Event Pertama, Harus Bertanding dengan Satu Kaki

event pertama, harus bertanding dengan satu kaki

Febria Puspa Ariesta, Atlet Muda Pencak Silat yang Berprestasi

Di usianya yang baru 15 tahun, Febria Puspa Ariesta termasuk salah satu atlet pencak silat yang sudah mengantongi banyak prestasi. Bahkan Febri juga menjadi satu-satunya altet Banyumas yang bisa sekolah di Sekolah Atlet Ragunan.

YUDHA IMAN PRIMADI, Purwokerto

Meski terbilang masih ABG, anak kedua dari empat bersaudara putri dari pasangan Purwanto dan Eni Widyastuti ini terlihat matang. Dengan pembawaannya yang ramah, tak ada sama sekali rasa canggung yang ditunjukkan kepada orang yang baru dikenalnya.

Bahkan dengan status atlet berprestasi yang disandangnya, Febri tetap bersikap rendah hati.

“Tidak ada motivasi lain selain untuk membanggakan orangtua. Apalagi dengan perjuangan ayah yang rela mengadu nasib sebagai sopir di Jakarta. Namun setelah saya menjadi bagian dari Sekolah Atlet Ragunan, saya bisa lebih sering bertemu dengan ayah,” katanya.

Ya, Febri berhasil masuk ke sekolah yang menjadi kebanggaan para atlet tersebut. Bahkan murid Perguruan Pagar Nusa Pusaka Kusuma Sokaraja ini tidak menyangka bisa masuk. “Kaget, namun bersyukur bisa masuk,” ujarnya.

Dunia pencak silat mulai digeluti Febri sejak kelas 1 SMP. Dia ditempa di Perguruan Pagar Nusa Pusaka Kusuma Sokaraja di bawah bimbingan Imam Santosa SH dan Triyono SPd. Ketertarikan Febri pada pencak silat karena melihat kakak perempuannya Pradesta Ayu Krismonitha, yang lebih dulu menjadi atlet.

“Kakak perempuannya menjadi aspirasi dia. Ternyata sekarang prestasi Febri malah lebih tinggi dari kakaknya,” kata Pelatih Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Pusaka Kusuma Sokaraja, Imam Santosa SH

Event pertama yang diikuti Febri yakni Popda. Berbagai rintangan berhasil diatasi Febri. Bahkan di partai final Febri tetap turun bertanding dengan satu kaki, karena satu kakinya terluka parah.    “Tentu kalah, hancur rasanya,” katanya.

Namun Febri tidak pernah menyerah. Ini berkat motivasi dari kedua pelatihnya. “Saya bangga bisa menjadi bagian dari Perguruan Silat Pagar Nusa Pusaka Kusuma Sokaraja. Walaupun perguruan ini kecil, tetapi atletnya dapat berprestasi hingga tingkat internasional,” tuturnya.

Ditambahkan Imam, sebagai seorang atlet, Febri telah terbiasa hidup dalam keadaan prihatin. “Saya harap dengan menjadi bagian dari Sekolah Atlet Ragunan, jalan dia menjadi atlet profesional semakin terbuka lebar,” tutur Imam.

Dengan bekal yang telah dienyamnya selama berlatih di Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Pusaka Kusuma Sokaraja dan kini di Sekolah Atlet Ragunan, Febri dinilai telah siap diturunkan untuk membela Banyumas pada Porprov 2018 di Tegal.

“Waktu dua tahun bisa semakin mematangkan Febri, dan bisa berlaga di Porprov,” ujarnya.      Febri bisa dibilang kecil-kecil cabai rawit, karena selama 2015 banyak prestasi yang berhasil diraih. Di antaranya, juara 2 Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior ketiga mewakili Indonesia di Kuala Lumpur, juara 1 Porprov DKI Jakarta, juara 1 Lomba Pencak Silat Jakarta Utara Open Tingkat Pelajar, juara 2 Popda Jateng, dan juara 1 Tegal Open.

“Di Tegal Open inilah Febri berhasil mengalahkan atlet dari Sekolah Atlet Ragunan, yang membuatnya terpantau dan akhirnya ditarik menjadi atlet di sekolah tersebut,” kata Imam. (*/sus)

Sumber: