Persiapan Tim Ekspedisi Soedirman VI Kibarkan Merah Putih di Gunung Tertinggi Peru

persiapan tim ekspedisi soedirman vi kibarkan merah putih di gunung tertinggi peru

Bagi masyarakat Indonesia, merah putih bukan hanya diartikan sebagai warna bendera saja. Banyak yang berlomba-lomba untuk mengibarkan bendera di seluruh puncak pegunungan yang ada di dunia. Hal itu akan menjadi kebanggaan, apalagi dikibarkan bersamaan saat Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus. Tahun ini, tim Ekspedisi Soedirman VI berkesempatan mengibarkan merah putih di gunung tertinggi yang berada di Peru.

BAYU INDRA KUSUMA, Purwokerto

kaki Adalah Gunung Huascarán yang menjulang tinggi 6.768 meter di atas permukaan laut, yang menjadi tujuan dari tim Ekspedisi Soedirman VI. Dari segi geografis, Gunung Huascarán adalah gunung tertinggi di Peru, dimana puncak gunung tersebut selalu diselimuti salju. Jika dibandingkan seluruh wilayah di Amerika Selatan, puncak gunung tersebut merupakan tertinggi keempat.

Tim yang terdiri dari empat mahasiswa Unsoed, saat ini terus melakukan persiapan karena mereka hanya memiliki waktu kurang dari empat bulan. Mereka adalah Aji Kurniawan yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Hesti Nugrahani dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dwi Novian Arbi dari Fakultas Hukum, dan Arizal Maulana dari Fakultas Hukum yang tercatat sebagai anggota Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam (UPL MPA) Unsoed.

Wakil Ketua Umum UPL MPA Unsoed, Reza Kunarto mengatakan, medan yang akan dihadapi para pendaki sangat berbeda dengan geografis di Indonesia. Sadar akan hal itu, berbagai persiapan seperti fisik dan mental terus digenjot untuk meraih mimpi tersebut.

“Latihan fisik dan praktik lapangan di jalur pendakian Gunung Slamet melalui pos Bambangan, menjadi salah satu kegiatan rutin untuk mempersiapkan fisik dan mental,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa hal tambahan yang diberikan kepada keempat calon pendaki, termasuk beberapa teknik mendaki, bertahan hidup, dan menyelamatkan diri.

Lebih lanjut, calon pendaki juga melatih keterampilan masing-masing dalam mempraktikan jalan menggunakan crampoon, ice axe, moving together, dan praktik self rescue, dibawah bimbingan salah satu anggota senior, Krisna Andresta. Dia merupakan mantan pendaki Ekspedisi Soedirman V yang berhasil mengibarkan sang saka merah putih di Cartenz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Dia menjelaskan, crampoon adalah alas sepatu dari besi yang mempunyai ‘taring’, taring ini berguna untuk mencengkram es agar pemakai tidak mudah terpeleset. “Terlihat sederhana, namun keterampilan untuk menggunakannya sangatlah penting. Sebab medan yang akan dihadapi pendaki adalah salju tebal yang menyelimuti gunung tersebut,” katanya.

Tidak hanya itu, calon pendaki juga dilatih teknik moving together yang merupakan teknik berjalan di medan salju secara berurutan. Setiap orang dihubungkan dengan tali statik sebagai pengaman dengan panjang kurang lebih 40 meter, dan jarak untuk masing-masing anggota tim yaitu 10-12 meter. Hal itu bertujuan untuk melindungi salah satu dari tim apabila terjatuh dari crevasse atau retakan/rekahan yang tertutup oleh salju.

Tidak hanya itu, ada juga latihan jungle running untuk memaksimalkan fisik calon pendaki. Jungle running adalah latihan dimana pendaki harus mendaki sampai tujuan yang ditentukan dalam waktu secepat mungkin.

“Tidak hanya mengibarkan bendera merah putih saja, tetapi para pendaki diharapkan dapat membawa wayang kulit ke puncak Gunung Huarascan, yang merupakan salah satu warisan kebudayaan Indonesia,” tegasnya.

Sejauh ini UPL MPA Unsoed sudah lima kali menggelar Ekspedisi Soedirman. Ekspedisi pertama dilakukan di tiga lokasi yaitu Tebing Parang, Purwakarta Jawa Barat, Goa Luweng Jaran Pacitan Jawa Timur, dan Rawa Laut Segara Anakan, Cilacap Jawa Tengah yang dilakukan pada tahun 1991.

Adapun ekspedisi kedua yaitu ke Jayawijaya tahun 1996, namun gagal karena masalah non teknis, meskipun pendaki saat itu sudah berada di Papua. Ekspedisi ketiga yaitu di Gunung Elbrus, Rusia pada tahun 2005. Selanjutnya ekspedisi keempat ke Gunung Kilimanjaro di Tanzania tahun 2009, dan ekspedisi kelima di Jayawijaya puncak Carstenz Pyramid, Papua tahun 2012. (*/sus)

Sumber: