Jelita Numa Nadiya, Lulusan Termuda Wisuda Ke-121 Unsoed

jelita numa nadiya, lulusan termuda wisuda ke-121 unsoed

BAYU INDRA KUSUMA/RADARMAS
TERMUDA : Jelita Numa Nadiya lulus dengan predikat dengan pujian.

Masuk Kuliah Umur 15 Tahun
Sempat Minder Bergaul Karena Perbedaan Usia

Wisuda menjadi pencapaian akhir pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Di masa semester akhir, kadang mahasiswa dihadapkan dengan pilihan, menyerah atau wisuda. Tak terkecuali Jelita Numa Nadiya, yang akhirnya menyandang gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Tidak hanya lulus dengan predikat dengan pujian (cumelaude), Jelita juga tercatat sebagai salah satu lulusan termuda di angkatan wisuda ke-121.

BAYU INDRA KUSUMA, Purwokerto

Bagi Jelita, hal itu diakui sangat mengejutkan. Pasalnya, sejak pertama masuk Fakultas Kedokteran Unsoed tahun 2012 lalu, dia memiliki impian untuk lulus dalam waktu kurang dari empat tahun. Tidak hanya mampu mencapai mimpinya, dia bahkan mendapat bonus cumelaude dan termuda.

jelita numa nadiya, lulusan termuda wisuda ke-121 unsoed

“Saya tidak menyangka kalau ternyata saya salah satu lulusan termuda. Karena dari awal kuliah, saya memang berusaha untuk lulus cepat. Motivasi saya ingin membanggakan kedua orang tua saya,” ujarnya.

Putri kedua dari pasangan Burhanudin Ramadlan ST dan Lily Listiyani SH MM ini menceritakan awal perjuangannya, hingga mendapat gelar termuda dalam wisuda ke-121 Unsoed, Selasa (24/5) kemarin. Sejak duduk di bangku SMP, dia mengaku sudah mengikuti kelas akselerasi hingga SMA. Rata-rata pendidikan yang ditempuhnya hanya 2 tahun.

“Saya masuk kuliah saat umur 15 tahun. Sekarang saya baru genap 19 tahun. Ini seperti kado ulang tahun juga buat saya,” ujar perempuan kelahiran Pati, 26 April 1997.

Jelita mengaku sempat minder dengan lingkungan kuliahnya. Mengingat perbedaan umur dengan teman-teman kuliahnya memang cukup jauh, antara 4-6 tahun. Meski demikian, perlahan namun pasti dia berhasil beradaptasi, hingga akhirnya sekarang rasa canggung tersebut bisa dihilangkan, meski tetap menghormati teman-teman sebagai “kakak”.

Meski banyak kegiatan yang berkaitan dengan kuliah, Jelita mengaku masih menyempatkan diri untuk terus mengasah kemampuan sosialisasi dan pribadinya dengan mengikuti kegiatan di luar kuliah, seperti di BEM jurusan serta mengikuti kegiatan berdasarkan hobinya seperti paduan suara.

Dari segi lingkungan, Jelita menegaskan tidak ada yang menuntutnya untuk lulus cepat. Hanya saja, dorongan dan kemauannya untuk membanggakan kedua orang tuannya membuatnya termotivasi agar tidak terlalu membebani keluarga.

“Dari keluarga tidak ada paksaan sama sekali, juga dari lingkungan seperti teman. Pokoknya dari awal masuk saya memang fokus untuk kuliah,” jelasnya.

Pasca lulus, dia mengaku masih akan terus mengejar gelar profesinya dengan menjadi co-as di RSMS. Rencananya Juni mendatang sudah akan mulai mengabdi sebagai co-as di RSMS.
Menurutnya, berbeda dengan lulusan lainnya, dimana pasca kelulusan masing-masing bisa langsung mencari kerja dengan ijazah S1. Namun untuk jurusan profesi sepertinya memang masih harus mengabdi terlebih dahulu.

“Tidak bisa berlama-lama, karena bagi saya manajemen waktu itu penting. Meskipun kadang saya belum mampu menyesuaikan dengan waktu,” ujarnya. (*/sus)

Sumber: