HNW Didaulat Jadi Warga Kehormatan Pimpinan Pemuda Pancasila Jaksel

Jakarta

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid didaulat menjadi warga kehormatan Pimpinan Pemuda Pancasila Jakarta Selatan. Pengangkatan tersebut ditandai dengan pemakaian jaket Pemuda Pancasila yang digelar pada penutupan kegiatan kaderisasi kualifikasi madya Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Jakarta Selatan di Jakarta, Minggu (21/8).

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa HNW ini menyampaikan pentingnya integritas dalam pengamalan Pancasila, serta pentingnya menjadikan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa, bukan dijadikan alat sebagai pemecah-belah.

“Sekalipun beragam peristiwa terjadi dari tahun 1945 hingga sekarang, tapi kita tetap bersatu dan NKRI tetap terjaga. Karena kita memiliki ideologi yang muncul dari budaya bangsa sendiri yang disepakati dan dirawat bersama oleh bapak dan ibu bangsa dari berbagai latar belakang yang sangat majemuk, yakni Pancasila,” ujar HNW dalam keterangannya, Senin (22/8/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menjelaskan pada era modern ada dua negara, yaitu Uni Soviet dan Yugoslavia yang gagal mempertahankan eksistensinya. Hal itu patut menjadi pelajaran agar tidak terjadi menimpa Indonesia.

Diketahui, Uni Soviet telah bubar karena tidak memiliki kesepakatan ideologi yang berdasarkan pada bangsa sendiri dan mampu mengikat bangsa lain di dalamnya atau komunisme. Sedangkan, Yugoslavia gagal dikarenakan persatuan federasinya berdasar pada Bapak Bangsanya sendiri Josip Broz Tito. Sehingga, saat Josip Broz Tito meninggal, negara-negara bagiannya rapuh dan gagal menjaga Yugoslavia sebagai negara federasi.

“Di saat yang sama, kita memiliki Pancasila, ideologi yang digali dari budaya bangsa sendiri, dan disepakati oleh bapak ibu bangsa dari latar belakang yang beragam. Bahkan, Bung Karno tidak mengklaim sebagai penemunya. Sehingga, beliau mudah menerima Pancasila hasil musyawarah dalam Panitia 9 maupun PPKI yang tidak sepenuhnya seperti yang beliau pidatokan pada tanggal 1 Juni 1945 saat sidang BPUPKI,” ucapnya.

“Karenanya Pancasila bukanlah ideologi yang mengkultuskan Bapak Bangsa, melainkan sebagai hasil pemikiran bersama seluruh bapak ibu bangsa Indonesia sendiri. Sehingga, kini terus hidup dan disepakati. Indonesia terus bisa eksis dan terintegrasi sampai masa yang akan datang,” imbuhnya.

HNW menuturkan sejarah pembentukan dan proses musyawarah menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang menyatukan dan menyelamatkan bangsa dan negara adalah pelajaran untuk masa kini. Dimana, semua masyarakat Indonesia diajarkan untuk mengedepankan sikap bergotong-royong, bekerja sama, saling menghormati, berbuat baik, berani berpendapat, berani mendengar, menerima, dan menyepakati keputusan bersama.

Ia juga mengatakan Pancasila memiliki sisi sosial, hukum, ekonomi, budaya, kemanusiaan, dan kesatuan nasional. Hal ini sesuai dengan butir-butir Pancasila yang menjadi semangat dalam penerapan kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara yang baik.

“Inilah nilai-nilai integritas berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa yang dikandung oleh sila pertama Pancasila, juga penting untuk terus disegarkan kembali. Saya mengapresiasi Pemuda Pancasila Jakarta Selatan yang menyelenggarakan diklat dalam rangka penguatan komitmen berpancasila ini,” ujarnya.

“Semoga diikuti oleh Pemuda Pancasila di daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia. Karena ini juga membuktikan salahnya pendapat bahwa kaum muda tidak peduli dengan Pancasila. Diklat yang diselenggarakan oleh Pemuda Pancasila yang mengedepankan komitmen ber Pancasila secara jujur, baik, dan benar, menjadi bukti bahwa masa depan bangsa dan negara Indonesia akan tetap terjaga dengan ideologi Pancasila, bukan dengan yang lainnya,” pungkasnya.

(ncm/ega)