Memulihkan Keteladanan Pendidik

Jakarta

Wajah pendidikan di Indonesia kembali harus ternodai setelah tertimpa berbagai kasus asusila. Berbagai macam motif dilakukan oleh pelaku akademik untuk menghalalkan tindakan amoralnya. Label akademik, agama, dan sosial terkadang dijadikan alasan di balik aksi yang mencederai generasi muda bangsa. Akibatnya, tidak sedikit korban harus mengubur impian masa depan hanya untuk melayani nafsu semata. Sungguh, potret pendidikan yang jauh dari makna yang sesungguhnya.

Masyarakat menganggap pendidikan sebagai tempat yang tepat untuk menitipkan anaknya agar kelak menjadi manusia yang unggul. Baik unggul secara intelektual dan spiritual, yang kelak nantinya akan mengisi berbagai sektor untuk melanjutkan pembangunan negara. Namun, ternyata itu semua hanya menjadi harapan semu yang tidak memberikan hasil nyata. Perbuatan amoral melukai generasi bangsa yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang pendidik.

Melihat data terkait perbuatan amoral di lingkungan pendidikan cukup mengejutkan. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir, sepanjang 2021 terjadi 18 kasus perbuatan asusila yang menimpa siswa. sebanyak 22,22% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan sebanyak 77,78% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Pelakunya didominasi oleh guru sebanyak 55,55%.

Padahal pendidikan menjadi satu-satunya akses penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas bagi suatu negara. Ketika wajah pendidikan itu tidak bisa menciptakan lingkungan yang aman, ilmiah, dan agamis dapat dipastikan masa depan suatu negara akan suram. Lalu, akan didapatkan dari mana generasi yang berkualitas jika bukan dari lembaga pendidikan?

Pandangan Islam

Lembaga pendidikan dalam pandangan Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam melahirkan generasi hebat dalam catatan sejarah peradaban. Tidak ada karya ilmu pengetahuan yang paling banyak dihasilkan kecuali dari goresan para ilmuwan muslim dari hasil dari proses pendidikan.

Kitab Madza qaddamal muslimuna lil alam karya Ragrib As-Sirjani mencatat bahwa jumlah karya yang ada di perpustakaan Baitul Hikmah di Bagdad tak terhitung. Bahkan, karena banyaknya jumlah buku sampai bisa mengantarkan pasukan Tartar menyeberangi sungai Tigris di atas tumpukan buku.

Berbagai karya besar tidak terlepas dari peran generasi hebat yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Sederet nama ilmuwan muslim bermunculan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sejarah Islam mencatat hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan berhasil dikuasai, seperti Ibnu Sina ahli kedokteran, Al-Idris ahli geografi, Jabir bin Hayyan ahli kimia, Ibnu Firnas ahli penerbangan, dan Al-Jazari ahli mekanika. Berkat melalui jasa mereka manusia saat ini bisa merasakan kecanggihan teknologi.

Pendidikan memberikan pengaruh besar dalam pembentukan nalar dan spiritual manusia. Manusia memiliki empat potensi yang tersimpan dalam dirinya, meliputi potensi naluriah, indrawi, akal, dan spiritual. Proses pendidikan mampu mengarahkan potensi itu semua agar sesuai dengan tujuan dari sang pencipta. Oleh karena itu, dalam Islam pendidikan memiliki misi yang suci yang bukan hanya membentuk manusia untuk menjadi terampil, melainkan menjadikan manusia yang mampu mengenali dan mendekatkan diri kepada sang khaliq.

Misi suci yang dibawa dalam proses pendidikan tentunya harus dikendalikan oleh insan yang mulia. Mulia yang tidak hanya diukur dari aspek pengetahuan saja, melainkan dalam hal adab pendidik. Karena, hal ini menyangkut terkait dengan proses mentoring manusia menuju ke arah yang suci. Tentunya, keberhasilan dalam mencapai tujuan sakral tersebut ditentukan oleh sang nahkoda. Oleh karena itu, tidak semua manusia mampu dan layak untuk menjadi nahkoda dalam sebuah pendidikan.

Adab Pendidik

Suatu ketika Imam Syafi’i menyampaikan pesan kepada Imam Abdush Shamad yang menjadi guru dari putra Harun Ar-Rasyid, salah satu khalifah masa Dinasti Abbasiyyah. “Hendaknya kamu memperbaiki diri kamu sendiri terlebih dahulu, sebelum beranjak memperbaiki putra khalifah. Sebab, mata mereka akan selalu terikat dengan matamu. Apa yang kamu pandang baik mereka anggap baik, dan apa yang kamu buruk mereka akan anggap buruk”.

Sejenak nasihat yang disampaikan Imam Syafi’i mengingatkan akan pentingnya keteladanan pendidik dalam proses pendidikan. Keberhasilan pesan yang disampaikan kepada murid akan banyak ditentukan oleh perangai sang pendidik. Meskipun secara penguasaan materi sangat mumpuni dan menguasai teori pembelajaran, tetapi pendidik yang tidak memiliki keteladanan suatu hal yang tidak bernilai.

Imam Nawawi dalam kitab Adabul al-alim wa al-mutaallim menjelaskan salah satu adab yang harus melekat pada pendidik memiliki kesadaran bahwa segala gerak, ucapan, dan perilaku senantiasa diawasi oleh Allah. Artinya, pendidik hendaknya senantiasa memperhatikan perilakunya baik di dalam dan luar sekolah. Sebab sifat ilmu yang suci dan mengajarkan adalah kesucian. Inilah yang mungkin selama ini diabaikan oleh sebagian besar pendidik.

Maraknya kasus asusila yang mencemarkan kesucian wajah pendidikan, perlu adanya upaya untuk memulihkan kembali wajah pendidikan di Tanah Air. Salah satunya berkaitan dengan adab yang dimiliki oleh pendidik. Tidak ada keberhasilan dalam proses pendidikan ketika pendidik mengabaikan adabnya.

Upaya untuk menghasilkan generasi hebat tidak bisa terlepas dari peran pendidik dalam proses pendidikan. Semoga kasus asusila tidak terjadi kembali di lembaga pendidikan, sehingga tidak menghilangkan asa generasi muda bangsa untuk mencapai cita-cita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

(mmu/mmu)

Memulihkan Keteladanan Pendidik

Jakarta

Wajah pendidikan di Indonesia kembali harus ternodai setelah tertimpa berbagai kasus asusila. Berbagai macam motif dilakukan oleh pelaku akademik untuk menghalalkan tindakan amoralnya. Label akademik, agama, dan sosial terkadang dijadikan alasan di balik aksi yang mencederai generasi muda bangsa. Akibatnya, tidak sedikit korban harus mengubur impian masa depan hanya untuk melayani nafsu semata. Sungguh, potret pendidikan yang jauh dari makna yang sesungguhnya.

Masyarakat menganggap pendidikan sebagai tempat yang tepat untuk menitipkan anaknya agar kelak menjadi manusia yang unggul. Baik unggul secara intelektual dan spiritual, yang kelak nantinya akan mengisi berbagai sektor untuk melanjutkan pembangunan negara. Namun, ternyata itu semua hanya menjadi harapan semu yang tidak memberikan hasil nyata. Perbuatan amoral melukai generasi bangsa yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang pendidik.

Melihat data terkait perbuatan amoral di lingkungan pendidikan cukup mengejutkan. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir, sepanjang 2021 terjadi 18 kasus perbuatan asusila yang menimpa siswa. sebanyak 22,22% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan sebanyak 77,78% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Pelakunya didominasi oleh guru sebanyak 55,55%.

Padahal pendidikan menjadi satu-satunya akses penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas bagi suatu negara. Ketika wajah pendidikan itu tidak bisa menciptakan lingkungan yang aman, ilmiah, dan agamis dapat dipastikan masa depan suatu negara akan suram. Lalu, akan didapatkan dari mana generasi yang berkualitas jika bukan dari lembaga pendidikan?

Pandangan Islam

Lembaga pendidikan dalam pandangan Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam melahirkan generasi hebat dalam catatan sejarah peradaban. Tidak ada karya ilmu pengetahuan yang paling banyak dihasilkan kecuali dari goresan para ilmuwan muslim dari hasil dari proses pendidikan.

Kitab Madza qaddamal muslimuna lil alam karya Ragrib As-Sirjani mencatat bahwa jumlah karya yang ada di perpustakaan Baitul Hikmah di Bagdad tak terhitung. Bahkan, karena banyaknya jumlah buku sampai bisa mengantarkan pasukan Tartar menyeberangi sungai Tigris di atas tumpukan buku.

Berbagai karya besar tidak terlepas dari peran generasi hebat yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Sederet nama ilmuwan muslim bermunculan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sejarah Islam mencatat hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan berhasil dikuasai, seperti Ibnu Sina ahli kedokteran, Al-Idris ahli geografi, Jabir bin Hayyan ahli kimia, Ibnu Firnas ahli penerbangan, dan Al-Jazari ahli mekanika. Berkat melalui jasa mereka manusia saat ini bisa merasakan kecanggihan teknologi.

Pendidikan memberikan pengaruh besar dalam pembentukan nalar dan spiritual manusia. Manusia memiliki empat potensi yang tersimpan dalam dirinya, meliputi potensi naluriah, indrawi, akal, dan spiritual. Proses pendidikan mampu mengarahkan potensi itu semua agar sesuai dengan tujuan dari sang pencipta. Oleh karena itu, dalam Islam pendidikan memiliki misi yang suci yang bukan hanya membentuk manusia untuk menjadi terampil, melainkan menjadikan manusia yang mampu mengenali dan mendekatkan diri kepada sang khaliq.

Misi suci yang dibawa dalam proses pendidikan tentunya harus dikendalikan oleh insan yang mulia. Mulia yang tidak hanya diukur dari aspek pengetahuan saja, melainkan dalam hal adab pendidik. Karena, hal ini menyangkut terkait dengan proses mentoring manusia menuju ke arah yang suci. Tentunya, keberhasilan dalam mencapai tujuan sakral tersebut ditentukan oleh sang nahkoda. Oleh karena itu, tidak semua manusia mampu dan layak untuk menjadi nahkoda dalam sebuah pendidikan.

Adab Pendidik

Suatu ketika Imam Syafi’i menyampaikan pesan kepada Imam Abdush Shamad yang menjadi guru dari putra Harun Ar-Rasyid, salah satu khalifah masa Dinasti Abbasiyyah. “Hendaknya kamu memperbaiki diri kamu sendiri terlebih dahulu, sebelum beranjak memperbaiki putra khalifah. Sebab, mata mereka akan selalu terikat dengan matamu. Apa yang kamu pandang baik mereka anggap baik, dan apa yang kamu buruk mereka akan anggap buruk”.

Sejenak nasihat yang disampaikan Imam Syafi’i mengingatkan akan pentingnya keteladanan pendidik dalam proses pendidikan. Keberhasilan pesan yang disampaikan kepada murid akan banyak ditentukan oleh perangai sang pendidik. Meskipun secara penguasaan materi sangat mumpuni dan menguasai teori pembelajaran, tetapi pendidik yang tidak memiliki keteladanan suatu hal yang tidak bernilai.

Imam Nawawi dalam kitab Adabul al-alim wa al-mutaallim menjelaskan salah satu adab yang harus melekat pada pendidik memiliki kesadaran bahwa segala gerak, ucapan, dan perilaku senantiasa diawasi oleh Allah. Artinya, pendidik hendaknya senantiasa memperhatikan perilakunya baik di dalam dan luar sekolah. Sebab sifat ilmu yang suci dan mengajarkan adalah kesucian. Inilah yang mungkin selama ini diabaikan oleh sebagian besar pendidik.

Maraknya kasus asusila yang mencemarkan kesucian wajah pendidikan, perlu adanya upaya untuk memulihkan kembali wajah pendidikan di Tanah Air. Salah satunya berkaitan dengan adab yang dimiliki oleh pendidik. Tidak ada keberhasilan dalam proses pendidikan ketika pendidik mengabaikan adabnya.

Upaya untuk menghasilkan generasi hebat tidak bisa terlepas dari peran pendidik dalam proses pendidikan. Semoga kasus asusila tidak terjadi kembali di lembaga pendidikan, sehingga tidak menghilangkan asa generasi muda bangsa untuk mencapai cita-cita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

(mmu/mmu)