Traveling Sekaligus Mengajar di Sekolah Pelosok

traveling sekaligus mengajar di sekolah pelosok

Melihat Kegiatan Komunitas 1.000 Guru Regional Purwokerto

Dalam berbagi, tidak harus materi. Yang penting mampu menciptakan senyuman. Inilah yang dilakukan oleh Komunitas 1.000 Guru Regional Purwokerto.

ALI IBRAHIM, Purwokerto

Guru yang baik adalah guru yang menginspirasi muridnya, yang bangga dengan senyum murid-muridnya. Dan yang tanpa mengharapkan pamrih. Hal itu yang diharapkan oleh komunitas 1.000 Guru Regional Purwokerto.

“Komunitas ini berawal dari kondisi siswa SD di pedalaman yang kekurangan. Berawal dari twitter, akun twitter @1000_guru yang dibentuk pada 22 Agustus 2012 oleh Jemi Ngadiono. Pada akhirnya komunitas ini melakukan aksi sosial nyata dengan turun langsung membantu pendidikan anak-anak pedalaman negeri,” kata Ketua 1.000 Guru Regional Purwokerto, Dwi Ardi Meilana.

Ia menjelaskan, komunitas ini menggabungkan travelling dan pendidikan. Tujuan kedatangan 1.000 guru bukan untuk membangun fisik sekolah, melainkan membangun mental dan cita-cita siswa sekolah dasar di daerah. Komunitas 1000 guru tidak sekedar menawarkan perjalanan yang menarik, anggotanya bisa melakukan kegiatan sosial dengan mengajar di sekolah-sekolah, khususnya di pedalaman.

“Tentunya, bagi sebagian besar anak muda yang tinggal di kota besar seperti saya, hal ini adalah sesuatu yang patut dicoba. Apalagi yang pada dasarnya suka traveling dengan gaya backpacking,” ujar Ardi.

Komunitas 1.000 Guru Regional Purwokerto diresmikan pada 1 November 2015. Program yang telah dijalankan yakni travelling dan teaching yang diadakan selama tiga hari (Jumat-Minggu), karena banyak peserta profesional muda. Kegiatan yang dilakukan adalah mengunjungi sekolah di pedalaman, mengajar (fun learning) anak-anak SD, mengajak mereka bermain, dan saling berbagi inspirasi.

“Tempat menginap? Di sekolah, beralaskan lantai, dan kamar mandi seadanya. Ini yang membuat unik dan dapat menjadi pengalaman berharga. Banyak peserta yang yang mendapat pelajaran akan makna hidup,” lanjut Ardi.

Pencapaian terbesar komunitas ini ketika melihat anak muda peserta traveling and teaching mendapatkan manfaat dari perjalanan mereka. Bahkan mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli lingkungan, dan lebih memperhatikan pendidikan.

Kedepannya, komunitas ini berharap tidak ada lagi nasib sekolah yang kekurangan guru, guru kekurangan penghasilan, dan murid yang tidak mendapatkan pendidikan dan fasilitas layak di Indonesia.

“Travelling dan teaching sudah diadakan di SDN 2 Windujaya, Kalisalak, Kebasen dan SDN 2 Petahunan, Pekuncen. Selama sehari, anggota 1.000 guru yang datang dari berbagai profesi dengan latar belakang pendidikan yang bermacam-macam berbagi ilmu pengetahuan dan motivasi,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pemberian motivasi diberikan secara personal. “Seperti saat di SDN 2 Windujaya Desa Kalisalak, banyak sekali cerita. Ada anak-anak yang berangkat pagi dari sekolah, tanpa pamitan dengan orang tuanya karena bekerja di ladang. Ketika kembali, orangtua sudah lelah sehingga kurang memotivasi anak-anak dalam kegiatan belajarnya,” ungkapnya.

Di daerah seperti NTT, Lampung pun keadaannya sama. “Fungsi kami disini sebagai kakak yang memperhatikan cita-cita mereka, berbagi pengalaman dengan adik-adik pedalaman, ” kata Ardi.

Menurutnya, saat ini sudah ada 35 regional 1.000 Guru yang tersebar di seluruh Indonesia. Dibukanya regional 1000 Guru di Purwokerto bertujuan untuk meningkatkan pendidikan di daerah sekitar Banyumas, Jawa Tengah juga Indonesia. Meski di Jawa Tengah sudah ada 1000 Guru Regional Semarang, tidak menutup kemungkinan akan terjalin kerjasama antar regional-regional 1000 guru.

Kegiatan pertama diikuti 30 orang dari berbagai profesi mulai dokter, desain interior, peneliti, pelaut, guru, mahasiswa dan pekerja swasta. Dalam kegiatan tersebut puluhan “pengajar dadakan” dapat merasakan mengajar dan berbagi kepada masyarakat, yang terdapat di pelosok Kabupaten Banyumas.

“Para anggota atau yang biasa kami sebut volunteer mengaku prihatin dengan keadaan SDN 2 Petahunan, yang sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bantuan baru akan turun di tahun 2016 ini, tanpa tahu bulan apa,” tambah Ardi.

Dari 109 siswa, beberapa di antaranya ada yang rumahnya jauh dari sekolah dan harus berjalan kaki selama 1 jam. “Mereka sangat bersemangat untuk mendapatkan ilmu, walaupun bangunan di SDN 2 Petahunan hampir roboh,” ungkapnya.

Dia berharap, proses mengajar di Petahunan bisa diperbaiki lagi. ”Saya berharap agar pemerintah mau lebih memperhatikan kualitas pendidikan,” pungkasnya. (*/sus)

Sumber: