Wajib Remas Bambu Sebelum Dimakan

wajib remas bambu sebelum dimakan

kakiAhmad Solihin, Pembuat Jenang Bumbung dari Bukit Tranggulasih

Panorama matahari terbit di Bukit Tranggulasih, tengah menarik perhatian masyarakat yang kerap ber-selfie ria. Kawasan dataran tinggi itu memang dipilih untuk sekadar menghilangkan penat dari ramai dan bisingnya kota. Namun ternyata, di bukit tersebut juga terdapat makanan khas yang dapat dikonsumsi sambil menikmati pemandangan kota Purwokerto dari ketinggian, yaitu jenang bumbung.

BAYU INDRA KUSUMA, Purwokerto

Seperti namanya, jenang bumbung hampir sama dengan kebanyakan jenang lainnya. Hanya saja ada perbedaan yang sangat mencolok, yaitu dari teknik pembuatan dan media jenang.

“Dikatakan jenang bumbung karena dibuat dengan cara dimasukkan ke dalam bambu tali. Dan ini menjadi makanan khas disini,” ujar Ahmad Solihin, penjual sekaligus pembuat jenang bumbung di Bukit Tranggulasih, Desa Windujaya Kecamatan Kedungbanteng.

Meski tidak setenar Bukit Tranggulasih, jenang bumbung saat ini sudah mulai dikenal masyarakat. Menurut Solihin, awalnya jenang bumbung dibuat saat ada perayaan atau hajatan. Namun seiring berjalannya waktu, jenang bumbung mulai terpinggirkan.

Dengan memanfaatkan momen ramainya Bukit Tranggulasih, Solihin berupaya mengenalkan kembali jenang bumbung yang sudah dibuatnya secara turun temurun.

Dijelaskan, hal yang membedakan dengan jenang pada umumnya yaitu dipakainya bambu dalam proses pemasakan. “Kalau jenang biasa dimasak menggunakan wajan besar, kalau jenang bumbung, memasaknya di dalam batang bambu. Proses pembakarannya juga tidak boleh sembarangan agar matangnya merata. Kalau jenis bambunya menggunakan bambu tali,” ujarnya.

Untuk adonan, Solihin mengatakan, sama dengan pembuatan jenang biasa. Yaitu tepung terigu, gula kelapa, serta parutan kelapa dicampur menjadi satu. Untuk pengolahannya, adonan tersebut dimasukkan ke dalam bambu yang sebelumnya sudah dilubangi dibagian ujungnya.

Menurutnya, perlu ketelatenan dan teknik khusus untuk membakar jenang. Terutama agar mendapat kualitas jenang bumbung yang baik. Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pembakaran jenang dilakukan dengan menggunakan daun kelapa yang sudah mengering, atau disebut klari dalam bahasa Banyumas.

“Pembakaran butuh waktu 2-3 jam. Sebelum disajikan, jenang dipotong-potong agar mudah dimakan. Dipotongnya bersamaan dengan bambunya,” jelasnya.

Solihin menjual jenang bumbung sepanjang 6-10 cm dengan harga Rp 1.500 per batangnya. Tidak hanya itu, cara makan jenang bumbung juga cukup unik. Dengan cara meremas bambu yang berada di luar sampai pecah, sebelum dimakan.

Dengan sedikit sensasi serbuk bambu, jenang bumbung bisa jadi salah satu makanan yang wajib saat berada di Bukit Tranggulasih. (*/sus)

Sumber: