Jalan A Yani Jadi Kawasan Tertib

jalan a yani jadi kawasan tertib

bebas pgot setelah jalan dr angka dan jalan gatot subroto, kini giliran jalan a yani yang akan jadi kawasan tertib pgot, pkl dan reklamedimas praboworadarmas
Samb: lokasi masih akan dibahas bupati : baru wacana kok ribut terkait pasar seni purwokerto – wacana adanya pasar seni ternyata masih menimbulkan pro dan kontra. Terutama terkait lokasi yang digunakan yakni jalan gatot subroto. Bupati banyumas ir achmad husein yang menggagas adanya pasar seni, tidak menyangka wacana tersebut menimbulkan pro dan kontra. Menurutnya, pasar seni yang rencananya akan digelar april mendatang masih wacana. “pasar seni baru wacana kenapa ribut,” ujar dia. Pihak yang kotra terkait pasar seni berasal dari kalangan dewan. Seperti ketua komisi a sardi susanto yang mengatakan bahwa pasar seni tidak seharusnya diadakan di jalan gatot subroto, karena lokasi tersebut banyak obyek vital. Seperti bank indonesia, gereja, dan beberapa obyek vital lainnya. “risikonya terlalu besar kalau tetap diadakan di gatot subroto. Selain akan mengganggu orang beribadah juga termasuk jalan protokol. Mumpung belum terlanjur sebaiknya dialihkan ke tempat lain,” kata sardi. Politisi dari pdi perjuangan itu menyarankan agar pasar seni diadakan di alun-alun purwokerto. Selain merupakan tempat umum, pengunjung juga bisa mengetahui lebih jauh lagi tentang budaya banyumasan. “kalau di alun-alun kan bisa sekaligus datang ke pendopo. Melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Mereka juga punya hak untuk tahu lebih banyak soal kantor pemerintahan yang ada di sini. Karena sebenarnya itu juga milik rakyat banyumas,” ungkapnya. Sementara wakil ketua komisi d, shinta laela menyarankan agar rencana pasar seni dikordinasikan dengan semua elemen, termasuk dprd banyumas. Karena event tersebut berkaitan dengan masyarakat luas. “mengenai pasar seni, seyogyanya bupati melalui dinas terkait alangkah baiknya mengajak kami berkordinasi agar bisa menemukan solusi yang terbaik,” katanya. Sekretaris komisi d yoga sugama juga menuturkan, pemililihan jalan gatot subroto menyalahi aturan bupati. Sebab jalan tersebut merupakan kawasan tertib dari peredaran pgot, pkl dan minuman keras. “sejak tanggal 1 september kawasan itu (jalan gatot subroto, red) dijadikan kawasan tertib. Malah dulu sempat ada operasi besar-besaran di sana,” kata yoga. Dia mengatakan, seluruh anggota komisi d dan beberapa dari komisi lain tetap menolak pasar seni diadakan di jalan gatot subroto. Menanggapi adanya kotra dari anggota dewan, kabid pariwisata dinporabudpar kabupaten banyumas deskart djatmiko mengatakan, akan mendiskusikan kembali soal rencana tersebut dengan komisi d. Yang akan dibahas salah satunya terkait format yang jadi kesepakatan bersama, mulai dari lokasi hingga waktu event. “ketika semua sudah dibicarakan dan disetujui oleh semua pihak, baru kita sampaikan kepada pak bupati,” kata dia. Terkait soal lokasi, menurutnya, semua masih bisa dikordinasikan apakah akan tetap diadakan di jalan protokol tersebut atau di tempat lain sesuai hasil kesepakatan. Menurutnya, yang menjadi persoalan bagaimana agar jalan protokol tidak menimbulkan kemacetan dan mengganggu orang beribadah. “formatnya mau gimana nanti bersama-sama akan dirembug,” ujarnya. Dia menambahkan, tujuan dari gelaran pasar seni tesebut salah satunya untuk membantu mengangkat pariwisata di banyumas, sehingga rumah makan dan sejumlah hotel di banyumas juga akan semakin ramai. Perlu diketahui, saat ini okupansi hotel di banyumas masih cukup rendah. Kapasitasnya masih dibawah rata-rata, yakni 40 persen. Padahal salah satu keuntungan yang didapatkan hotel jika okupansi pengunjung di atas 40 persen. “diharapkan dengan adanya kegiatan pasar seni bisa menarik wisatawan ke banyumas. Yang tadinya hanya berkunjung dua jam, kalau semakin banyak kegiatan di sini otomatis kunjungan mereka akan semakin lama. Jika lama, maka hotel dan rumah makan di sini juga semakin ramai,” ungkapnya. (why/sus)

PURWOKERTO – Pemkab Banyumas akan mencanangkan Jalan Ahmad Yani sebagai salah satu kawasan tertib. Baik dari pengemis, gelandangan, pengamen, orang terlantar (PGOT), Pedagang Kaki Lima (PKL), dan reklame. Sebelumnya kawasan tertib baru diterapkan di Jalan dr Angka dan Jalan Jenderal Gatot Subroto.

“Penentuan tempat kawasan tertib ini merupakan inisiatif Satpol PP Kabupaten, Dinperindakop, Dinsosnakertrans, dan Satpol PP Provinsi Jawa Tengah. Nantinya Jalan Ahmad Yani menjadi kawasan yang bersih dari PGOT, PKL dan tertib reklame,” kata Kabid Ketentraman Masyarakat dan Ketertiban Umum Satpol PP Banyumas, Sugeng Amin, Selasa (9/2).

Dia mengatakan, penetapan kawasan tertib sesuai dengan instruksi pemerintah provinsi yang mewajibkan setiap tahun harus ada penambahan kawasan tertib di kabupaten atau kota.

“Nantinya di Ahmad Yani tetap boleh ada PKL, namun harus sesuai dengan aturan yakni SK Bupati yang sudah terbit tentang PKL dan ketertiban reklame. Berbeda dengan kawasan tertib di Jalan dr Angka dan Jalan Jenderal Gatot Subroto yang tidak diperbolehkan ada PGOT, PKL dan reklame,” ungkapnya.

Lebih lanjut Amin mengatakan, untuk teknis pelaksanaan telah dibentuk tim yang bertugas memantau dan menertibkan jika tetap ada PKL yang beroperasi pada waktu yang telah diatur di SK Bupati. Ia menyatakan timnya akan memantau dua kali sehari. Pagi dan sore atau malam.

“Sampai pada tataran teknis sudah kami persiapkan. Jadi nanti tidak ada lagi PKL yang beroperasi di siang hari juga reklame sembarangan, kami jamin itu. Kita juga akan bekerjasama dengan kader siaga tertib untuk mengawal kawasan ini,” tuturnya.

Dia menambahkan, jika sudah resmi sebagai kawasan tertib, Jalan A Yani akan diikutkan dalam perlombaan. Ini untuk memacu semangat masyarakat untuk benar-benar mewujudkan Jalan Ahmad Yani sebagai kawasan tertib.

“Kalau waktu tepatnya kami belum tahu persis, karena kita menunggu dari Satpol PP Provinsi yang diteruskan SK Bupati. Namun diperkirakan pada Februari ini,” tuturnya.

Diharapkan, dengan adanya kawasan baru bisa mendorong ketertiban. Upaya ini untuk keamanan dan kenyamanan bersama. (why/sus)

Sumber: