Pilih Sembunyikan Status karena Takut Dikucilkan

pilih sembunyikan status karena takut dikucilkan

kakiPerjuangan Para ODHA yang Belum Sepenuhnya Diterima Masyarakat

Menyandang status sebagai Orang Dalam HIV AIDS (ODHA) bukan hal yang mudah. Diskriminasi dari lingkungan masih kerap didapat. Sehingga banyak ODHA yang memilih menutup rapat statusnya tersebut. Meski ada juga yang berjuang keras memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap diterima dan tidak dikucilkan.

HIDAYAH

, Purwokerto

Salah satu ODHA yang hingga kini belum “berani” membuka statusnya adalah Y. Takut tidak diterima oleh lingkungan yang menjadi alasan Y. Dan itu dilakukan sejak dia divonis positif HIV/AIDS pada Oktober 2014 hingga saat ini.

“Tidak banyak berubah, karena saya belum open status ke lingkungan. Namun pasti akan menyebar. Sehingga saya perlu mengedukasikan kepada yang lain,” kata pria yang bekerja sebagai karyawan swasta ini.

Diceritakan Y, penularan HIV/AIDS bisa terjadi dari beberapa hal. Seperti hubungan seksual atau jarum suntik. “Kalau saya karena hubungan seksual. Kebetulan waktu itu saya tidak memakai pengaman, sehingga virus tersebut menyerang saya,” ujarnya.

Hal tersebut memang sangat disayangkan, karena dari awal dia sudah tahu cara penularan HIV/AIDS. Bahkan empat bulan sekali dia melakukan tes VCT. “Awalnya tidak ada gejala apa-apa. Tapi setelah melakukan hubungan berisiko tersebut ada perubahan. Yang terlihat jelas terjadi suam suam kulit pada telapak tangan. Selain itu juga muncul sariawan yang tidak sembuh-sembuh. Setelah saya tes ternyata saya positif,” tuturnya.

Status sebagai ODHA sempat membuat Y down. Ini karena perlakuan kurang baik yang diterima dari lingkungan. Meskipun ada juga yang memberikan support. “Sampai saat ini saya belum berani open status terhadap keluarga. Suatu saat saya pasti bilang. Ketika saya open status, saya akan tetap bertanggung jawab dengan keluarga,” katanya.

Dengan “status” yang disandangnya saat ini, kini Y mulai membatasi pergaulannya. Bahkan diapun mulai “mengenal” jam malam. “Saya sebenarnya bukan termasuk yang suka dugem atau keluar malam. Tapi memang sering keluar malam dan biasanya pulang jam 12 malam. Setelah tahu positif, saya tahu diri. Jadi balik pukul 10 malam,” terangnya.

Masih “sempitnya” lingkup ODHA karena tidak mau membuka statusnya, membuat muncul komunitas bagi para ODHA. Pendamping ODHA, Rozak Abidin mengatakan, berbagai hal sebenarnya sudah dimiliki ODHA. Mulai dari kelompok pendamping hingga kesehatan. Namun hal tersebut belum masif, sehingga diperlukan kelompok yang bisa menampung keluh kesah ODHA.

“Selain sebagai ajang kumpul ODHA, kelompok tersebut juga memacu ODHA untuk terus berkembang,” katanya.

Menurut Abi -begitu dia biasa disapa- dari ajang berkumpul akhirnya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk ODHA itu sendiri. Salah satunya dari segi ekonomi. Karena banyak ODHA yang dilatih untuk unit usaha. Salah satunya mendirikan Forum Jaringan Berdikari Banyumas.

“Sebenarnya secara teori mereka sudah dapatkan. Namun untuk praktiknya belum. Sehingga dalam kelompok ini mereka benar-benar diasah untuk mendapatkan sesuatu yang real,” ujarnya. Untuk memberikan pembekalan unit-unit usaha, ODHA dipilah-pilah berdasarkan bakat dan kemampuan.

Saat ini, lanjut dia kelompok tersebut menampung ODHA dari lelaki berisiko tinggi, Ibu Rumah Tangga, dan gay. Ke depan, tidak menutup kemungkinan transgender untuk bergabung.  “Awalnya memang ibu rumah tangga karena jumlahnya yang cukup banyak. Namun ternyata banyak dari kelompok lain yang ingin bergabung,” terangnya.

Selain meningkatkan unit usaha, kelompok tersebut juga memberikan solusi terkait kesehatan ODHA. Salah satunya jika kekurangan obat. “Kami juga membantu. Karena ODHA sangat tergantung sekali dengan obat. Jika kekurangan obat, jelas mereka akan sangat tersiksa. Karena hidup mereka sangat bergantung dengan obat,” ujarnya. (*/sus)

Sumber: