Lestari Moerdijat Bicara Peran Konstitusi Terhadap Dampak Akulturasi

Jakarta

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menghadiri diskusi daring bertema ‘Konstitusi dan Proses Akulturasi Bangsa Indonesia’ yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bersama Center for Prehistory and Austronesian Studies. Menurutnya, konstitusi harus mampu mengantisipasi perkembangan budaya sebagai dampak proses akulturasi yang terjadi demi membangun masa depan yang lebih baik.

“Dunia terus berubah dan kita mesti memperbarui diri agar nilai-nilai kebangsaan tidak luluh dalam inovasi teknologi yang menawarkan segala sesuatu secara cepat,” kata Lestari dalam keterangan tertulis, Rabu (24/8/2022).

Lestari lanjut mengatakan proses akulturasi adalah dinamika yang luar biasa. Oleh sebab itu, berbagai masalah tumbuh akibat perbedaan mengejutkan bangsa Indonesia. Hal ini menyebabkan negeri ini seperti menafikan kebhinekaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rerie, sapaan akrab Lestari, menambahkan proses akulturasi bisa terwujud dalam bentuk nilai-nilai intelektual serta budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi milik bersama. Secara umum, lanjutnya, konstitusi memuat tata aturan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk pembentukan, pembagian wewenang, cara kerja berbagai lembaga negara serta hak asasi manusia.

Rerie mengungkapkan artinya nilai budaya dan kehidupan berbangsa dan bernegara termuat secara utuh dalam konstitusi UUD 1945. Ia menjelaskan UUD 1945 merupakan pedoman untuk menjamin, menata kehidupan berbangsa dan bernegara, serta merumuskan cita-cita yang sudah, sedang, dan akan dicapai melalui penyelenggaraan kehidupan bernegara.

Ia berharap konstitusi di Indonesia mampu memberikan ruang yang memadai dalam mengantisipasi perkembangan budaya dan mampu mengantisipasi perkembangan zaman.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI Kemendagri Bahtiar berpendapat proses akulturasi menciptakan negeri yang memiliki keberagaman tetapi ada persamaan yang mengikatnya, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Namun, Bahtiar menilai saat ini bahasa juga banyak terpengaruh akibat dampak akulturasi yang terjadi di dunia.

Kendati demikian, ia menilai konstitusi RI cukup menjamin keberlangsungan kehidupan berbangsa dan jati diri anak bangsa. Namun, menurutnya bangsa Indonesia perlu mengecek kembali dukungan aturan yang ada guna memperkuat jati diri bangsa secara operasional.

Bahtiar menegaskan proses akulturasi terjadi akibat interaksi warga bangsa dengan warga dunia yang lebih intens lewat pemanfaatan teknologi. Pada kondisi ini, Bahtiar menilai peran negara merupakan hal penting untuk melakukan pemeliharaan dan penguatan agar setiap warga negara tetap memiliki jati diri bangsa yang tinggi. Dengan demikian, ia berharap kepala daerah terpilih pada Pemilu 2024 memiliki visi kebudayaan yang baik.

Ahli Arkeologi Prasejarah Harry Widianto mengungkapkan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti beragamnya bahasa dan etnis merupakan modal penting. Menurutnya, etnis yang berkembang di Indonesia terbentuk dari proses migrasi ras Mongoloid di Taiwan menuju kawasan Pasifik yang merupakan migrasi terakhir ke Kepulauan Nusantara pada ribuan tahun lalu.

Sementara itu, Peneliti Arkeologi Universitas Indonesia Andriyati Rahayu mengungkapkan proses akulturasi bangsa Indonesia berlangsung sejak abad ke-4 sampai sekarang. Berdasarkan penelitian terhadap prasasti yang ada, Andriyati berpendapat akulturasi kebudayaan India di Nusantara terjadi akibat kehadiran aksara dan agama Hindu serta Budha.

Andriyati menjelaskan Indonesia memiliki kepandaian asli di masa lalu, di antaranya kemampuan berlayar dan mengenal arah angin, bersawah dan bercocok tanam, mengenal prinsip dasar pertunjukan wayang, mengenal alat musik gamelan, kepandaian membatik dan membuat pola seni ornamen, kemampuan membuat barang dari logam, menggunakan alat ukur, mengenal alat tukar dan sistem perbintangan dan telah terbentuk susunan masyarakat yang teratur.

Di sisi lain, Peneliti Budaya Tionghoa-Indonesia Udaya Halim mengungkapkan nama Indonesia tidak dicetuskan oleh etnis yang ada di Nusantara, melainkan warga Skotlandia James Richardson Logan dan George Windsor Earl pada 1849.

Menurutnya, Indonesia lahir sebagai negara bangsa yang dibangun atas dasar kesadaran berbangsa dan bernegara. Ia juga berpendapat jika kebangsaan itu berada dalam pikiran, bukan pada warna kulit dan etnis.

“Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sukses mempersatukan bangsa,” ujar Udaya.

Peneliti Center for Prehistory and Austronesian Studies Truman Simanjuntak berpendapat akulturasi merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas. Ia mengungkapkan migrasi yang terjadi ribuan lalu mendorong terjadinya akulturasi di Nusantara. Ia juga menambahkan gelombang migrasi ke Nusantara hampir membawa kebudayaan pendatang lewat aksi beri dan ambil sehingga menghasilkan berbagai keragaman.

Peneliti Ahli Utama BRIN I Made Geria berharap nilai kearifan lokal dalam menghadapi produk akulturasi jangan sampai hilang agar jati diri bangsa tetap terjaga. Menurutnya, akulturasi terjadi harus ada toleransi dalam kesetaraan sebab Indonesia akan tetap rukun dengan jembatan toleransi.

Direktur Utama Lampung Post Abdul Kohar berpendapat masih ada juga sekelompok orang yang mempraktikan upaya disintegrasi meski saat ini banyak upaya anak bangsa untuk mendorong tumbuhnya toleransi di tengah keberagaman. Padahal, tegas Abdul, bangsa ini punya sejarah panjang untuk mempersatukan setiap anak bangsa.

Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat akulturasi hanya bisa terjadi jika kita memiliki pikiran terbuka, hati yang terbuka, dan dada yang lebar. Ia lanjut mengatakan pelaksanaan pernikahan beda agama masih menjadi tantangan konstitusi di Tanah Air.

Ia dengan tegas mengatakan tantangan yang muncul di masa mendatang masih sangat panjang untuk bisa dijawab. Selain itu, Saur berpendapat, dalam proses akulturasi juga perlu rasa humor agar tidak mudah tersinggung.

Dalam diskusi tersebut turut hadir, di antaranya Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI/Dirjen Polpum Kemendagri Bahtiar Ahli Arkeologi Prasejarah Harry Widianto, Peneliti Arkeologi Universitas Indonesia Andriyati Rahayu, Peneliti Budaya Tionghoa-Indonesia Udaya Halim, Center for Prehistory and Austronesian Studies/CPAS Truman Simanjuntak, Peneliti Ahli Utama BRIN I Made Geria, dan Direktur Utama Lampung Post I Made Geria.

Simak juga ‘BEM Nusantara: RKUHP Perlu Didukung, Namun…’:

[Gambas:Video 20detik]

(akn/ega)