Kisno, 28 Tahun Menjadi Loper Koran

kisno, 28 tahun menjadi loper koran

Kerja Sejak SMP, Ingin Anaknya Jadi Sarjana

“Warisan” orangtua tidak hanya harta, tetapi juga pendidikan. Hal inilah yang disadari oleh Kisno (47). Meski hanya seorang loper koran, dia sangat mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya.

MAULIDIN WAHYU SETYA P, Purwokerto

BAGI orang tua, anak adalah segala-galanya. Apapun dilakukan demi masa depan buah hatinya. Itu pula yang dilakukan Kisno, warga Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat.     Meski berprofesi sebagai loper koran, bapak tiga anak itu mampu membiayai sekolah. Bahkan anak pertamanya, Ade Restiani (21) kini sedang meneruskan pendidikannya di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengambil Jurusan Ilmu Gizi.

Dengan segala keterbatasan dana, Kisno bersama istrinya, Lastri, menanggung biaya yang tidak sedikit karena harus membiayai ketiga anaknya. Selain Ade Restiani, anak keduanya Ara Amalia (16) duduk dibangku kelas XI SMAN 1 Purwokerto, dan anak ketiganya Ajun Azhar Afirma (12) kelas VI SD.

“Jangan sampai mereka seperti saya. Karena itu, mereka harus sekolah tinggi bagaimanapun caranya,” kata Kisno yang menjajakan koran di sekitar Pasar Wage, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, berprofesi sebagai loper koran adalah pekerjaan yang sangat ia syukuri. Setiap hari, pria yang bercita-cita ingin menjadi polisi itu mengaku mendapat keuntungan sekitar Rp 100 ribu. Untuk bantu biaya anaknya, dia dibantu istrinya.

Usaha sang istri, diakui, sangat membantu perekonomian keluarga. Terutama saat dia tidak dapat berjualan karena beberapa hal. Seperti saat libur nasional yang biasanya koran dari beberapa media tidak terbit atau saat musim hujan.

“Ya suka dukanya banyak. Terutama saat liburan, saya terpaksa tidak bisa jualan dan tidak dapat uang. Selain itu, saat musim hujan biasanya pembelinya sedikit. Untung saja istri saya buka usaha kecil-kecilan. Itu sangat membantu kami dalam menyekolahkan anak-anak,” tutur pria kelahiran 25 Mei 1969 itu.

Kisno mengaku, mulai bekerja sebagai loper koran sejak tahun 1987. Pekerjaan itu dijalani dari ajakan tetangganya yang berprofesi sebagai agen di Desa Rejasari. Saat itu, pria lulusan SMA pada tahun 1991 itu masih duduk di bangku SMP.

Untuk membagi waktu antara sekolah dan jualan koran, Kisno menyiasati dengan mencari sekolah yang masuk siang. Sehingga pagi harinya digunakan untuk berjualan koran. “Saya biasa berjualan dari jam 07.00 di kawasan Pasar Wage. Saat sekolah tetap jualan, tapi saya cari sekolah siang yaitu di SMP Purnama. Begitu juga saat SMA, saya di SMA PGRI,” jelasnya.

Kini, Kisno berusaha sekuat tenaga memberikan pendidikan setinggi-tingginya pada ketiga anaknya. Dia percaya dengan pendidikan yang tinggi, maka seseorang dapat mengubah taraf hidupnya. “Saya tidak ingin anak-anak saya hidup seperti ini. Saya ingin mereka bisa hidup enak,” tuturnya. (*/sus)

Sumber: