saya mengatakan bahwa citizen terbenam, netizen terbit; warga negara susut, warganet bangkit; mass media pudar, social media mekar,” ujarnya.

Tak cuma itu. Ia juga mencatat setidaknya ada empat gejala penggunaan bahasa Indonesia di tengah pergeseran jurnalisme dari platform media cetak ke digital. Gejala yang dimaksud adalah menguatnya kelisanan dalam bahasa tulis, bukan hanya menyangkut pilihan kata, tapi juga menyangkut sikap penutur bahasa.

Kedua, merapatnya aksara pada gambar dan suara dalam tindak komunikasi. Ketiga, tumbuhnya tabiat keinggris-inggrisan dalam pilihan kata dan pencarian ungkapan, misalnya melalui pemakaian kata ‘hot', ‘food', ‘news', ‘travel', dan sebagainya. Terakhir, keempat, menguatnya kecenderungan pemakaian pronomina ‘ini'.

“Biasanya dilengkapi dengan tanda seru dalam judul berita untuk menarik perhatian, misalnya ‘inilah', ‘ini dia', ‘ini faktanya', dan sebagainya,” kata Hawe.

(jat/jat)