Jaksa Bongkar Trik Indra Kenz untuk Gaet Korban Gabung Binomo

Jakarta

Mantan afiliator Binomo Indra Kesuma alias Indra Kenz didakwa melakukan pidana judi online, penyebaran berita bohong (hoax) melalui media elektronik, penipuan, dan tindak pidana pencucian uang terkait kasus investasi bodong Binomo. Jaksa pun membongkar trik Indra Kenz untuk menggaet para korban masuk dalam ‘jebakan'-nya.

Jaksa mengungkap mulanya pada Agustus 2018, Indra Kenz mendaftar pada website www.binomo.com dengan nama akun Indra Kenz. Namun, dalam perjalanannya, Indra Kenz sempat menonaktifkan akun itu. Dia pun kembali mendaftar dengan akun baru pada 28 April 2019.

“Bahwa Terdakwa Indra Kesuma alias Indra Kenz mempunyai akun Binomo sebagai berikut: sejak bulan Agustus 2018 sampai bulan April 2019 dengan menggunakan email indrakesumaa96@gmail.com dan nama akun ‘Indra Kesuma', namun sejak bulan April 2019 tidak aktif lagi,” kata jaksa penuntut umum saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Tangerang, Jalan Taman Makam Pahlawan, Tangerang, Jumat (12/8/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kemudian pada tanggal 28 April 2019, Terdakwa membuat akun kembali dengan menggunakan email indrabinomo@gmail.com dan nama akun Indra Kesuma serta -ID 29078336,” sambungnya.

Selanjutnya Binomo memberikan kesempatan kepada Indra Kenz untuk bergabung kemitraan menjadi afiliator, yang mana seorang afiliator mendapatkan keuntungan berupa pembayaran afiliasi. Pembayaran afiliasi adalah persentase bagi hasil keuntungan dengan klien afiliasi.

Usai mendaftar sebagai afiliator, Indra Kenz mendapat kode link referral, yang mana Indra Kenz menggunakan link referral tersebut bagi para calon pemain untuk dapat mendaftar pada permainan Binomo sehingga para pemain tersebut akan terdaftar sebagai anggota atau member terdakwa.

Cara permainan Binomo ini, ungkap jaksa, diawali dengan para pemain yang memilih sendiri jenis komoditas yang akan ditebak. Ada beberapa pilihan dalam permainan itu, salah satunya mata uang asing.

“Bahwa cara permainan Binomo yaitu diawali dengan pemain memilih jenis komoditas yang akan ditebak, yaitu terdiri dari beberapa pilihan, salah satunya mata uang asing,” kata jaksa.

Setelah memilih komoditas, para pemain melakukan ‘open posisi' untuk menentukan jumlah uang yang akan dipertaruhkan. Pemain juga harus menentukan jangka waktu tebakan dan memilih akan ‘naik' atau ‘turun'.

“Setelah menentukan pilihan komoditas, selanjutnya pemain melakukan open posisi, yaitu menentukan sejumlah uang yang akan dipertaruhkan dan selanjutnya pemain diminta menentukan jangka waktu tebakan dan setelah itu pemain diminta menebak pilihan komoditas apakah akan naik atau turun,” ungkapnya.

Indra Kenz pun memberi iming-iming keuntungan yang akan didapat oleh para pemain jika mengikuti permainan ini. Bila para pemain benar dalam tebakannya, akan mendapat keuntungan 80 persen dari jumlah taruhan. Sedangkan bila tebakannya salah, pemain akan kehilangan seluruh taruhannya 100 persen.

“Jika pilihan pemain benar, ia akan mendapatkan mendapat keuntungan 80 persen dari jumlah taruhan, sedangkan jika tebakannya salah, pemain akan kehilangan seluruh taruhannya alias rugi 100 persen,” katanya.

Indra Kenz dalam kasus ini didakwa pasal berlapis. Pasal yang didakwa adalah Pasal 45 ayat 2 juncto Pasal 27 ayat 2 dan/atau Pasal 45A ayat 1 juncto Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 3 dan/atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(whn/yld)