Menyaksikan Upacara “Wiwitan” di Kulon Progo

Jakarta

Masyarakat Jawa dikenal memiliki tradisi yang lekat dengan mistisisme yang juga terefleksikan dalam segala aspek budayanya. Kebudayaan tersebut kemudian terwujud melalui upacara ritual mulai dari tradisi sebelum kelahiran hingga upacara pasca kematian, mulai dari bentuk arsitektur hingga pola pikir masyarakat. Salah satu perwujudan budaya masyarakat Jawa adalah tradisi wiwitan.

Wiwitan merupakan upacara persembahan kepada Dewi Sri sebagai wujud rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang telah diberikan. Wiwitan berasal dari kata wiwit yang berarti memulai. Maksud dari nama upacara ini adalah upacara yang dilakukan sebelum panen dimulai.

Saya berkesempatan untuk ikut dalam upacara wiwitan yang diadakan di Kalurahan Sendangsari, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta bersamaan dengan program KKN kampus yang sedang saya jalani. Upacara wiwitan kali ini berslogan Nandur Opo Sik Dipangan, Mangan Opo Sik Ditandur yang berarti menanam apa yang dimakan, memakan apa yang ditanam. Sedangkan harapan dari diadakannya upacara ini adalah Parine Mentes, Regane Pantes yang berarti padinya berisi, harganya pantas.

Komoditas jenis padi yang ditanam di Kalurahan Sendangsari adalah jenis padi Menor yang berkualitas. Persiapan upacara wiwitan ini disiapkan oleh masyarakat setempat dari jauh-jauh hari. Gunungan sebagai atraksi utama dari upacara bahkan sudah mulai dibangun beberapa hari sebelum jalannya upacara. Para pemuda dan bapak-bapak ditugaskan untuk menyiapkan gunungan, sedangkan ibu-ibu menyiapkan ubo rampe seperti nasi dan ingkung yang diletakkan di atas tampah yang telah dihias menggunakan daun pisang yang nantinya akan dimakan usai acara.

Selain gunungan, para pemuda dan karang taruna juga bertugas untuk memasang bendera di sepanjang jalan menuju lokasi wiwitan serta membuat gapura dari jerami di pintu utama lokasi acara sebagai dekorasi. Mekipun sudah direncanakan jauh-jauh hari, para warga masih sibuk di malam sebelum pelaksanaan acara. Semua bergotong-royong merampungkan seluruh persiapan yang perlu dilakukan guna menyukseskan panen kali ini.

Pada hari pelaksanaan wiwitan, para warga memakai pakaian bertani serta memakai caping. Persiapan acara dimulai dari jam satu siang. Para warga berkumpul di rumah Pak Dukuh untuk menyiapkan segala komponen upacara, mulai dari gunungan, ubo rampe, hingga persiapan Bregodo yakni pasukan prajurit yang mengiringi dan mengawal arak-arakan acara. Bregodo juga memainkan musik untuk mengiringi jalannya upacara wiwitan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gunungan yang menjadi atraksi utama upacara ini dibawa oleh empat orang di tengah-tengah barisan iring-iringan peserta wiwitan. Gunungan terdiri dari aneka sayur-sayuran yang disusun menyerupai gunung. Selain sayur-mayur, uang tunai juga merupakan salah satu komponen yang nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Main prize dari gunungan ini adalah uang tunai senilai Rp 500.000 yang digantungkan di bagian atas gunungan ini.

Upacara Wiwitan dimulai tepat jam tiga sore. Kala itu cuaca sedang mendung. Saya dan teman teman khawatir akan terjadi hujan pada hari penting ini. Langit sudah sangat gelap, tetapi sepertinya hanya kami yang memikirkan apakah nanti akan hujan atau tidak. Usut punya usut, ternyata masyarakat menggunakan penangkal hujan untuk menahan terjadinya hujan yang dapat menghambat jalannya upacara.

Upacara dihadiri oleh masyarakat yang berasal dari berbagai padukuhan di Kalurahan Sendangsari. Selain masyarakat setempat, upacara juga dihadiri oleh rombongan Bupati Kulon Progo sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Upacara diawali dengan masyarakat yang berbaris sambil membawa sesaji dan gunungan yang dipimpin oleh Bregodo di barisan terdepan menuju lokasi upacara yang telah ditentukan.

Setelah iring-iringan sampai di panggung lokasi, beberapa sambutan disampaikan oleh berbagai pihak seperti Lurah Sendangsari, Kepala DPKP DIY, dan perwakilan dari Kabupaten Kulon Progo. Sesi sambutan kemudian dilanjutkan dengan doa dan pemotongan sebagian padi tanda padi sudah siap dipanen. Pemotongan padi yang bersifat simbolis ini diwakili oleh beberapa pihak yang turut mengamini kelancaran panen kali ini seperti dari pihak kabupaten dan kalurahan.

Setelah sesi pemotongan padi, dimulailah sesi makan bersama. Ubo rampe yang telah dipersiapkan kemudian ditata di atas tikar yang telah digelar di lokasi upacara. Sayangnya, karena banyaknya warga yang turut datang memeriahkan, tidak semuanya dapat turut makan bersama di lokasi. Oleh karena itu, selain yang tersaji di atas tampah, ubo rampe tersebut juga ada yang dibungkus di dalam daun pisang untuk dibagikan kepada warga lainnya.

Rampungnya sesi sambutan hingga makan bersama menandakan bahwa puncak acara sebentar lagi akan dimulai yakni perebutan isi gunungan oleh masyarakat. Setelah mengucapkan slogan Nandur Opo Sik Dipangan, Mangan Opo Sik Ditandur, Parine Mentes, Regane Pantes, Menor bak mantra, warga mulai memperebutkan isi gunungan seperti wortel, terong, sawi sendok, kacang panjang, hingga uang tunai. Bagian ini merupakan bagian paling seru bagi masyarakat.

Di tengah-tengah tanah basah, mereka saling memperebutkan sayur-mayur hingga habis tanpa peduli akan baju dan kaki yang kotor terkena tanah. Gunungan yang telah habis diperebutkan menandakan selesainya upacara wiwitan. Upacara ditutup dengan alunan tembang yang dinyanyikan oleh ibu-ibu di atas panggung. Para warga yang masih berada di lokasi turut membersihkan sampah dan membereskan alat-alat yang dipakai sepanjang acara sambil mendengarkan nyanyian.

Persiapan acara yang dilakukan berhari-hari sebelumnya sudah rapi setelah tiga jam pelaksanaan upacara. Masyarakat kembali ke rumah untuk melanjutkan kesibukannya masing-masing. Pengalaman mengikuti wiwitan secara langsung di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan bagi saya. Mengikuti upacara sebagai perwujudan budaya merupakan salah satu upaya saya untuk turut melestarikan berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia.

(mmu/mmu)