Khusyuk

Jakarta

Khusyuk enak diucapkan sulit diwujudkan. Kita bisa mengajarkan teori dan praktek khusyu’ tetapi belum tentu kita sendiri dapat melaksanakannya. Khusyuk membutuhkan zona nyaman tersendiri di dalam qalbu.

Untuk menghadirkan zona khusyuk diperlukan adanya persiapan dan pengkondisian batin atau semacam shock therapy tertentu. Dengan demikian memahami kiat-kiat untuk khusyuk merupakan suatu kebutuhan yang amat penting, agar ibadah kita dilaksanakan dengan khusyuk, tepat sasaran, dan sampai ke tujuan. Secara harfiah khusyuk berarti rendah, takluk, dan merendahkan diri kepada Tuhan. Secara popular khusyuk biasa diartikan dengan sikap seorang hamba yang sangat tenang dan fokus hanya kepada Allah SWT. Khusyuk dilakukan biasanya dalam shalat atau ketika kita sedang berdoa.

Bila seseorang sampai kepada tingkat kekhusyukan sejati maka segalanya bisa plong. Pikiran menjadi jernih, jiwa menjadi lembut, hati jadi tenteram, beban hidup terasa ringan, langkah menjadi tegar, problem menjadi terurai, semangat lebih optimis, dan urusan terasa lebih lancar, dan frustrasi pun menjadi hilang dan kekecewaan menjadi terobati dan sembuh. Di samping itu, Tuhan terasa ridha dan dekat, doa dan munajat terasa terdengar dan problem kehidupan semuanya terlihat kecil di hadapan Tuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di antara nasehat para ulama untuk memperoleh kualitas ibadah yang khusyuk ialah memperbaiki kualitas wudlu. Di antara mereka ada yang menyatakan: “Bagaimana mungkin seseorang bisa khusyuk dalam shalat ketika ia mengambil air wudlu tidak khusyuk”. Bagi mereka, khusyuk dalam shalat harus dimulai ketika kita mengambil air wudhu. Di dalam melaksanakan wudlu kita tidak boleh bercakap-cakap, banyak bergerak, dan disunatkan menghadap ke kiblat, harus membasuh organ tubuh yang telah ditentukan dengan baik, disunatkan tiga kali, dan di ketika membasuh anggota badan dianjurkan membaca doa wudlu, dan jika sempat shalat sunnat wudlu dua rakaat seusai wudlu. Jangan ada kata-kata duniawi, apalagi ucapan bohong, kotor, dan memaki-maki antara wudlu dan shalat. Jika sehabis wuudlu sebelum shalat lalu masih terus ngoceh sembarangan dikhawatirkan mematikan fibrasi positif wudlu kita. Dianjurkan banyak membaca tahlil, tasbih, tahmid, dan takbir serta shalawat Nabi di antara wudlu dan shalat.

Sebelum shalat dilaksanakan azan dan iqamat. Kata Nabi: “Orang-orang yang shalat tanpa diawali dengan melaksanakan atau mendengarkan suara azan maka malaikat tidak akan turun menjadi makmum dan mengaminkan doa-doa yang bersangkutan”. Tentu sebaliknya shalat yang diawali dengan azan dan iqamat akan turun malaikat berbondong-bondong menjadi makmum kepadanya. Di dalam shalat terdapat simpul-simpul khusus yang jika membacanya harus betul-betul penuh dengan kekhusyukan. Simpul-simpul tersebut ialah ketika membaca takbir ihram, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, dan ketika membaca dua tasyahhud (asyhadu ‘an lailaha illallah). Ketika membaca ayat-ayat tersebut sedapat mungkin kita berada di dalam puncak kekhusyukan.

Kostum shalat, sajadah, dan aksessoris shalat juga ikut menentukan kualitas khusyuk kita. Harus dipastikan pakaian yang kita gunakan di dalam shalat ialah harus terjamin kebersihannya; baik dari segi harga maupun dari bahan gunaan yang digunakan dalam shalat. Mungkin tidak terlalu mahal tetapi kita bisa menjamin bahwa itu hasil keringat sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa tenang dan khusyuk di dalam shalat selama pakaian yang membalut diri kita adalah pakaian syubhat atau haram. Bagaimana mungkin shalat bisa khusyuk sementara sajadah yang digunakan dari rekanan yang memiliki target tertentu?

Simak Video ‘Apa Itu Khusyuk?’:

[Gambas:Video 20detik]

(lus/lus)