Terang-terangan Debat PDIP Vs NasDem yang Memanjang

Jakarta

Debat politik panjang terang menderang melibatkan dua partai dalam koalisi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Wapres Ma'ruf Amin. PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai NasDem terlibat debat panjang dari mulai partai sombong hingga ‘tak usah pemilu'.

Debat terbaru, berawal dari Ketum Partai NasDem Surya Paloh menyampaikan orasi ilmiah saat penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Brawijaya. Dalam orasinya, Paloh memandang lebih baik pemilu tak perlu digelar apabila berujung pada perpecahan bangsa.

“Politik identitas menjadi good ketika dia menjadi ciri dari sebuah partai politik atau kelompok politik. Namun tidak membuat dirinya eksklusif dan tak mau mengenal yang lain, sebaliknya mereka telah mampu bersikap inklusif,” kata Paloh di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Senin (25/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, Paloh menentang politik identitas yang buruk. Dia mengatakan politik identitas yang buruk akan berujung pada politik kebencian.

“Politik identitas yang buruk atau yang tidak baik adalah kebalikan dari yang baik tadi. Mereka bersikap eksklusif dan tidak mau mengenal yang lain. Yang menjadi masalah adalah politik identitas yang buruk. Dia bukan hanya buruk tapi juga merusak,” ujarnya.

“Praktik politik semacam ini selain tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, juga membuat kita lupa seolah manusia hanya memiliki satu identitas belaka. Kerusakan model ini pada gilirannya akan membawa politik identitas menjadi politik kebencian,” lanjutnya.

ketua dpr puan maharani berselfie bersama ketum pdip megawati soekarnoputri, dan ketum nasdem surya paloh.Ketua DPR Puan Maharani berselfie bersama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Ketum NasDem Surya Paloh. (Dok Instgaram @puanmaharaniri)

Paloh mengatakan praktik politik identitas yang buruk dalam mengejar kemenangan pemilu pada akhirnya akan mempertaruhkan persatuan bangsa. Berdasarkan argumentasinya itu, Paloh lantas memandang lebih baik tak perlu ada pemilu kalau berujung pada perpecahan bangsa.

“Terlalu pendek akal kita, terlalu tinggi nafsu kita, jika untuk memenangkan pemilu, kita harus mempertaruhkan persatuan dan kesatuan bangsa. Bagi saya pribadi, lebih baik tidak perlu ada pemilu kalau memang konsekuensi pemilu itu berujung pada perpecahan bangsa,” katanya.

NasDem Tegaskan Surya Paloh Hanya Refleksi

NasDem memberikan penjelasan terkait pernyataan Surya Paloh yang bilang lebih baik tak usah pemilu jika berujung perpecahan. Waketum NasDem Ahmad Ali mengatakan pernyataan Surya Paloh itu didasari keresahan karena masih adanya polarisasi.

“Itu kan rangkaian pidato dia dan kemudian dia menceritakan perjalanan bangsa kemudian mekanisme pemilihan kepala daerah yang dilakukan 5 tahun sekali. Kemudian di akhir-akhir kita melihat polarisasi pasca pemilu itu kan begitu kencang kan, kemudian mengancam perpecahan,” kata Ali kepada wartawan, Selasa (26/7).

“Kalau kemudian akibat pemilu itu membuat bangsa ini pecah, bercerai berai. Lebih baik nggak usah pemilu, supaya nggak jadi itu maka pemilu ini kita harus kedepankan bukan hanya kepentingan diri kita, tapi kepentingan untuk memperkecil terjadinya perpecahan itu,” lanjut Ali.

Ali menegaskan apa yang disampaikan Surya Paloh bukan ide untuk menghilangkan pemilu. Dia menekankan hal itu refleksi Surya Paloh meminimalisir perpecahan.

“Bukan satu ide, jadi pernyataan Pak Surya itu bukan berarti punya ide untuk meniadakan pemilu, tapi artinya pesannya itu kita ingin pemilu ini mempersatukan,” ujarnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Lihat Video: Polemik Usul Surya Paloh Tak Usah Pemilu Kalau Berujung Perpecahan

[Gambas:Video 20detik]