Penutupan “Gang Sadar” Bukan Solusi Terbaik

penutupan

gang sadarTerkait Target Bebas Prostitusi

PURWOKERTO – Rencana Pemkab Banyumas untuk menutup tempat prostitusi seperti Gang Sadar (GS), agaknya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Pasalnya, rencana tersebut harus didahului dengan komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang terlibat langsung di dalamnya.

Hal itu perlu dilakukan untuk menyusun langkah dan solusi yang terbaik, agar rencana pemerintah dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyumas dr H Ridwan MAg mengatakan, pada prinsipnya sikap MUI Banyumas setuju dengan adanya rencana tersebut. Hanya saja, perlu diimbangi proses pendahuluan dan pendekatan kepada masyarakat yang berada di sekitar GS.

“Harapannya dengan adanya komunikasi tersebut dapat dicari jalan terbaik. Jangan sampai malah menimbulkan dampak yang lebih berbahaya,” jelasnya.

Dia mengatakan, selama tidak menyimpang dari ajaran agama, MUI tetap mendukung pemerintah. Namun pemerintah diharapkan dapat menekan angka prostitusi di Banyumas. “Praktik prostitusi memang tidak dapat dihindari. Namun dengan adanya sikap tegas dari Pemkab, paling tidak praktik tersebut dapat diminimalisir,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Kades Karangmangu, Cucud Waluyo. Menurutnya, komunikasi dengan warga menjadi salah satu hal yang terpenting dalam upaya tersebut. Meski demikian dikatakan, penutupan juga bukan menjadi solusi yang terbaik, mengingat beberapa warga masih memiliki pemukiman tetap di wilayah tersebut.

“Sosialisasi harus dilakukan sedini mungkin, agar masyarakat dapat lebih mempersiapkan diri,” katanya.

Dia mengatakan, sampai saat ini jumlah warga yang terdata di kompleks GS mencapai 200 orang. Namun sebagian besar masyarakat di wilayah itu berasal dari luar daerah.

Terkait dampak terhadap wisata yang ada di wilayah Baturraden, Cucud mengatakan tidak akan terlalu berpengaruh. Pasalnya, segmentasi pariwisata berbeda dengan praktik prostitusi. “Namun yang jelas, sampai saat ini lokasi itu masih berupa kos-kosan. Terkait anggapan masyarakat yang menganggap lokasi tersebut lokalisasi, itu juga tidak bisa disalahkan,” tegasnya. (bay/sus)

Sumber: