Pedagang Minta Ada Sosialisasi

pedagang minta ada sosialisasi

Ilustrasi
Pedagang minta ada sosialisasi 1

PURWOKERTO – Perda Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Peredaran Garam Beryodium belum dipahami pedagang pasar tradisional. Sejumlah pedagang mengaku tidak tahu tentang perda tersebut.

Yatin, pedagang di Pasar Sokaraja mengatakan tidak tahu soal perda itu. “Saya tidak tahu, tanya saja ke semua pedagang di sini,” katanya.

Menurutnya, selama ini hanya tahu garam beryodium tapi tidak tahu standarnya seperti apa. “Tahunya ya cuma garam beryodium saja, nggak paham standarnya,” ujarnya.

Terkait sanksi pidana kurungan bagi pedagang yang menjual garam dibawah standar, kata Yatin, terlalu berat. Untuk itu, Yatin meminta ada sosialisasi terlebih dahulu sebelum dilakukan pemantauan. “Kami minta sosialisasi. Kalau ternyata saat pemantauan ditemukan garam yodium tidak standar bagaimana. Kalau sampai dipenjara, kasihan kami karena tidak tahu apa-apa,” jelasnya.

Ngato pedagang di Pasar Wage Purwokerto menuturkan hal senada. Menurutnya, selama ini pedagang hanya menjual garam beryodium tapi tidak tahu standar garam yodium seperti apa. “Jualan cuma garam beryodium, entah sesuai standar atau tidak saya tidak tahu,” ungkapnya.

Dia juga berharap, sebelum pemantauan sebaiknya pedagang diberi tahu merek apa saja yang tidak sesuai standar. “Kami minta sosialiasasi daftar merek yang tidak sesuai standar,” jelasnya.

Seperti diketahui, sesuai Perda Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Peredaran Garam Konsumsi Beryodium di Kabupaten Banyumas, akan dilakukan pemantauan pada tanggal 23 Maret. Dalam Perda tersebut sesuai isi Bab V Ketentuam Pidana Pasal 6 ayat 1 disebutkan, barang siapa melanggar ketentuan pasal 4 diancam pidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

Dalam pasal 4 disebutkan, pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan garam konsumsi yang tidak memenuhi standar mutu. Garam yang memenuhi standar yaitu garam dengan kandungan yodium antara 30-80 PPM. (mif/sus)

Sumber: