Serangga Antarkan Imam Widhiono Jadi Guru Besar

serangga antarkan imam widhiono jadi guru besar

serangga antarkan imam widhiono jadi guru besar
Pengukuhan Prof Dr rer nat Imam Widhiono MZ MS menjadi guru besar dalam bidang ilmu entomologi. IDA/RADARMAS

PURWOKERTO-Bertempat di Gedung Soemardjito, Jum'at (26/10) kemarin digelar pengukuhan Prof Dr rer nat Imam Widhiono MZ MS menjadi guru besar dalam bidang ilmu entomologi. Dalam sidang terbuka senat tersebut dipaparkan mengenai strategi pemanfaatan dan pelestarian serangga penyerbuk melalui rekayasa ekosistem.

Dalam sambutannya Rektor Universitas Jenderal Soedirman Prof Dr Ir Suwarto MS mengatakan, dengan dikukuhkannya menjadi guru besar, Prof Dr rer nat Imam Widhiono MZ MS tercatat sebagai guru besar ke 66 di Unsoed dan ke 14 di lingkungan Fakultas Biologi Unsoed.

“Prof Dr rer nat Imam Widhiono MZ MS sebagai profesor dalam bidang ilmu Entomologi pada Fakultas Biologi Unsoed,” jelasnya.

Dalam sambutannya, rektor Unsoed tersebut mengatakan, seorang akademisi diharapkan dapat berperan untuk memajukan peradaban dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan. Dalam konteks inilah, maka pemikiran prof Imam Widhiono tentang pemanfaatan dan pelestarian serangga penyerbuk melalui rekayasa ekosistem perlu mendapatkan apresiasi.

“Mengapa demikian? Fungsi polinasi atau penyerbukan oleh serangga sangatlah penting dalam peningkatan kualitas produksi tanaman,” jelasnya.

Peningkatan ini kiranya dapat dilihat sebagai potensi yang memililki nilai tambah bagi masyarakat, dan dapat dimanfaatkan dalam upaya perubahan kualitas kehidupan menuju arah yang lebih baik. Prof Dr rer nat Imam Widhiono MZ MS menambahkan, tanaman untuk mengasilkan buah harus melakukan perkawinan. Perkawinan tersebut bisa dibantu oleh beberapa hal. Seperti angin, gafitasi bumi dan juga serangga.

“Dari data menunjukkan jika penyerbukan dengan bantuan serangga paling banyak. Angkanya menyentuh 80 persen,” katanya setelah usai acara pengukuhan.

Namun saat ini, akibat beberapa hal terjadi penurunan jumlah populasi serangga tersebut. Untuk itu, adanya rekayasa ekosistem tersebut diharapkan bisa meningkatkan populasi serangga tersebut.

Konsep rekayasa ekosistem tersebut juga sangat simpel, mudah dan tidak membutuhkan biaya besar. Hanya dengan membiarkan, tepian parit atau “galengan” tidak disemprot herbisida akan membantu meningkatkan populasi serangga itu.

Hasilnya, dengan sistem pertanian terbuka bisa meningkatkan produksi 16 sampai 19 persen. Namun jika dilakukan dalam sistem pertanian modern, hasilnya bisa mencapai angka 30 persen.

Sebagai Dekan Biologi, Imam juga menghimbau agar para dosen mempunyai semangat untuk mengikuti jejaknya. Dia berharap setiap satu tahun, ada satu dosen yang menjadi guru besar.

“Sebagai dekan saya memfasilitasi, sebagai guru besar saya mendorong agar banyak lagi bermunculan guru besar-guru besar lainnya,” tutupnya. (adv/ida)

Sumber: