Jangan Tergesa-Gesa Tutup GS

jangan tergesa-gesa tutup gs

gang-sadarPerlu Persiapan yang Matang

PURWOKERTO – Pemkab Banyumas terus melakukan berbagai langkah untuk mewujudkan rencana penutupan Gang Sadar (GS). Meskipun rencana tersebut masih menimbulkan pro dan kontra.

Menurut Pengamat Sosial, Tri Rini Widyastuti, rencana tersebut harus dipertimbangkan dengan baik, jangan sampai menjadi kompleksitas sosial ditengah masyarakat. “Perlu persiapan yang matang, agar mereka (PSK) benar-benar siap untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Harus ada alternatif pekerjaan lain, yang tentunya penghasilannya setara dengan yang mereka peroleh selama ini,” kata Dosen Sosiologi FISIP Unsoed.

Menurutnya, menutup sebuah lokalisasi atau tempat prostitusi tidak mudah. Sebab, persoalannya tidak hanya pada penutupan saja. Bila sebuah lokalisasi ditutup, bukan selesai persoalannya. Tapi justru akan menimbulkan persoalan-persoalan lain ditengah masyarakat.

“Menjadi PSK bukan sebuah pilihan, tapi sebuah keterpaksaan. Ketika misalnya mereka tidak punya alternatif penghidupan yang layak, menurut mereka kan juga susah. Mereka juga terbatas kemampuannya,” ujarnya.

Selain itu kata dia, jika benar GS ditutup, kemungkinan mereka (PSK, red) juga akan mencari tempat praktik yang lain. Hal ini akan menjadi persoalan baru yang lebih kompleks. Sebab, jika mereka tak terpantau akan menjadi berbahaya.

“Kemungkinan PSK yang di GS akan praktik di tempat lain. Bisa saja di lokalisasi lain, tapi justru yang lebih berbahaya jika kita tidak tahu praktik dimana. Mungkin juga mereka akan memanfaatkan teknologi, seperti medsos atau BBM,” katanya.

Dikatakan, adanya kemudahan teknologi juga akan sangat membantu mereka. Intinya, mereka tidak akan kesusahan untuk melanjutkan praktik prostitusinya.

“Dengan adanya HP, sangat mudah untuk melakukan transaksi lewat online. Lebih susah ngontrolnya. Kalau saya sebagai pengamat, harus dipertimbangkan baik-baik tindakan penutupan. Bukan hanya mengetahui mereka kemana, tapi mereka melakukan apa harus dipantau baik-baik dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Kondisi seperti saat ini, diakui memang sangat sulit. Pilihan untuk melokalisir, merupakan pilihan buruk dari yang terburuk. Kendati demikian, hal tersebut masih bisa dilakukan pengawasan.

“Karena kalau di lokalisasi walaupaun ada implikasinya bagi masyarakat terutama untuk anak-anak, paling tidak bisa terkontrol. Kalau dibubarkan juga ketakutannya mereka kemana-mana. Itu pilihan yang buruk, tapi masih bisa diawasi. Bagaikan makan buah simalakamala,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Rini, diakui atau tidak, dampak adanya kos-kosan GS, masyarakat sekitar bisa membuka dagangan, menjadi pengantar PSK, tukang ojek, atau lainnya.

“Yang lebih menarik lagi, jika GS ditutup justru masyarakat sekitar yang ikut protes. Mereka akan membela lokalisasi, karena mereka juga mendapatkan penghasilan dari aktivitas GS,” tuturnya.

Untuk itu, jika Pemkab Banyumas akan mengubah image orang mengenai Baturraden, perlu adanya persiapan yang matang. Terutama untuk para PSK, agar memiliki alternatif penghidupan lain yang lebih layak. (why/sus)

Sumber: