Mengakomodasi Pengetahuan Warga dalam Kebijakan Publik

Jakarta

Peristiwa demi peristiwa tentang kecelakaan lalu lintas kian sering terjadi akhir-akhir ini. Peristiwa nahas yang terjadi di Cibubur menjadi salah satu kejadian yang menyita ribuan mata publik. Jatuhnya puluhan korban jiwa serta korban luka memberikan perasaan traumatik yang teramat besar. Buruknya, kejadian ini nyatanya bukan yang pertama kali, melainkan telah terjadi beberapa kali dan ditempat yang sama.

Serangkaian asumsi pun muncul dalam melihat kejadian ini, mulai dari kelalaian berkendara dari pengendara hingga desain tata lalu lintas yang tidak bersahabat. Asumsi pertama menjadi suatu hal yang tidak dapat diperdebatkan mengingat mayoritas kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh tidak berfungsinya komponen dalam kendaraan. Buruknya pemeliharaan kendaraan ini sudah menjadi rahasia umum.

Namun asumsi kedua menghadirkan narasi pembanding terhadap kecelakaan lalu lintas di Indonesia saat ini. Peristiwa nahas di Cibubur mengindikasikan tentang desain tata lalu lintas yang tidak bersahabat. Desain jalanan yang berada di lajur turunan dan berujung kepada traffic lights menghadirkan kesulitan bagi berkendara untuk mengatur kecepatan.

Publik pun melakukan telaah lebih mendalam dengan melihat kondisi sekitar wilayah kecelakaan yang ternyata menyimpan kepentingan kelas di belakangnya. Alhasil, asumsi ini ditarik lebih jauh yang kemudian memunculkan bukti bahwa kepentingan kelas sosial menengah-atas hadir di dalamnya. Bukti ini yang kemudian menjadi pendukung argumen bahwa terdapat ikatan kepentingan antara pemangku kebijakan serta penghuni sekitar wilayah kejadian yang berasal dari kelas menengah-atas, terutama terkait dengan penataan lalu lintas.

Citizen Sains

Lantas, bagaimana kita menjelaskan ‘pendapat’ publik ini? Mampukah kita mempercayai serta meyakini pernyataan publik? Bagi Leach & Fairhead (2002) kita bisa mempercayai apa yang disampaikan oleh publik mengingat statusnya sebagai citizen science. Pendapat publik menjadi pengetahuan yang memiliki dasar pemahaman yang kuat di mana interaksi, pengamatan serta pengalaman keseharian membentuk bagaimana mereka menilai fenomena (Leach & Fairhead, 2002).

Bangunan pengetahuan ini yang seringkali mendapatkan ruang kontroversi dengan otoritas pejabat publik yang acap mengabaikan pengakuan terhadap pengetahuan-pengetahuan dari publik. Semisal, dalam studi Joks & Law (2017) diceritakan tentang pandangan yang berbeda antara publik dan otoritas ilmiah –ahli biologi yang bekerja dalam pemerintahan– dalam menjaga populasi ikan salmon. Bagi publik, mereka memiliki teknik budi daya turun temurun dari leluhur.

Praktik-praktik ini kemudian menghadirkan kontroversi ketika para ahli biologi hadir dengan menawarkan jenis budi daya yang lebih “saintifik”. Namun cara yang ditawarkan nyatanya tidak jauh berbeda dengan apa yang diyakini penduduk lokal selama ini. Studi ini kemudian mengusulkan agar pengetahuan saintifik (pemerintah) dapat “dilunakkan” dan memberi ruang bagi pengetahuan warga dalam perumusan kebijakan (Joks & Law, 2017).

Merangkul Seluruh Pengetahuan

Terjadinya peristiwa nahas di Cibubur dapat kita lihat sebagai kegagalan para pejabat publik dalam melahirkan tata lalu lintas yang bersahabat dan merangkul seluruh kelas maupun pengetahuan. Perlu diakui juga bahwa peningkatan kecelakaan lalu lintas yang terjadi disebabkan oleh kelalaian pengetahuan saintifik terhadap tata lalu lintas.

Pejabat publik luput untuk mengakomodasi beberapa bangunan pengetahuan warga dalam tata lalu lintas. Peringatan demi peringatan sudah diberikan oleh publik tentang tata letak lampu merah yang tidak sesuai dengan standar yang ada. Alhasil, kecelakaan maut tidak dapat terhindarkan (Dini, W, 2022).

Salah satu sebab tumbuhnya situasi ini dapat terlihat dari tidak terakomodasinya pengetahuan warga dalam perumusan kebijakan publik. Oleh karenanya, dorongan agar pengetahuan warga terakomodasi dalam perumusan kebijakan publik menjadi suatu hal yang wajib diperhatikan. Dengan terlibat dalam sains dan pengetahuan terkait dengan tata ruang, diharapkan dapat memberikan jalur efektif dalam desain tata lalu lintas yang bersahabat.

Arga Pribadi Imawan dosen dan peneliti pada Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Simak juga ‘Sejam Meninggal 3 Orang, Indonesia ‘Darurat’ Kecelakaan Lalu Lintas’:

[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)