Toni Wijaya, Salah Satu Atlet Menembak Berprestasi

toni wijaya, salah satu atlet menembak berprestasi

Dulu Jago Alam Liar, Kini Tak Tega Tembak Binatang

Usia boleh tua, namun untuk prestasi tidak kalah dengan atlet muda. Hal inilah yang terlihat pada sosok Toni Wijaya, seorang atlet menembak yang sudah berusia 42 tahun pada 15 Mei lalu.

YUDHA IMAN PRIMADI, Purwokerto

Pembawaannya tenang. Dengan sepucuk senapan di tangannya, dia terlihat gagah layaknya seorang penembak jitu. Siapa sangka dibalik sosoknya yang kalem, Toni merupakan sosok pribadi yang menyenangkan dan welcome kepada siapapun yang baru dikenalnya. Termasuk kepada Radarmas yang sengaja menemuinya di sela-sela latihannya di hall menembak.

toni wijaya, salah satu atlet menembak banyumas berprestasi

“Saat ini sedang cuti kerja, jadi bisa latihan sepuasnya. Kalau sudah seperti ini, 500 peluru bisa habis satu hari latihan. Sayang hari ini pelurunya kurang bagus. Sasarannya menjadi acak. Kebetulan peluru yang biasa saya beli buatan dari Ceko sedang kosong. Jadinya harus memakai kualitas peluru dibawahnya,” katanya.

Suami dari Erni Rohyani ini menurutkan, dulu dia merupakan seorang penembak dengan hobi hunting atau berburu. “Sebelumnya memang suka hunting hewan. Macam-macam mulai dari unggas sampai binatang berkaki empat saya habisi. Kalau mengingat masa-masa itu, sadis juga. Saking asyiknya, satu hari bisa bedil 30 unggas. Niat awalnya cuma satu ekor,” ucap Toni.

Bergabung di olahraga menembak sejak 2010, Toni mengaku sudah stop berburu. Setelah menjadi bagian dari klub menembak Baracuda Purwokerto yang terdaftar dalam keanggotaan Perbakin Banyumas, dia justru merasa sedih ketika harus menghabisi nyawa binatang.

“Sekarang malah kasihan. Menembak siluet metal saja yang berbentuk hewan sudah cukup. Inilah salah satu sisi positif dari olahraga menembak. Daripada berburu di alam liar, lebih baik disalurkan melalui menembak. Apalagi saat ini, jumlah pemburu lebih banyak daripada yang diburu,” tuturnya.

Belasan kali menjadi juara pada berbagai open turnamen, Toni kini mampu menguasai senapan pompa dan gas. Bahkan dari hasil jerih payahnya, Toni telah dapat membeli sepucuk senapan gas bermerek HW 100 buatan Jerman seharga tidak kurang dari Rp 23 juta.

“Saya beli senapan itu tahun 2012. Kalau sekarang senapan gas Vanwert Bow FWB 800 sama-sama buatan Jerman yang kurang lebih sejenis harganya sudah tembus Rp 54 juta. Tetapi menembak tidak hanya berbicara alat. Seorang penembak yang didukung dengan senjata secanggih apapun, tidak akan bisa menjadi penembak jitu jika belum bisa menguasai lapangan dan dirinya sendiri,” terang Toni.

Menurut Toni, kebanggaan sebagai seorang penembak bukanlah diukur dari banyaknya hasil buruan. Menjuarai belasan kali open turnament menembak dan berhasil menjadi kontingen menembak Banyumas dalam ajang sekelas Porwildulongmas, justru menjadi sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benak Toni sebelumnya.

“Dua anak saya, Candrika Citra Nandita (13) dan Tantra Adinata Narendra (11) juga mulai suka menembak. Tidak ada paksaan untuk mereka. Yang terpenting bagi saya, menekuni olahraga yang ada klubnya,” tutur Toni.

Prestasi yang pernah dicapai Toni di antaranya mendapatkan dua perak pada kelas multi ring dan tiga posisi di ajang Porwildulongmas 2015, juara 2 dan 3 Pertamina Aniversary tahun 2012 dan 2013 di Cilacap serta juara 3 kelas multi ring Piala Kasat Brimob Polda Jateng di Brimob Simongan Semarang pada November 2015. (*)

Sumber: