Menghilangkan “Toxic Parenting”

Jakarta

Keluarga bagi saya seharusnya menjadi rumah yang menaungi dan tempat untuk pulang. Nyatanya, keluarga tidak selamanya menjadi rumah; kadang keluarga justru menjadi alasan untuk mencari rumah baru. Keluarga haruslah menjadi tempat ternyaman untuk seseorang. Bagaimana bisa sebuah keluarga dapat dikatakan rumah ketika tidak dapat menciptakan rasa nyaman dan aman.

Orangtua, lingkungan, dan pergaulan adalah faktor penentu seseorang akan menjadikan rumah sebagai tempat untuk pulang. Dalam lingkup keluarga, orangtua dapat menjadi faktor utama adanya ketidaknyamanan pada anak. Banyak anak yang memilih untuk pergi atau menginap di rumah orang lain baik itu kerabat ataupun teman lainnya daripada pulang dan tinggal bersama orangtua. Di rumah, mereka tidak merasa seperti layaknya manusia yang merdeka, tetapi layaknya seorang yang terjajah.

Orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak bisa dipungkiri, orangtua sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam keluarga pasti memiliki ego untuk mengatur bagaimana seorang anak berperilaku. Apalagi dari sudut pandang seorang ibu, anak yang dewasa pun akan tetap menjadi anak kecil yang selalu butuh perhatian dan kontrol darinya. Oleh karena itu, tanpa mereka sadari mereka kerap terjebak ke dalam pola asuh yang beracun.

Memaksakan Keinginan

Toxic parenting atau pola asuh yang beracun adalah pola asuh yang berbahaya bagi perkembangan psikologis anak, di mana orangtua mengontrol hampir 100% aspek dari kehidupan anak, yang membuat anak seolah-olah kehilangan hak atas dirinya sendiri. Toxic parenting selalu memaksakan keinginan orangtua meskipun itu bertolak belakang dengan keinginan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orangtua sehingga terjebak dalam toxic parenting, yaitu lingkungan yang buruk dan ada ambisi yang belum sempat terpenuhi sehingga anak harus melanjutkan ambisi itu. Misalnya, karena faktor lingkungan yang buruk, orangtua sering melarang dan mengatur anaknya dalam berpakaian, bepergian, atau bergaul. Bisa jadi dikarenakan adanya ketakutan terhadap anak akan terkena dampak dari lingkungan yang buruk.

Namun, seringkali larangan atau aturan yang diberikan menjadi berlebihan. Orangtua mengatur anaknya untuk berteman dengan orang tertentu saja, mengatur pakaian yang harus digunakan meskipun itu tidak nyaman, mengatur anaknya untuk pulang lebih cepat walaupun ada pekerjaan atau tugas yang tidak bisa ditinggal. Tanpa mereka sadari, anak telah kehilangan hak atas dirinya sendiri. Semua yang dilakukan oleh anak 100% diatur oleh orangtua sehingga membuat anak kaku dan takut dalam mengambil keputusan atau tindakan.

Faktor yang paling sering mempengaruhi tuntutan dari orangtua terhadap anak adalah adanya ambisi yang belum sempat terpenuhi sehingga anak yang harus melanjutkan ambisi tersebut. Saya banyak menjumpai teman-teman saya yang menempuh pendidikan di jurusan yang mereka tidak minati. Ketika ditanya, “Kenapa mendaftar jurusan ini?”, jawabannya selalu, “Karena disuruh orangtua.” Atau, orangtua menyuruh anaknya untuk selalu juara kelas. Ini semua bisa terjadi karena ada ambisi yang belum sempat mereka capai sehingga anak yang dibebankan untuk melanjutkan ambisi tersebut.

Bisa saja kampus atau jurusan yang anak itu tempati adalah kampus atau jurusan yang diminati oleh orangtuanya dulu, tapi belum sempat terpenuhi karena faktor biaya atau karena tidak lulus. Bisa saja orangtua menuntut anaknya untuk menjadi juara kelas karena dulu saat mereka masih sekolah tidak mendapatkan juara kelas, dan mereka menuntut anaknya untuk mendapatkan itu semua. Semua yang dilakukan anak tersebut tidak lebih dari sekadar obsesi dari orangtuanya. Padahal bisa saja anaknya tidak minat dengan jurusan yang dipilihkan orangtuanya, tetapi anak harus tetap mengikuti kemauan itu agar orangtuanya dapat memenuhi obsesinya.

Mempengaruhi Perilaku

Dampak dari toxic parenting membuat anak kaku dan takut dalam mengambil keputusan, anak selalu bergantung pada orang lain, kehilangan percaya diri, selalu berbohong, dan depresi. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku anak dalam kesehariannya. Saya memiliki teman yang orangtuanya menerapkan pola asuh yang toxic. Orangtuanya selalu menuntut dia untuk melakukan yang lebih dari teman-temannya, sehingga apapun dicapai selalu dibandingkan dengan orang lain tanpa diberi apresiasi sedikit pun.

Hal ini membuat teman saya selalu kehilangan kepercayaan diri saat melakukan sesuatu dan selalu bergantung kepada orang lain saat ingin melakukan sesuatu demi memenuhi ekspektasi orangtuanya. Teman saya takut saat mengambil keputusan dan bertindak sendirian, membuat orangtuanya kecewa dan akan menimbulkan rasa bersalah pada dirinya karena tidak memenuhi ekspektasi dari orangtuanya.

Anehnya, orangtuanya selalu marah ketika anak ragu dalam mengambil sebuah keputusan atau tindakan, padahal itu karena ulahnya sendiri. Toxic parenting membuktikan bahwa semua perilaku yang dilakukan orangtua terhadap anaknya akan mempengaruhi semua kehidupan anak dalam kesehariannya.

Ada Batasan

Setiap manusia memiliki hak atas dirinya sendiri. Orangtua berhak mengatur anaknya, tetapi ada batasannya. Orangtua harus memahami anaknya jika sesuatu yang mereka inginkan tidak sesuai dengan apa yang orang uanya minta. Banyak anak yang ragu atau takut dalam melakukan sesuatu karena orangtuanya.

Toxic parenting harus dihilangkan dalam mengasuh anak, karena pola asuh ini sangat melukai psikologis anak. Anak akan mengalami stres dan tidak dapat mengutarakan apa yang mereka rasakan, lebih memilih untuk menyimpan apa yang mereka rasakan daripada bercerita kepada orangtuanya karena takut dimarahi atau tidak diacuhkan.
Banyak anak memilih untuk keluar dari rumah dan bercerita kepada teman-temannya daripada dengan orangtuanya. Namun, saat ingin keluar rumah untuk bertemu dengan teman-temannya, oran tua melarang. Hal ini yang membuat anak berbohong agar bisa keluar dan bermain bersama teman-temannya.

Menurut saya, pola asuh ini sama saja membentuk karakter anak menjadi kaku dan suka berbohong. Layaknya seperti robot yang bergerak kaku dan diprogram untuk selalu berkata bohong. Orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tetapi juga harus tahu batasan dan keinginan anaknya. Memberikan saran boleh saja dilakukan, tetapi tidak bersifat memaksa. Orangtua tahu dan selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi anak juga tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak untuk dirinya sendiri.

(mmu/mmu)