Menelisik Bunyi yang Menyembuhkan

Jakarta

Terminologi metafakta dan oxytron sedang ramai dibicarakan menyusul kasus putera kiai pemilik pesantren di Jombang. Konon, bebunyian dalam bentuk musikal yang dipopulerkan putera sang kiai untuk penyembuhan inilah yang memicu kasus yang menyita perhatian publik. Benarkah bebunyian bisa menimbulkan efek positif bahkan bisa menyembuhkan sakit yang diderita pendengarnya?

Kemampuan bunyi mempengaruhi manusia bukanlah sesuatu yang baru. Julian Treasure, lewat Ted's Talk (2012) menyimpulkan dan menunjukkan bukti-bukti bahwa bunyi memang mempengaruhi manusia secara fisik, psikis, kognitif, dan perilaku. Bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan –terutama terkait pengaruh secara fisik?

Bunyi dihasilkan oleh suatu sumber yang bergetar, entah getarannya terlihat kasat mata atau tidak. Jumlah getaran atau gelombang yang terjadi tiap detik ketika suatu benda bergetar disebut frekuensi. Semua benda memiliki frekuensi yang khas, sehingga akan menghasilkan bebunyian yang khas pula. Ambil contoh, tanpa perlu melihat, kita paham bahwa benda yang jatuh di dapur terbuat dari kaca atau logam, karena getaran kaca dan logam yang menghasilkan bunyi unik, mudah dikenali bedanya.

Kita baru sulit membedakan tanpa melihat, jika misalnya, yang jatuh di dapur gelas kaca atau piring keramik; atau, sendok kuningan atau sendok mewah dari perak. Hal ini karena molekul penyusun kaca dan keramik cukup mirip jika dibandingkan molekul kuningan yang mirip perak. Bahkan suara manusia pun memiliki frekuensi yang khas, sehingga kita mengenali suara orang-orang yang akrab dengan kita.

Dulu, Gaston, melalui bukunya Music in Therapy (1968) menyatakan bahwa musik adalah alat yang sangat baik untuk terapi, tetapi tidak secara langsung menyembuhkan penyakit atau merehabilitasi suatu kondisi. Namun penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa bunyi memang sungguh memiliki dampak pada tubuh, baik langsung maupun tak langsung.

Penelitian yang berfokus pada noise (gangguan bunyi) cukup banyak jumlahnya dan berhasil membuktikan adanya dampak negatif langsung pada tubuh. Salah satu yang terlengkap dipaparkan MacCutcheon dalam Jurnal Noise & Health (2021). Sementara, Kujawa dan Liberman melalui Journal of Neuroscience (2009) bahkan menunjukkan foto-foto sel dan saraf pendengaran yang berubah drastis setelah terpapar bebunyian tertentu selama 64 minggu.

Berikutnya, Castelo Branco lewat Jurnal Progress in Biophysics and Molecular Biology menunjukkan munculnya penyakit vibroacoustic (VAD = vibroacoustic disease) pada orang-orang yang terpapar bunyi berfrekuensi rendah di tempat kerjanya sehari-hari, berupa munculnya fibrosis pada jaringan tisu.

Bagaimana dengan efek positif bebunyian, khususnya yang berupa musik, seperti yang diklaim oxytron? Tubuh manusia beserta organ tubuh di dalamnya juga memiliki frekuensi yang khas, meski ketika bergetar tidak serta-merta kita dengar bunyinya, kecuali detak jantung atau perut melilit karena lapar.

Lewat bukunya The Healing Forces of Music (1991), McClellan menyatakan bahwa getaran atau gelombang dalam tubuh manusia juga memancar ke luar tubuh, sebagai suatu energi, sejauh kira-kira 7,5 cm di sekeliling tubuh. Energi yang memancar ini berupa gelombang, dan tidak sepenuhnya terpisah dari gelombang energi di dalam tubuh, demikian Gerber lewat bukunya Vibrational Medicine (1988).

Ketika di sekitar tubuh muncul bebunyian tertentu yang berasal dari suatu benda yang bergetar, maka gelombangnya akan merambat mengenai gelombang energi yang memancar dari tubuh sehingga beresonansi. Resonansi ini tidak hanya terjadi di luar tubuh, tapi menerus dalam tubuh. Resonansi gelombang di luar tubuh dengan mudah beresonansi pula di dalam tubuh, karena tubuh manusia terdiri 70% air.

Padahal, gelombang bunyi merambat dengan baik dalam air. Aktivasi atau resonansi gelombang luar tubuh ini tidak ubahnya akupuntur yang hanya menyentuh pusat energi tubuh atau 7 cakra pada yoga, namun mampu memberikan resonansi ke seluruh tubuh. Cosic dkk melalui Jurnal EPJ Nonlinear Biomedical Physics (2015) menunjukkan bahwa DNA manusia mampu beresonansi pada rentang frekuensi yang luas dari KHz sampai THz.

Oxytron yang diklaim dapat menyembuhkan tubuh sakit, dijelaskan secara sederhana oleh Fernandez lewat Jurnal Pediatric Annals (2018) dan Haslbeck dkk lewat Jurnal NeuroImage (2020). Fernandez dan Haslbeck dkk menyebutkan bahwa pada keadaan sakit, organ tubuh bergetar dalam frekuensi yang berbeda dari frekuensinya ketika sehat. Bebunyian yang sesuai dan didengarkan rutin terus-menerus oleh penderita akan meresonansi tubuh dan organ yang bermasalah kembali ke frekuensi alamiahnya ketika sehat.

Sementara, Maschke dkk lewat International Journal of Hygiene and Environmental Health (2000) dan Noise & Health (2004) menyatakan bahwa pengalaman mendengarkan musik melibatkan aktivasi simultan dari berbagai modalitas sensorik. Alam bawah sadar manusia akan terus memproses gelombang bunyi yang diterima tubuh melalui musik dengan mengaktifkan sistem saraf otonom, yang mengontrol fungsi fisiologis seperti pernapasan, fungsi jantung, pencernaan, sistem hormonal, dan sistem kekebalan tubuh. Inilah yang didefinisikan oleh oxytron sebagai musik yang menyembuhkan dan memicu energi positif tubuh.

Kemampuan musik tertentu yang benar-benar mampu meresonansi tubuh manusia dikupas secara mendalam oleh Crowe dan Scovel melalui tulisannya berjudul An Overview of Sound Healing Practices: Implications for the Profession of Music Therapy yang diterbitkan oleh Jurnal Music Therapy Perspectives (1996). Bahkan, sebenarnya tidak hanya dengan mendengarkan musik tertentu, bernyanyi pun dapat membuat tubuh beresonansi akibat getaran yang ditimbulkan pita suara.

Bagaimana dengan klaim gelombang musik tertentu yang dapat menghasilkan oksigen dan membersihkan udara seperti dituliskan dalam Instragram Musik Metafakta Oxytron? Rasanya agak berlebihan dan masih harus ada pembuktian ilmiah. Logikanya sederhana, bunyi adalah getaran atau gelombang yang berambat, gelombang ini tentu tidak dapat memproduksi objek lain termasuk oksigen (yang merupakan molekul) atau menyingkirkan molekul pencemar (karbonmonoksida, karbondioksida, dll).

Yang ada adalah, bunyi merambat dengan perantaraan (molekul) udara yang berupa rapatan dan renggangan molekul tersebut. Perambatan bunyi inilah yang menyentuh gelombang yang terpancar keluar tubuh untuk selanjutnya meresonansi organ tubuh yang bertugas menyerap oksigen agar kembali ke frekuensi alamiah guna menyerap oksigen secara maksimal. Sayangnya, Nuttall dkk lewat Jurnal Hearing Research (1981) menyebutkan, sejauh ini belum ada pengaruh berarti pada penyerapan oksigen oleh plasma, kecuali karena adanya pengaruh tekanan darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika Metafakta Oxytron menyebutkan, nantinya akan ada musik yang sesuai dengan penyakit yang diidap, ini baru mendekati kebenaran, karena tiap organ tubuh memiliki frekuensi alamiah yang berbeda-beda, sehingga untuk meresonansinya kembali ke frekuensi alamiah, juga diperlukan gelombang yang berbeda. Sekalipun demikian, penelitian ilmiah sangat dibutuhkan untuk membuat pernyataan ini valid.

Christina Eviutami Mediastika Guru Besar Ilmu Bangunan dan Akustika Universitas Ciputra Surabaya

(mmu/mmu)