Negosiasi Nuklir Berlanjut di Wina Saat Iran Perluas Pengayaan Uranium

Jakarta

Dimulainya kembali pembicaraan program nuklir Iran di Wina, antara negosiator Iran, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) pada Kamis (04/08) tampaknya tidak melibatkan perwakilan tingkat tinggi dari semua negara yang menjadi bagian dari kesepakatan nuklir Iran 2015.

Negosiasi kembali digelar di saat para pejabat negara Barat mengungkapkan skeptisismenya atas kemungkinan untuk memulihkan kesepakatan itu. Diplomat top UE telah memperingatkan bahwa “ruang untuk kompromi tambahan yang signifikan telah habis.”

Negosiator top Iran, Ali Bagheri Kani melakukan pertemuan dengan mediator UE Enrique Mora. Seperti dalam pembicaraan sebelumnya, AS tidak akan bernegosiasi secara langsung dengan Iran. Sebaliknya, kedua belah pihak akan berbicara melalui Mora sebagai mediator.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perwakilan Khusus AS untuk Iran Rob Malley juga hadir dalam negosiasi terbaru ini. Dia mencuitkan tentang pembicaraan itu di Twitter, pada hari Rabu (03/08) menggambarkan bahwa “harapan kami terkendali.”

Mora juga bertemu pada Kamis (04/08) dengan Duta Besar Rusia Mikhail Ulyanov, yang mewakili kepentingan Moskow dalam pembicaraan tersebut. Ulyanov secara terpisah juga bertemu dengan Bagheri Kani.

“Seperti biasa, kami melakukan pertukaran pandangan yang jujur, pragmatis, dan konstruktif tentang cara dan sarana untuk mengatasi masalah terakhir yang beredar,” tulis Ulyanov di Twitter.

Iran bersikukuh dalam proses negosiasi

Teheran melalui kantor berita resmi IRNA, membantah membantah menghentikan upayanya, agar AS menghapus Garda Revolusi paramiliternya dari daftar organisasi teroris yang menjadi prasyarat untuk mencapai kesepakatan.

IRNA juga mengutip pernyataan kepala program nuklir sipil Iran yang mengatakan, kamera pengawas Badan Energi Atom Internasional yang mereka matikan akan diaktifkan kembali, hanya jika Barat menghentikan upayanya untuk menyelidiki jejak uranium buatan manusia yang ditemukan di situs-situs yang sebelumnya dirahasiakan di negara itu.

Dua prasyarat yang diajukan Teheran itu, makin menyulitkan perundingan baru. Namun para pejabat Iran mencoba untuk menyebarkan visi optimis tentang negosiasi terbaru itu, sambil di satu sisi menyalahkan AS atas kebuntuan pembicara tersebut. Mereka khawatir gagalnya pembicaraan dapat membuat mata uang rial Iran jatuh ke posisi terendah.

Kebuntuan gara-gara AS menarik diri sepihak

Iran mencapai kesepakatan nuklir pada 2015 dengan AS, Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, dan Cina. Kesepakatan itu membuat Iran setuju untuk membatasi pengayaan uraniumnya di bawah pengawasan inspektur atom internasional IAEA, dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Akan tetapi Presiden Donald Trump pada tahun 2018 lalu secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan atom tahun 2015, dan kembali menjatuhkan sanksi keras terhadap Iran. Trump juga mengritik kesepakatan yang dicapai pendahulunya sebagai kurang kokoh dan kuat. Setelah AS keluar sepihak dari kesepakatan atom, Iran mulai melakukan kembali aktivitas nuklirnya.

Berdasarkan laporan terbaru IAEA, Iran memiliki persediaan sekitar 3.800 kilogram uranium yang diperkaya. Yang lebih mengkhawatirkan bagi para pakar non-proliferasi adalah, Iran sekarang memperkaya uranium hingga kemurnian 60%, yang berarti merupakan tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya. Artinya, Iran secara teknis, semakin mendekati tingkatan uranium yang bisa digunakan sebagai senjata, yakni kemurnian Uranium 90%.

Para ahli memperingatkan Iran memiliki cukup uranium yang diperkaya hingga pada level 60% untuk diproses lebih lanjut menjadi bahan bakar nuklir ,setidaknya untuk membuat satu bom atom. Namun, Iran masih perlu merancang pembuatan satu bom dan sistem pendukungnya, kemungkinan proyek itu masih berlangsung selama beberapa bulan lagi.

pkp/as (AP)

hit

(ita/ita)