PLTPB Ikut Sebabkan Banjir Lumpur

pltpb ikut sebabkan banjir lumpur

Muncul Aksi Corat Coret di Posko PT SAE

PURWOKERTO- Megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturaden dinilai menjadi salah satu penyebab banjir bandang lima sungai di Banyumas. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Banyumas masih melakukan evaluasi.

Namun, kekecewaan terhadap PT Sumber Alam Energy (SAE) sebagai pengelola proyek sudah dilampiaskan warga. Mereka melakukan aksi protes dan corat-coret posko milik PT SAE di Kecamatan Cilongok.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Banyumas, Ir Didi Rudwianto SH mengaku belum dapat memastikan penyebab pasti banjir bandang. “Air semalam memang meluap. Kaitanya dengan SAE, Pak Camat (Cilongok, red) sedang mengevaluasi di lapangan,” kata dia singkat, Senin (16/10).

pltpb ikut sebabkan banjir lumpur 1

Pemkab Banyumas telah membentuk Forum Komunikasi Desa Terdampak megaproyek PLTPB Baturaden. Didi menjadi koordinator di tingkat kabupaten. Sementara, camat Cilongok sebagai koordinator lapangan.

Sementara itu, Camat Cilongok Lukman Hakim saat dikonfirmasi mengakui adanya pengaruh PLTPB Baturraden terhadap banjir bandang yang terjadi. Pengaruh yang ditimbulkanh proyek tersebut kaitannya dengan banyaknya lumpur yang dibawa banjir bandang di Sungai Prukut.

“Sebenarnya hari kemarin banjir kan tidak hanya di Sungai Prukut saja, tapi Sungai Pelus dan di sungai di Baturraden juga meluap jauh lebih besar. Artinya seluruh Banyumas kemarin sungai meluap. Bahwa itu dampak dari sana (PT SAE) itu ada, karena ada beberapa hutan yang dibuka. Cuma memang karena sudah dibuka, ada air berarti kan lumpur kebawa. Logikanya kan seperti itu. Nah cuma sekarang sedang ditangani bagaimana dengan dampak itu diminimalisasikan,” terangnya.

Tapi PT SAE bukan satu satunya penyebab. Lukman menilai penyebab utama adanya banjir bandang di wilayah Banyumas lebih karena hujan yang cukup besar di bagian utara Banyumas.

“Semua itu karena curah hujan yang diluar batas sehingga seperti itu. Meski ada dampak daripada penebangan hutan diatas saja. Namun sekarang juga sedang ditangani PT SAE,” tandasnya.

Aksi Protes

Di bagian lain, meluapnya sejumlah sungai di wilayah Banyumas seperti sungai Banjaran, Prukut, Logawa dan di tempat wisata Baturaden memicu masyarakat kembali protes ke PT SAE. Mereka mencorat-coret dan memasang spanduk di Posko PT SAE Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Minggu (15/10) malam.

Salah satu warga Dodi mengatakan, selama ini masyarakat melakukan aksi protes tetapi tidak pernah direspon PT SAE. Mereka mendesak PT SAE menghentikan aktivitasnya dalam pembangunan PLTPB Baturaden. Pasalnya sebelum pelaksanaan pembangunan sumur, sudah berdampak pada keruhnya air sungai di wilayah Cilongok sejak November 2016 lalu.

pltpb ikut sebabkan banjir lumpur 3

“Banyak protes warga untuk dihentikannya proyek tersebut. Belum sampai pembangunan sumur sudah ada air keruh karena pembangunan jalan dengan membuka lahan hutan. Protes yang selama ini disampaikan tidak pernah direspon sampai akhirnya kejadian alam yang membuktikan bahwa pembukaan lahan hutan berakibat pada kejadian meluapnya air sungai,”katanya, Senin (16/10).

Aksi protes masyarakat, lanjut Dodi, diduga dilakukan malam hari saat posko sudah tutup. Latar belakang pencoretan tembok posko dan pemasangan spanduk dipicu kejadian meluapnya air sungai terutama di wilayah Cilongok dengan kandungan lumpur yang banyak.

“Seperti banjir lumpur karena air sungai meluap dengan warga cokelat pekat. Kalau hari-hari biasa warna cokelat pekatnya tidak seperti kemarin. Warga menilai bahwa ada banjir lumpur,”katanya.

Sementara , Kapolsek Cilongok AKP Warsono melalui Wakapolsek Iptu Haryatmo menjelaskan, kejadian banjir di sejumlah sungai yang mengalir dari wilayah lereng Gunung Slamet membuat masyarakat langsung melampiaskannya kepada PT SAE . Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, petugas dari Polsek dan Koramil Cilongok menjaga ketat posko PT SAE.

“Hari ini (kemarin red), posko PT SAE tutup dan tidak ada aktivitas seperti biasa. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, posko kami jaga bersama anggota TNI. Spanduk dan coretan masih dibiarkan,”katanya.

Comunity Relationship PT SAE, Riyanto Yusuf dikonfirmasi terpisah mengatakan, hingga sore kemarin tim teknis dari perusahaannya masih melakukan identifikasi perkembangan dampak dari banjir bandang. Khususnya yang terjadi di wilayah Sungai Prukut dan lokasi proyek di Gunung Slamet.

“Hasil tim teknis nanti kita laporkan ke camat dan Muspika, dan untuk keterangan pers lebih jauh sedang disampaikan pihak manajemen di Jakarta tadi (kemarin),” katanya.

Dia juga belum bersedia menanggapi soal munculnya kemarahan warga yang melakukan aksi corat-coret di posko PT SAE di Desa Karangtengah Cilongok. (why/gus/dis)

Sumber: