Salman al-Farisi

Jakarta

Dikisahkan oleh Khalid Muhammad Khalid. Saat Salman menjadi amir sebuah negeri yang membawahkan sejumlah kota. Saat itu Salman berjalan dan bertemu seseorang yang kelelahan membawa karung berisi buah tin dan kurma, lelaki ini datang dari negeri Syam. Lelaki ini tidak menemukan seorang dari kalangan jelata untuk diupah membawakan barangnya.

Akhirnya dia merasa menemukan seseorang dan melambaikan tangan untuk memanggilnya. Ketika orang yang dipanggil sudah menghadap, maka lelaki itu berkata, ” Bawakan bawaanku ini.”

Orang itu memanggulnya dan berjalan bersama lelaki itu, ketika berpapasan dengan beberapa orang, dan orang itu mengucapkan salam pada mereka, kemudian mereka berhenti dan mengucapkan salam dengan hormat, ” Semoga salam ( keselamatan ) menyertai amir kami.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lelaki yang datang dari Syam penasaran. ” Keselamatan menyertai amir kami? Siapa Amir yang mereka maksud? Ia tambah bingung ketika sejumlah orang buru-buru mau mengambil bawaan suruhannya dengan berkata, ” Tak usah engkau yang membawanya, wahai Amir kami.”

Akhirnya lelaki itu menyadari bahwa orang yang diminta memanggul barangnya adalah seorang Amir. Ia menyesal dan bingung, meluncurlah kata-kata meminta maaf dan merebut barang bawaannya. Namun Salman menggeleng kepala dan berkata, ” Tidak. Aku memanggulnya sampai tujuanmu.”

Seorang pemimpin yang pada kebiasaannya selalu dilayani bukan melayani, meskipun selalu didengungkan sebagai pelayan masyarakat. Dorongan perbuatan Salman membantu memanggul barang bawaan seseorang tentu ada kekuatan akhlak yang tersimpan dalam dirinya. Kondisi bahwa lelaki tersebut tidak mengenal Salman sebagi Amir, memberikan keuntungan sehingga Salman bisa melayani dan meringankan lelaki itu.

Penulis menilai menjadi seorang Amir seperti Salman al-Farisi mempunyai dua kekuatan :

1. Mempunyai kesabaran. Dalam hal ini ada tiga tahapan. Pertama, sebelum melakukan tindakan amal ( bantu meringankan bawaan ) hendaknya meluruskan niat, membulatkan tekad agar amalannya sempurna terlaksana. Niat sangat penting karena hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda, ” Amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan balasan sesuai yang diniatkan. Orang-orang yang taat dan selalu menyembah-Nya, selalu berniat untuk menjalankan perintah-Nya dengan keikhlasan.

Kedua, sabar saat beramal ( memanggul ) tidak terburu-buru menyeleseikannya hingga amal tersebut sempurna. Salman dengan tetap konsisten memanggul barang itu meskipun beberapa orang meminta menggantikannya. Sedangkan lelaki itu setelah tahu orang yang diminta bantuan adalah seorang Amir, maka iapun merebut barang untuk dibawahnya sendiri, namun Salman katakan barang tersebut dibawanya sampai tujuan.

Seorang Amir tentu selalu mengingat firman-Nya dalam surah ali-Imran ayat 136 yang berbunyi, ” Itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.”

Ketiga, sabar setelah beramal adalah tidak memberitahukan amalannya kepada orang lain. Hal ini dilakukan agar terhindar dari rasa ujub, sum’ah dan riya. Ingatlah firman-Nya, ” Jangan hilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut atau menyakiti perasaan orang yang menerima.” ( QS. al-Baqarah ayat 264 ). Ada orang bijak mengatakan, ” Perbuatan baik hanya sempurna dengan tigal hal : segera dilaksanakan, dianggap kecil dan dirahasiakan.”

2. Mempunyai sikap rendah hati. Seorang pemimpin yang rendah hati akan lebih mudah dapat melayani masyarakat. Tindakan Salman membantu membawakan barang lelaki itu telah menunjukkan sikapnya yang rendah hati. Adapun pemimpin yang rendah hati ada beberapa keunggulan seperti : Menggairahkan lingkungan kerjanya. Suasana kerja jauh dari ketegangan dan memberikan rasa nyaman. Mudah diikuti oleh para pembantunya. Kuncinya pada komunikasi. Lebih transparan dan memberdayakan orang lain.

Penulis berharap, para pemimpin negeri ini hendaknya mempunyai dua kekuatan yakni sabar dan rendah hati. Jika keduanya tidak dijalankan akan berakibat makin banyaknya para pemimpin yang berurusan dengan penegak hukum. Tulisan ini penulis tutup dengan senandung syair :

Tahukah bahwa rendah hati itu berbeda dengan rendah diri.
Rendah hati merupakan pakaian bagus bagi orang-orang besar.
Rendah hati bagi yang miskin merupakan kebiasaan sehari-hari.
Rendah diri hanyalah sikap pengantar bagi pecundang.
Ketika kau bersopan santun, anggaplah orang lain lebih baik.
Hindari dirimu duduk pd alas tinggi, karena air mengalir pd alas rendah.
Janganlah taruh dirimu serendah menjadi hina.
Sang Pencipta menyukai orang bersikap lemah lembut, terhadap orang Mukmin.
Dan rendahkanlah dirimu pada orang sekeliling yg beriman.
Semoga Sang Pencipta menjaga sikap lemah lembutmu.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

Simak juga ‘Panen Berlimpah Melon Inthanon di Ponpes Solo’:

[Gambas:Video 20detik]

(erd/erd)