Warga Serang Swadaya Bangun Palang Pintu di TKP Odong-odong Maut

Serang

Warga di Kampung Silebu, Kecamatan Kragilan, membangun palang pintu di lokasi odong-odong tertabrak kereta yang menewaskan 9 orang. Palang pintu dibangun karena selama ini lokasi kecelakaan maut itu tanpa palang dan rambu peringatan.

“Dibuat swadaya masyarakat, anjuran kepala desa,” kata warga setempat bernama Dian, Kamis (28/7/2022).

Penjaga palang pintu, katanya, dilakukan bersama-sama secara bergantian. Sampai nanti ada petugas yang diturunkan dan resmi dari petugas Pemkab Serang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Memberdayakan masyarakat yang ada saja,” ujarnya.

Warga lain, RW Suheri, menambahkan palang pintu baru dipasang warga pukul 03.00 WIB tadi pagi. Warga sepakat gotong royong dan mau menjaga palang pintu agar tidak terjadi kecelakaan serupa.

“Hari ini baru beroperasi, yang jaga nanti masyarakat aja,” paparnya.

Sebelum ada palang, jika kereta lewat, warga memang hanya teriak memperingati. Jalur kereta di sini adalah kereta lokal Merak-Rangkasbitung dan sebaliknya.

“Sekarang ada palangnya, alhamdulillah beres dibuat jam 3 pagi tadi,” pungkasnya.

Pada Rabu (27/7) kemarin, Direktur Keselamatan Perkeretaapian Kemenhub Edi Nursalam mengkritik Pemda Serang karena tidak memasang rambu dan palang pintu di TKP odong-odong tertabrak kereta di Silebu, Kecamatan Kragilan. Itu katanya adalah tanggung jawab pemda pada perlintasan sebidang.

“Yang wajib mengevaluasi adalah pemilik jalan, ini kan jalan kabupaten, jadi bupati wajib mengevaluasi perlintasan sebidang minimal setahun sekali,” kata Edi di lokasi.

Pemkab Serang harus berperan aktif untuk menyelamatkan warganya dari kecelakaan. Pascakecelakaan dan menewaskan 9 orang, Kemenhub sudah menutup perlintasan sebidang tapi malah dibongkar kembali.

“Kemarin sudah kita tutup melalui PT KAI, tapi dibongkar lagi, saya nggak tahu siapa yang bongkar, saya sudah dapat tadi kiriman dari ketua KNKT perlintasan sudah ditutup,” jelasnya.

Rambu-rambu peringatan di perlintasan sebidang ia tegaskan jadi tanggung jawab Pemda Serang. Di lokasi, rambu-rambu peringatan malah kosong.

Padahal ini sudah diatur di Undang-Undang 22 Tahun 2009. Di sana diatur rambu harus dipasang di bagian kanan dan kiri, ada marka jalan, pita penggaduh, ada suara peringatan saat kereta melintas.

“Itu wajib dipasang pemda, ini sama sekali nggak ada. Sesuai peraturan peraturan perundang-undangan tanggung jawab pemda, tanggung jawab pemilik jalan, ini perlintasan tanpa izin, dibikin sendiri oleh masyarakat kemudian difasilitasi Pemda dengan pengecoran ini kemudian tanpa rambu-rambu peringatan bahwa di sini ada perlintasan,” paparnya.

(bri/mae)