Ukraina Peringati Kemerdekaan, Tepat 6 Bulan Sejak Invasi Rusia

Jakarta

Sudah enam bulan berlalu sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina. Banyak warga Ukraina mengangkat senjata sebagai upaya melawan agresor. Jutaan pengungsi, mayoritas perempuan dan anak-anak, terpaksa meninggalkan negara itu. Mereka yang tidak pergi ke luar negeri atau bergabung dalam pertempuran pun harus membiasakan diri dengan kehidupan selama masa perang.

Seorang anggota Garda Nasional Ukraina, seorang seniman dari Kyiv, dan seorang pengungsi dari Mariupol membagi kisahnya kepada DW bagaimana mereka menghabiskan enam bulan terakhir.

“Aku tidak ingin kembali ke neraka itu”

Seorang anggota Garda Nasional Ukraina, dengan kode panggilan militer “Buddhis” dari Kyiv, yang bertempur di wilayah Donbas timur menceritakan:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebelum perang, saya bekerja sebagai penerjemah di sebuah perusahaan IT yang sukses. Saya sudah berpangkat letnan junior, karena di perguruan tinggi saya memiliki spesialisasi menjadi penerjemah militer. Sama seperti banyak penduduk Kyiv, selama delapan tahun terakhir perang di Donbas, hasil akhirnya masih tampak jauh; saya tidak terlalu memahami dengan apa yang terjadi di timur jauh itu.

Perang di Donbas yang berlangsung selama beberapa tahun itu merupakan konflik yang sedang berlangsung sejak 2013 antara separatis pro-Rusia dan pasukan Ukraina di wilayah Donetsk dan Luhansk.

Dan kemudian, pagi hari tanggal 24 Februari, saya mendengar sirene udara dan gemuruh roket Rusia. Di media sosial, saya membaca postingan tentang ancaman pasukan Rusia memasuki kota saya dan postingan lain tentang pembentukan unit perlawanan dadakan. Saat itulah saya pergi dan bergabung dengan orang-orang yang menggali parit dan membangun pos pemeriksaan. Pasukan pertahanan teritorial memberi kami senjata saat kami sedang bertugas, dan kami akan pulang untuk tidur.”

“Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya tidur dengan benar, meskipun saya mencapai titik di mana saya hanya bisa pingsan selama beberapa jam. Dan kemudian saya akan bangun lagi karena mendengar gelombang ledakan, detonasi yang memekakkan telinga, dan saya akan kembali bertugas. Kami ditinggalkan di sana, penuh rasa khawatir, selama satu setengah bulan.”

“Di garis depan saya mengerti keadaan perang yang sebenarnya, dan sekarang saya tidak peduli dengan berita atau pendapat yang diberikan oleh para ahli militer. Saya mengajukan diri untuk berada di garis depan, tetapi sekarang saya tidak ingin kembali ke neraka itu.”

“Saya merasa lelah, emosi membuncah”

Svetlana Bogachenko, seorang seniman dan sukarelawan di Kyiv, memaparkan:

“Banyak orang yang saya kenal meninggalkan Kyiv pada 24 Februari, tetapi saya tidak bisa begitu saja meninggalkan warga sipil yang telah bergabung dengan pasukan pertahanan teritorial tanpa rompi, helm, pakaian dalam termal, atau perlengkapan lainnya. Negara tidak dapat menyediakan pasokan untuk semua orang. Satu-satunya harapan adalah sukarelawan. Hampir tidak mungkin membeli semua yang dibutuhkan, banyak toko tutup. Anda harus mencari perlengkapan di negara-negara Eropa lainnya, juga di Kanada dan Amerika Serikat. Pikiran untuk melarikan diri ke bagian Ukraina yang lebih aman atau ke negara lain tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, tidak ada waktu untuk itu.”

“Pada minggu-minggu pertama setelah 24 Februari, saya berebut mencari persediaan untuk pejuang pertahanan teritorial, militer, dan sukarelawan yang bertempur di Irpin, Bucha, dan Hostomel (dekat Kyiv), dan juga untuk menyediakan makanan untuk warga dan orang tua di Kyiv. Di malam hari saya akan membawa kopi, teh, dan permen untuk anak laki-laki di pos pemeriksaan.”

“Saat ini, saya merasa lelah, emosi membuncah. Saya baru bisa kembali melukis dalam beberapa minggu terakhir, tetapi tidak ada orang yang menjual gambar di Ukraina sekarang. Saya hidup sepenuhnya dari bantuan anak saya dan teman-teman saya. Semua yang saya kumpulkan digunakan untuk membeli apa yang diperlukan untuk tentara dan upaya itu menyelamatkan banyak nyawa di sana.”

“Kami sangat mencintai kota kami”

Alina Kovailova, seorang pengungsi dari Mariupol yang saat ini tinggal di dekat Hamburg sejak April lalu, mengisahkan:

“Selama enam tahun terakhir, saya bekerja di departemen periklanan sebuah pusat medis besar di Mariupol. Perusahaan itu hancur saat pertempuran. Suami saya dulu bekerja sebagai operator derek di pabrik (baja) Azovstal dan dalam beberapa tahun terakhir dia masuk ke bisnis perdagangan barang-barang rumah tangga. Kami hidup dengan baik.”

“Di Mariupol, putra kami yang berusia 9 tahun, Alexander, duduk di kelas empat. Kami sedang mempersiapkan perayaan besar untuk kenaikannya ke tingkat yang lebih tinggi, sesuatu yang meriah, sesuatu yang menarik.”

“Kami sangat mencintai kota kami. Kami tidak pernah berpikir untuk pergi ke mana pun. Namun, perang mengubah segalanya.”

“Kami sudah berada di Jerman sejak 29 April lalu. Kami berkendara ke sini dengan mobil selama delapan hari. Yang terpenting adalah kita aman di sini, dan putra kami tidak lagi melihat neraka perang. Selama dua bulan terakhir anak saya tidur dengan normal. Setidaknya ketika dia pergi tidur, dia tidak lagi mengatakan dia takut dia akan mati.”

“Sulit untuk membangun kehidupan di Jerman; semuanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Kami masih tinggal di hotel, karena kami tidak dapat menemukan apartemen, meskipun mengirimkan belasan aplikasi setiap hari. Sangat sulit untuk menemukan tempat tanpa memiliki pekerjaan. Kami tidak bisa bekerja karena kami masih belum memiliki izin tinggal dan izin untuk bekerja. Dan begitu kita mendapatkannya, masih akan sulit untuk mencari pekerjaan tanpa mengetahui bahasanya. Kami mengikuti kursus bahasa Jerman beberapa kali dalam seminggu, kursus yang diadakan oleh para sukarelawan. Kami berterima kasih kepada Jerman karena menerima kami. Dan kami masih bermimpi untuk kembali ke Mariupol suatu hari nanti.”

(ha/pkp)

hit

(ita/ita)