Penjual Pakaian Bekas Gang 1 Kebondalem

penjual pakaian bekas gang 1 kebondalem

bertahan  sudah hampir 40 tahun, nardo berjualan pakaian bekas. ali ibrahimradarmasMeski Sepi, Tetap Berjualan Selama 40 Tahun

Perkembangan fashion ternyata tidak mematahkan semangat para penjual pakaian bekas impor atau lokal. Bahkan ada yang sudah berjualan pakaian bekas hingga puluhan tahun.

ALI IBRAHIM, Purwokerto

Saat melintas Gang 1 Kebondalem, terlihat pedagang berjajar menunggui lapaknya. Ada sekitar delapan pedagang. Dengan sabar mereka menunggu pembeli di antara tumpukan pakaian bekas yang digelar di lapak.

Sejak pagi hingga hampir menjelang siang, lapak yang berukuran tak kurang dari 1 meter tersebut jarang dikunjungi pembeli. Ya, Selasa (19/1) kemarin, lapak para pedagang memang terlihat sangat sepi.

Dikatakan Nardo Rudiyanto (54), dulu cukup banyak pedagang yang berjualan di sepanjang Gang 1. Namun saat ini sudah banyak yang gulung tikar. Nardo merupakan salah satu pedagang yang memilih bertahan. Meskipun penghasilan yang didapatnya tidak menentu.

“Kadang ramai, tapi tak jarang juga sepi. Sehari biasanya dapat untung kurang dari Rp 100 ribu,” kata bapak tiga anak ini.

Menurut Nardo, sepinya pembeli hingga adanya pemberhentian impor baju bekas oleh pemerintah pusat, tidak membuatnya berhenti usaha. Bahkan sudah hampir 40 tahun dia menjual pakaian bekas.

“Pelan-pelan saja saya jualnya. Walaupun mulai sepi, tapi masih banyak pelanggan yang datang,” ujarnya.

Diakui Nardo, larangan dari pemerintah untuk menjual pakaian bekas cukup berpengaruh terhadap usahanya. Bahkan pernah tak ada satupun pembeli yang datang selama berhari-hari. Padahal pakaian bekas yang dijualnya, dijamin Nardo bersih.

“Sebelum dijual, kita cuci berulang kali sampai benar-benar tidak ada noda atau virus penyakit yang menempel. Selama ini belum ada keluhan dari pembelinya karena terkena penyakit kulit. Kita tetap perhatikan kebersihannya. Kalau baju tersebut tidak layak jual, langsung dibuang,” jelasnya.

Nardo menuturkan, pakaian bekas yang didapatnya berasal dari sumber yang jelas. “Maksudnya ini saya dapatkan barang ini bukan dari hasil tindakan yang tidak benar seperti misalnya mencuri, bukan. Tapi memang ada yang jual kesini,” terangnya.

Untuk pakaian bekas mulai dari baju sampai celana berbagai ukuran, dijual dengan harga bervariatif. Mulai Rp 15 ribu sampai ratusan ribu rupiah. “Ya cukup untuk menyambung hidup,” kata Nardo yang sudah menjual pakaian bekas sejak 1976.

Bertahanya Nardo dan pedagang lainnya di usaha baju bekas tak lain karena adanya pelanggan “setia” yang memang suka membeli bekas. Ataupun yang memang hanya mampu membeli baju-baju bekas.

Sunaryo merupakan salah satu yang suka beli baju bekas. Dia tidak takut dengan peringatan pemerintah yang mengatakan bahwa baju bekas sumber penyakit. Sebab dia belum mendapat kabar, masyarakat Purwokerto terkena penyakit akibat memakai pakaian bekas.

“Masih aman-aman saja kok, tidak ada masalah. Karena saya memang senang dengan pakaian bekas. Selain itu kalau pulang ke kampung bisa dijual lagi, dan barangnya tak kalah dengan produk yang baru,” ungkap warga asli Jogja ini.

Dia pun menyayangkan adanya peraturan pemerintah yang melarang pakaian impor bekas maupun barang lainnya masuk ke Indonesia, sebab kualitas barang impor sangat baik daripada baju buatan dalam negeri. “Kalau pakaian bekas yang impor itu mau dicuci atau diapain ya seperti itu, tidak akan berubah warnanya. Makanya sejak lama saya suka,” ujarnya. (*/sus)

Sumber: