PDIP Dorong Koalisi Tunggal, Golkar Ungkap Komitmen KIB Satukan Kekuatan

Jakarta

PDIP mendorong koalisi tunggal setelah muncul prediksi pihaknya bersama Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bergabung melawan NasDem. Partai Golkar, yang tergabung dalam KIB bersama PPP dan PAN, menyebut koalisi mereka punya janji menyatukan kekuatan politik.

“KIB memiliki komitmen yang kuat untuk menyatukan kekuatan politik tanpa politik identitas dan politik aliran. Kita ingin mengedepankan politik gagasan,” kata Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Jumat (22/7/2022).

Golkar, kata Ace, belum punya ancang-ancang bekerja sama dengan PDIP. Sedangkan mendukung pemerintahan saat ini bersama PDIP, katanya, tetap berlanjut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sejauh ini kami belum ada pembahasan soal berkoalisi dengan PDIP walaupun komunikasi kami sebagai sesama partai pendukung pemerintah sangat baik, ujarnya.

Ace menjelaskan kesibukan koalisi bersama PPP dan PAN ialah menguatkan akar rumput memberikan kesan kepada masyarakat.

“KIB masih terus bergerak di daerah-daerah untuk memperkuat basis agar koalisi ini mendapatkan tempat di hati rakyat,” imbuhnya.

PDIP Dorong Koalisi Tunggal

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno sebelumnya memprediksi KIB, yang terdiri atas Golkar, PAN, dan PPP, bakal berkoalisi dengan PDIP. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto pun bicara soal koalisi tunggal.

“Konteks utama yang dihadapi adalah berbagai persoalan perekonomian rakyat akibat dampak pandemi yang belum selesai dan juga ancaman krisis perekonomian global akibat perang Rusia-Ukraina sehingga memicu ancaman lebih lanjut krisis pangan. Nah, melihat konteks seperti itu, tentu saja bagi PDIP mendorong koalisi semuanya tunggal,” ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto melalui Zoom Meeting, Kamis (21/7).

Apa yang dimaksud koalisi tunggal tersebut?

“Nah, ini sehingga inilah yang ingin didorong PDIP saat ini. Mengingat pendaftaran capres-cawapres itu masih bulan Agustus, sehingga mari kita dorong kerja sama tunggal untuk kemajuan negara. Sehingga ketika pemilu dilaksanakan itu suasana yang betul-betul suasana yang kondusif tidak memungkinkan adanya persoalan-persoalan lain kecuali pesta demokrasi bagi rakyat untuk mencari pemimpin yang terbaik,” jelasnya.

(rfs/gbr)