Kisah Ferra Manajang, 11 Tahun Hidup Bersama 68 ODGJ

Jakarta

Perempuan muda berambut cepak itu dengan cekatan memasukkan kain-kain kecil mengikuti sebuah pola yang membentuk seperti keset kaki. Sesekali, ia berkoordinasi dengan teman-temannya, memberitahu apa-apa saja yang harus dilakukan. Ia pun menegur jika mereka melakukan kesalahan. Saat bahan baku baru datang, ia dan teman-temannya juga bekerjasama membawanya ke dalam ruang kerja untuk kemudian dikerjakan sesuai bagian masing-masing.

Dia adalah Sarah. Wajahnya tertutup masker, hanya menyisakan mata sipitnya yang terlihat selalu awas. Sarah adalah salah satu warga binaan di Yayasan Gerakan Asih Abadi Indonesia (GERASA), organisasi yang menampung Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) khusus perempuan.

“Abang jemput (saya) di Jakarta. Dibawa ke Bogor. Akhirnya, temannya abang bawa jalan-jalan ke mall. Sebelum diajak ke mall, (saya) ‘dikerjain' di kostnya. Terus ditinggal. Polisi antar aku ke Mahanaim, akhirnya Bunda jemput aku jam satu malam, diantar ke sini,” jelas Sarah untuk program Sosok detikcom (7/8/22).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sosok Bunda yang diceritakan Sarah adalah Ferra Menajang (53), orang yang menolongnya di masa paling genting dalam sepanjang hidupnya. Bersama suami dan anak-anaknya, Ferra mengajak Sarah untuk pulang ke GERASA.

Ferra selalu sigap. Sepanjang bercakap dengan tim detikcom pun, Ferra tetap cekatan menegur dan memberi instruksi ke warga binaan yang sedang sibuk beraktivitas seperti membuat prakarya dan memasak.

“Ini bagian dari terapi mereka supaya mereka fokus. Nggak bengong, nggak melamun,” tutur Ferra.

Berdiri sejak 2011 lalu, Yayasan GERASA yang terletak di Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi ini merawat ODGJ perempuan yang terlantar di jalanan. Kini, tidak kurang dari 68 perempuan dengan gangguan jiwa tinggal di bawah atap rumahnya.

Faktor utama yang membuat ODGJ semakin tertekan, halaman berikutnya.