Urgensi Penyelamatan Arsip Bencana Banyumas

Terhubung Dengan Masa Lalu

Melalui penelusuran arsip Memorie van Overgave diketahui bahwa Banyumas pernah
mengalami bencana banjir pada tanggal 21-23 Febuari 1861. Dalam arsip verslag
politiek (laporan politik) diceritakan bagaimana Sungai Serayu yang mengaliri
Keresidenan Banyumas dari arah timur laut ke barat daya membelah secara diagonal,
mencapai ketinggian melebihi posisinya di arah utara akibat banjir bandang.

Fakta sejarah ini tersimpan rapih dalam Inventaris Arsip Banyumas milik Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI). Arsip tentang bencana banjir Banyumas, sekaligus menjadi
dasar pijak dalam penelitian dan pengetahuan yang dapat mengkonfirmasi kesamaan
karakteristik bencana yang terjadi di Banyumas hari ini.

Merujuk pada Data dan Informasi Bencana Indonesia, intensitas kejadian bencana
cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 saja tercatat sekitar 91%
kejadian bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir,
kekeringan, puting beliung, dan tanah longsor.

Tak terkecuali Banyumas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas merilis statistik bahwa selama kurun Januari hingga September 2021 telah terjadi 217 bencana alam. Kerugian material mencapai 1,1 milyar. Terbanyak adalah banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Dan pada Senin (14/3/22) kemarin, banjir telah merendam sejumlah
kecamatan di Banyumas.

Kondisi Obyektif

Dalam World Risk Report (2016), Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan
tingkat risiko bencana yang tinggi. Hal tersebut disebabkan tingginya tingkat
keterpaparan (exposure) dan kerentanan (vulnerability) terhadap bencana. Bahkan
hampir 75% infrastruktur industri dan konektivitas dasar di Indonesia, termasuk sarana
pendukungnya dibangun pada zona rawan bencana.

Hal ini menyebabkan tingginya kemungkinan kerusakan pada aset infrastruktur yang meningkatkan pengeluaran operasional serta penambahan biaya akibat penyediaan layanan alternatif. Semua ini berdampak pada kinerja ekonomi yang diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2013, sebanyak 80%
kabupaten/kota atau setara 322 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota di seluruh
Indonesia, merupakan daerah dengan tingkat risiko tinggi terhadap bencana.

Banyumas menempati peringkat 36 dengan skor 207,2 dan berada pada kelas dengan
tingkat rsiko tinggi terhadap bencana. Dan pada IRBI tahun 2019 yang dirilis oleh badan
nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Banyumas melompat ke peringkat 18
dengan status yang sama, yaitu resiko tinggi terhadap bencana.

Hilangnya Memori Kolektif

Bencana alam di Banyumas yang bersifat hidrometeorologi, seperti banjir, tanah
longsor, dan angin kencang, selain dapat mengancam keselamatan jiwa, juga dapat
berdampak pada rusaknya fasilitas penunjang kehidupan. Sehingga, dampak dari
bencana kerap dikaitkan dengan kerugian dalam satuan angka-angka yang
berdimensi ekonomi.

Terkait ini, patutlah bencana tsunami di Aceh (2004) menjadi sebuah pelajaran. Tsunami telah menyapu semua yang ada diatas permukaan tanah Aceh. Tak terkecuali semua arsip yang dimiliki oleh instansi pemerintah, ormas/orpol, BUMD, dan swasta, serta keluarga yang merupakan entitas terkecil.

Dalam kondisi tersebut, dimana semua arsip hilang, maka hilang pula (1) bukti hak
keperdataan masyarakat, (2) bukti kinerja dan bahan pertanggungjawaban
pemerintah, dan (3) memori kolektif masyarakat.

Dalam kaitan dengan ketiga dampak yang diakibatkan oleh hilangnya arsip akibat
bencana, maka pemangku kepentingan perlu memikirkan dan menyusun langkahlangkah penyelamatan arsip kebencanaan. Langkah tersebut dapat diletakkan pada
tahap (1) pra bencana (peningkatan kompetensi SDM), (2) tanggap darurat (task
force), dan (3) pasca bencana (restorasi arsip).

Dengan memasukkan (penyelamatan) arsip dalam arus utama kebijakan
penanggulangan bencana di Banyumas, maka pemerintah daerah sejatinya telah
memberikan perlindungan terhadap hak keperdataan masyarakat, menyelamatkan
bukti kinerja dan bahan pertanggungjawaban, dan juga menyelamatkan memori
kolektif masyarakat terhadap Kabupaten Banyumas.

 

Fauzan Anyasfika
Peneliti Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN)