Forum Terdampak Belum Ambil Kesimpulan

forum terdampak belum ambil kesimpulan

Terkait Dugaan Penyebab Banjir Dari PT SAE
BPBD Kesulitan Hitung Kerugian

PURWOKERTO-Dua hari pasca banjir bandang yang melanda sejumlah sungai di Kabupaten Banyumas, Pemkab Banyumas masih terus berkordinasi tentang penyebabnya.

Namun demikian, Kordinator lapangan Forum Komunikasi Desa Terdampak Megaproyek PLTPB Baturaden yang juga Camat Cilongok Lukman Hakim mengatakan sejauh ini belum ada koordinasi dengan warga terdampak terkait banjir bandang. Ditanya lebih jauh kaitanya dengan penyebab banjir bandang, Lukman juga enggan berkomentar.

forum terdampak belum ambil kesimpulan 1
HILANG SEPARO : Pak Sardi, salah satu warga Mersi melihat bagian belakang rumahnya yang hanyut terbawa Banjir Sungai Pelus kemarin (16/10).Dimas/radarmas

Sejauh ini, kata dia, belum ada warga Cilongok yang mengadukan banjir bandang karena PT SAE. Sehingga, menurutnya, hal itu tidak ada masalah.

“Belum ada masyarakat yang mengadukan. Karena memang banjir bandang terjadi tidak hanya di SUngai Prukut saja, tetapi juga di beberapa sungai lainnya,” tandasnya

Terkait penanganan warga terdampak air keruh sesuai hasil pertemuan dengan bupati beberapa waktu lalu, saat ini sedang ditangani untuk air bersihnya.

“Sekarang sedang diidentifikasi masukan-masukan dari kades, itu ada beberapa sumber mata air yang bisa nanti dimanfaatkan untuk air bersih,” katanya terpisah.

Di tempat lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas belum dapat memastikan jumlah kerugian warga terdampak. Sampai saat ini, BPBD masih melakukan assesment dan penghitungan jumlah kerugian.

“Hasil pendataan korban banjir sudah selesai di data, namun untuk kerugian belum dihitung secara keseluruhan, tetapi secara parsial ada yang sudah. Kerugian korban terdampak berkisar antara 3 hingga 4 juta per orang bagi yang terdampak rumahnya,” kata Pelaksana Harian Kepala BPBD Kabupaten Banyumas, Prasetyo Budi Widodo, Selasa (17/10).

Belum lagi, seperti kerugian dari truk, mobil pikap, dua motor yang terbawa banjir serta dua motor hilang. Selain itu, juga infrastruktur jembatan yang ambruk di Cilongok. Apalagi, kunjungan wisata di berbagai tempat di Baturraden juga bisa terimbas karena banyaknya video banjir yang tersebar di dunia media sosial. Namun demikian, hal itu masih terus direkap oleh BPBD Kabupaten Banyumas.

Kasi Darurat Logistik BPBD Banyumas, Suyanto menambahkan, kesulitan menentukan jumlah kerugian korban, karena adanya laporan dari para korban yang kerap berubah-ubah. Misalnya, hari ini korban melaporkan kerugian apa saja, namun besoknya korban itu melaporkan lagi kerugian lainnya yang mungkin baru disadarinya.

“Kerugian sulit sekali ditentukan karena biasanya kerusakannya hari ini dengan besoknya berbeda lagi, atau nambah lagi. Kadang dari warga masyarakat menyampaikannya tidak pasti. Kalau untuk menghitung rumah jebol mungkin itu bisa kita hitung, tapi untuk barang-barang kecil seperti perabotan rumah tangga dan elektronik, kita tidak tahu. Sedangkan masyarakat kadang apa yang mereka lihat hari ini, besoknya bisa nambah lagi,” jelas dia saat dikonfirmasi terpisah.

Adapun mekanisme laporan jumlah kerugian, lanjut dia setiap warga terdampak bisa melaporkan kepada RT setempat, agar nanti diteruskan ke RW, desa/ kelurahan. Setelah itu, baru dari BPBD menerima data dari desa/ kelurahan setempat.

Suyanto mengatakan, hasil pendataan yang dilakukan BPBD Banyumas sampai saat ini, ada 9 rumah terdampak, 5 rumah di Kedungwuluh dan 2 rumah di Bantarsoka terdampak akibat banjir bandang Sungai Banjaran, 2 rumah di Dukuwaluh terdampak banjir bandang Sungai Pelus. Sedangkan dua rumah di Arcawinangun terancam.

Pemkab Banyumas pada tahun 2017 ini mengalokasikan anggaran untuk penanganan bencana alam sebesar Rp 1,2 miliar. Alokasi anggaran tersebut, dipakai untuk membeli logistik baik makanan maupun bahan bangunan.

“Kita dari BPBD bantuannya hanya untuk darurat saja agar masyarakat yang terdampak bisa memperbaiki rumahnya. Bentuknya sementara dan logistik 1×24 jam menjadi tanggung jawab BPBD, selanjutnya nanti (bantuan) diteruskan dinas lain. Untuk logistik bahan bangunan seadanya, asal mereka bisa beraktivitas kembali,” tambahnya.

Seperti diketahui, megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturaden dinilai menjadi salah satu penyebab banjir bandang lima sungai di Banyumas. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Banyumas masih melakukan evaluasi.

Namun, kekecewaan terhadap PT Sumber Alam Energy (SAE) sebagai pengelola proyek sudah dilampiaskan warga. Mereka melakukan aksi protes dan corat-coret posko milik PT SAE di Kecamatan Cilongok.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Banyumas, Ir Didi Rudwianto SH mengaku belum dapat memastikan penyebab pasti banjir bandang. “Air semalam memang meluap. Kaitanya dengan SAE, Pak Camat (Cilongok, red) sedang mengevaluasi di lapangan,” kata dia singkat, Senin (16/10).

Pemkab Banyumas telah membentuk Forum Komunikasi Desa Terdampak megaproyek PLTPB Baturaden. Didi menjadi koordinator di tingkat kabupaten. Sementara, camat Cilongok sebagai koordinator lapangan. (why/ttg)

Sumber: