Mahasiswa Serukan Hari Buruh di Banyumas

mahasiswa serukan hari buruh di banyumas

img 20210502 132301
AKSI: Sekitar 14 eleman mahasiswa di Banyumas turun ke jalan melakukan aksi seruan hari buruh, Sabtu (1/5). Yudha Iman Primadi/Radarmas

PURWOKERTO – Sekitar 14 elemen mahasiswa se-Banyumas yang menamakan dirinya sebagai Serikat Masyarakat Bergerak Banyumas di tengah puasa dan kondisi masih pandemi turun melakukan seruan aksi hari buruh, Sabtu (1/5) siang di depan Rita Supermall Purwokerto.
https://sibnews.info/may-day-ganjar-sambangi-rusun-buruh-dan-bagi-bagi-sembako/

Korlap dari BEM Unsoed, Wisnu Ludi Kuncoro mengatakan yang pertama aksi ini disampaikan untuk memperingati Hari Buruh guna mencerdaskan masyarakat terutama terkait konsistensi penolakan dan permintaan pencabutan UU Cipta Kerja.

Kedua berkaitan dengan tindakan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa seperti dikriminalisasi dan represifitas oleh aparat.

“Maka kami tuntut untuk mengusutnya dengan tuntas,” katanya ketika ditemui wartawan disela-sela orasi.

Yang ketiga terkait dengan regulasi THR. Seperti yang diketahui bersama, rekan-rekan buruh tahun 2020 tidak bisa mendapatkan THR-nya karena ada regulasi THR dapat dicicil. Nyatanya sampai tahun 2021 masih belum ada pelunasan THR dari sebagian perusahaan.

“Oleh karena itu kami juga menuntut jaminan regulasi THR itu,” sambung dia.

Melibatkan sekitar 14 elemen mahasiswa seBanyumas, pihaknya sebelum turun melakukan aksi hari ini (Sabtu) sudah melakukan konsolidasi terbuka. Hanya saja dari serikat buruh meski sudah diajak dan diundang belum juga ada yang hadir. Tuntutan dan substansi utama hanya pada 3 poin tersebut. Aksi kali ini merupakan bentuk penekanan mahasiswa di Banyumas terhadap pemerintah disaat di titik-titik lain seIndonesia juga melakukan aksi penyuaraan hari buruh.

“Berhubung ini hari Sabtu dan tidak ada orang pemerintahan yang bekerja di lingkungan Pendopo, akhirnya aksi ini cukup bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat,” pungkas Wisnu.

Kapolresta Banyumas, Kombes Pol M Firman Lukmanul Hakim mengatakan melakukan orasi diatur oleh UU. Ada aturannya. Pihaknya hanya berharap ada kesadaran lebih dari adik-adik mahasiswa karena sekarang masih dalam masa pandemi Covid-19. Kapolresta mengajak adik-adik mahasiswa untuk bersama-sama saling menjaga. Jadi aspirasi sampai dan aturan tetap dilaksanakan.

“Jangan sampai ada kluster baru. Nanti kalau kami melakukan upaya hukum, Polisi dikatakan shock power. Tapi tidak kan,” ungkapnya kepada wartawan. (yda)

Sumber: