Pengacara Keluarga: Brigadir J Dimakamkan Kedinasan Itu Fakta, Dia Dihormati

Jakarta

Pengacara istri Irjen Ferdy Sambo, Arman Hanis, menyesalkan pemakaman Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J digelar secara kedinasan. Pengacara pihak keluarga Brigadir J buka suara terkait hal tersebut.

Pengacara keluarga Brigadir Yoshua, Johnson Panjaitan, upacara kedinasan pemakaman ulang Brigadir J merupakan hal yang sudah semestinya dilakukan. Sebab, Brigadir J masih tercatat sebagai anggota Polri.

“Faktanya Brigadir J itu dimakamkan secara kedinasan, itu fakta. Dia masih anggota Polri yang dihormati. Kalau anggota Polri, dimakamkannya pakai upacara Polri dong,” kata Johnson saat dihubungi, Kamis (28/7/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Johnson juga menanggapi perihal pernyataan Arman yang menyebut Brigadir Yoshua sebagai terduga pelaku tindak pidana. Menurutnya, perbuatan yang dituduhkan terhadap Brigadir Yoshua belum terbukti secara hukum.

“Terkait tuduhan segala macamnya, itu kan masih persepsi. Artinya, itu belum terbukti secara hukum. Sebenarnya di luar kewenangan, itu keputusan di pihak kepolisian,” ucap Johnson.

Sebelumnya, pihak istri Irjen Ferdy Sambo menyesalkan pemakaman ulang Brigadir J atau Nofriansyah Yoshua Hutabarat yang digelar dengan upacara kedinasan. Menurut pengacara, Arman Hanis, Brigadir J diduga melakukan perbuatan tercela sehingga tidak layak dimakamkan secara kepolisian.

Dia mengacu pada Pasal 15 ayat 1 Perkap Nomor 16 Tahun 2014. Pemakaman jenazah secara kedinasan merupakan wujud penghormatan dan penghargaan terakhir terhadap anggota Polri yang gugur. Berikut selengkapnya bunyi pasal tersebut:

“Upacara pemakaman jenazah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf i, merupakan perwujudan penghormatan dan penghargaan terakhir dari bangsa dan negara terhadap Pegawai Negeri pada Polri yang gugur, tewas atau meninggal dunia biasa, kecuali meninggal dunia karena perbuatan yang tercela.”

“Bahwa jelas dalam perkap tersebut tegas disebutkan meninggal dunia karena perbuatan tercela tidak dimakamkan secara kedinasan,” kata Arman Hanis dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (28/7/2022).

Dalam kasus ini, Brigadir J merupakan terlapor dugaan kekerasan seksual, sehingga, menurut Arman, Brigadir J tidak seharusnya dimakamkan secara kedinasan. Brigadir Yoshua sendiri tewas dalam baku tembak di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7).

Baku tembak itu diduga terjadi antara Brigadir Yoshua dengan Bharada E. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas kasus ini.

Jenazah Brigadir Yoshua juga diautopsi ulang pada Rabu (27/7). Seusai autopsi ulang, jenazah dimakamkan lagi dengan upacara kepolisian.

(rak/haf)